
"Tolooong...tolooong...tolongin Meldi, siapa pun yang mendengar tolong keluarkan Meldi dari sini...!" Teriaknya semakin keras, hingga ia serak dan pandangan matanya mulai kabur hingga kegelapan menyapanya.
"Tuan...tuannn...tuannn...!" Kata Sari mengetuk-ngetuk ruang kerjanya Alghi.
"Apa kau sudah menemukan nona muda?" Ucap Anton membuka setelah membuka pintu.
"Belum...tapi digudang bawah tanah terdengar suara yang menggedor-gedor pintu tuan..." Ucap Sari ingin terlihat seperti orang yang berjasa.
"Benarkah? Lalu kenapa kau tak melihat dan membukanya...?" Kata Anton menatap tajam.
"Karena saya tak tahu kuncinya yang mana, saya juga takut kalau sendiri kesana tuan..." Ucap Sari.
"Ok kita kesana sekarang, bersama tuan muda...ku memberitahukannya dulu..." Ujar Anton sedikit berbahagia karena hampir menemukan titik terang, sebab etah kenapa semua cctv mendadak mati, membuat Alghi semakin geram, etah siapa pelaku yang merusak semua cctv itu.
"Bos si Sari mendengar suara gedoran pintu tadi digudang bawah tanah, sebaiknya kita cek kesana..." Ucap Anton.
"Hah gudang bawah tanah? Benarkah? Kalau begitu ayo kita kesana, cepattt...!" Kata Alghi girang, berharap iatrinya segera ditemukan, tapi dia tak habis pikir bagaimana bisa istrinya ada digudang bawah tanah, hanya orang-orang yang bertahun-tahun tinggal dirumah itu yang mengetahui keberadaan gudang tua tersebut. Dan itu adalah tempat nenek moyangnya menyimpan barang-barang yang tak terpakai lagi.
"Ah..." Alghi menepis segala pikirannya, yang penting dia hanya ingin menemukan sang istri secepat mungkin.
Mereka pun turun kebawah gudang tersebut, bersama Anton, Sari, Bu Ani dan juga beberapa pengawal lainnya. Sangat jauh memang tempat itu, dan jarang orang masuk kesana bahkan hampir tak dijamah.
Anton menyalakan lampu lorong, yang stop kontaknya tersembunyi, mereka menuju pintu gudang itu, namun tak terdengar suara apa pun.
__ADS_1
"Buka ton...cepat..." Kata Alghi.
"Ok bos..." Ucap Anton.
Anton pun membuka kunci pintu besi tersebut, namun pas membuka pintu itu agak susah didorong, seperti ada yang menghalangi dibelakang.
"Bos sepertinya dibelakang pintu ada benda yang menghalangi, ni agak susah didorong." Kata Anton.
"Minggir biar ku dorong perlahan..." Ucap Alghi maksa.
Anton pun mundur, dan Alghi mencoba mendorong pintu tersebut, benar saja agak susah, namun Alghi paksakan perlahan hingga pintu itu sedikit terbuka, cukup masuk tubuh saja, Alghi pun segera masuk.
"Apa ini...?" Ucap Alghi, ada sesuatu dibawah langkah kakinya, yang hampir saja ke injak karena pas belakang pintu, dan digudang itu benar-benar sangat gelap.
Semua orang disana sangat shock melihat keadaan Ameldita, kaki dan tangannya penuh darah baju kotor rambut acak-acakan, dengan cepat Alghi meraih tubuh itu, dia benar-benar tak menyangka, itu adalah istrinya.
"Sayang...apa yang terjadi? Kenapa bisa ada disini? Oh my God...!" Ucap Alghi shock berat, dia memeluk tubuh tak berdaya itu penuh perasaan sedih, merasa sakit melihat keadaan sang istri, dia pun meraba denyut nadi ditangannya, Alhamdulillah masih normal.
"Siapa yang berani melakukan hal ini padamu sayang...aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri..." Teriak Alghi sambil terus memeluk tubuh sang istri, karena tak mungkin Ameldita berjalan sendiri ke gudang itu, buat apa? Menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, meraba keadaan perut lalu mengelusnya.
"Sayang semoga kalian baik-baik saja disana, yang kuat ya..." Kata Alghi, menitikkan air matanya hati dan jiwanya benar-benar sakit melihat apa yang menimpa sang istri tercintanya, lalu dia mencium keningnya.
"Anton telpon dokter, suruh membawa peralatan medis ke rumah cepat...!" Ucap Alghi seraya membawa tubuh lemah sang istri dalam gendongannya.
__ADS_1
"Baik bos..." Jawab Anton seraya meraih telponnya dan mencari jaringan, karena susah nyambung maklum berada dibawah tanah.
Ada yang merasa senang melihat keadaan Ameldita yang menyedihkan itu, namun sedikit takut juga dengan ancaman yang tadi keluar dari mulut Alghi yang tidak main-main.
Alghi berjalan dengan tergesa, mau menaiki tangga saking paniknya, hingga dia lupa ada lift juga disana, untung Anton mengingatkannya, mau berapa lama menuju lantai 5, kalau menaiki tangga sambil menggendong istrinya.
"Bos kesini...naik lift saja..." Kata Anton seraya memijit nomor lantai 5.
Tak menjawab Alghi langsung saja balik arah dan masuk ke lift, begitu pun dengan yang Anton dan beberapa pengawal, sementara yang lainnya masih nunggu diluar, karena tak mungkin berdesakkan dengan tuannya dalam satu lift.
Beberapa saat kemudian, setelah dokter menangani sang istri dan menyatakan bahwa keadaannya bersama bayi dalam kandungannya semua baik, dan hanya kakinya yang terluka serta sedikit infeksi karena kaca terlalu dalam menusuk, namun Ameldita masih belum sadarkan diri, karena dia mengalami shock berat dan merasa tertekan dengan kejadian yang dialaminya.
Alghi pun menghubungi kedua orang tuanya yang masih berada dikantor, dan mereka benar-benar shock juga mendengar kabar buruk itu, pantas saja cctv dirumahnya, saat dicek oleh kaki tangannya yang bernama Beri, dari tadi tak terditek, seperti dimatikan semua, membuat mereka heran dan bertanya-tanya, lalu mereka langsung bertolak ke rumah, karena khawatir dengan keadaan sang menantu kesayangannya.
"Bagaimana keadaan putri saya bu Ani, kenapa kalian tidak melihat keadaanya tadi setelah kami berangkat, kan kami menitipkannya pada kalian, lain kali tolong diperhatikan, jangan sampai terulang lagi hal buruk seperti ini...!" Ucap Mama Fiandra dan papa Ghian, ketika sampai dirumah dan yang membukakan pintu adalah bu Ani.
" Iya nyonya, tuan, mohon maaf atas segala kecerobohan kami..., kami siap menerima hukuman." Kata bu Ani menunduk.
"Jangan sampai terulang lagi pokonya, apa melihat ada orang luar yang masuk?" Tanya papa Ghian.
"Tidak ada tuan, saya tak melihatnya..." Jawab bu Ani.
Mereka cepat-cepat menuju kamar putranya berada, dimana disana Ameldita berbaring, dan masih ada selang infus tertanam ditangannya, dengan rasa cemas dan khawatir mereka menghampiri tubuh lemah itu, mama Fiandra menangis sedih, melihat keadaan sang menantu yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
__ADS_1