TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 90


__ADS_3

"Mama menangis bukan karena kata-katamu sayang, is oke semua akan baik-baik saja, semoga kau secepatnya menemukan kebahagiaan." Kata mama Fiandra seraya mengelus bahu sang putra.


"Terimakasih mah, pah sudah bersabar mrngurus Alghi." Ucap Alghi melepas pelukkannya.


"Mah, pah, kebetulan kalian disini, Al mau kalian melamar Missya nanti sore." Kata Alghi penuh keyakinan.


"What melamar? Apa tidak terlalu dini Al, untuk meresmikan hubungan kalian? Apa tidak sebaiknya kalian saling mengenal dulu lebih jauh, setidaknya sampai penyelidikkan tentang kekasihmu selesai." Ujar papa Ghian terkejut dengan maksud anaknya.


"Tidak bisa menunggu pah, mah, karena sepertinya kakaknya itu tidak setuju dengan hubungan kita." Kata Alghi tetap memaksa.


"Kalau mama mendukung saja Al, yang penting kamu bahagia sayang." Ucap mama Fiandra.


"Ya oke, oke..., papa pun mendukung jika keyakinanmu sudah bulat Al, tapi kan kita harus belanja dulu barang buat acaranya, masa kita melamar dengan tangan kosong." Kata papa Ghian.


"Ya kita ke mall dulu pah sebentar, kita cari barang, tapi papa sama mama istirahat saja dulu, nanti siang ke mallnya, bagaimana?" Kata Alghi semangat.


"Oke gimana baiknya saja, papa ikut saja." Ucap papa Ghian.


"Ok pah, mah kalian istirahat dulu, nanti pukul sepuluhan kita jalan...,Alghi jemput ya." Kata Alghi pamitan.


"Oke hati-hati dijalan..." Ucap mereka bersamaan.


"Oke pah, mah...,bye..." Kata Alghi lalu pergi menuju mobilnya, dia mengemudi sendiri kebetulan Anton langsung pergi ke kantor.


Waktu begitu cepat berlalu dan sudah menunjukkan puklu sepuluh, sesuai rencana mereka mau membeli barang buat lamaran. Alghi dan Anton dengan cepat menjemput kedua orang tuanya.


"Al apa sudah memberitahukan keluarganya, bahwa kau akan melamar Missya?" Kata mama sambil duduk dijok mobil.


"Belum mah, biar ini kejutan, kalau dikasih tahu nanti kakaknya takut tak mengizinkan, karena kelihatan dia tak menyuikai Al." Ucap Alghi seraya memeriksa handphonenya.


"Al, Al, kau ini nekad sekali, dan bagaimana dengan neneknya, apa dia setuju atau tidak kau melamar cucunya?" Tanya papa Ghian menatap ke arah putranya.

__ADS_1


"Al belum memberitahunya juga, tapi sepertinya nenek Briska menyukai Al, dia sangat baik." Ucap Alghi meyakinkan kedua orang tuanya.


"Oke kita lihat saja bagaimana sikap mereka mendapat lamaran secara tiba-tiba." Kata papa Ghian lagi.


Sementara Missya, sangat jenuh berada dikamarnya, tadi setelah sarapan sempat berbaring, namun tak bisa memejamkan matanya, dan pikirannya ingat terus sama Alghi, tapi bingung juga dengan sikap kakaknya yang tidak menyukai Alghi, katanya mereka sudah berteman tapi kenapa mereka bagaikan musuh.


Missya keluar kamarnya, disana nampak sang nenek lagi berbincang sama Elkam pelayan baru, rupanya Elkam direkrut untuk melayani sang nenek karena pelayan yang lama sedang cuti.


"Nek...boleh Missya gabung...? Missya jenuh nek kalau dirumah." Kata Missya manja.


"Boleh, nenek lagi bercerita sama Elkam, pasti merasa jenuh karena belum terbiasa kan, nanti ketika Missya lahiran pasti diam dirumah untuk sementara waktu kan? Jadi biasakan diri mulai sekarang ya..." Ucap nenek Briska sambil mengelus punggung Missya.


"Ya Missya belum terbiasa, lagian kenapa sih nek, kakak menyuruhku diam dirumah, kan nanti Missya cuti panjang sebentar lagi, iya kan?" Kata Missya cemberut.


"Maksud kakakmu baik Missya, dia tak mau kau bekerja terus, supaya mempersiapkan diri untuk lahiran." Ucap nenek Briska.


"Nek bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall, kebetulan Missya mau beli barang buat baby, lagian bosan kan berada dirumah, ayolah nek...!" Kata Missya membujuk sang nenek.


"Yes..., thank you so much nenek..." Ucap Missya bahagia sambil memeluk neneknya.


"Sama-sama Missya..." Kata nenek Briska, ya dia sangat menyayangi Missya seperti cucu kandungnya sendiri.


Dengan senang hati Missya berjalan dimall besar itu, sesekali dia bernyanyi seakan tak merasa dirinya sedang hamil besar, dan sang nenek setia mendampinginya bersama Elkam.


"Nek ini lucu kan buat babyku nanti..." Kata Missya menunjuk sepasang sepatu baby yang bergambar kelinci.


"Ya itu lucu sekali, dan itu kaos kakinya pun sangat lucu, belilah Miss..." Ucap nenek Briska.


Etah kenapa Missya merasakan perutnya keram, namun berusaha ia tahan, takut membuat neneknya khawatir.


Missya terus saja, mencari-cari barangnya, namun dia meringis kesakitan ketika perutnya semakin keram.

__ADS_1


"Awww...aduuuhhh...Ya Alloh kenapa perutku ini, sayang berdamailah, jangan membuat mommy kesakitan" Guman Ameldita perlahan seraya mengelus perutnya.


Alghi pun berada dimall yang sama, dan mereka hampir berpapasan, namun etah mengapa mereka belum ketemu. Missya tak tahan lagi perutnya terasa sakit bukan main hingga dia menabrak seseorang yang sedang berjalan membawa keranjang belanjaan.


"Aduuuhhh....so sorry, awww...!" Teriak Missya kesakitan, pria itu pun dengan sigap menahan tubuh Missya, dan betapa terkejutnya pria itu disaat melihat wajah Missya.


"Ameldita, kaukah ini?" Ucap Pria itu, seraya menatap wajah Missya dengan rasa shock berat, setelah beberapa bulan dia mencarinya ditepi sungai itu, walau pun hasilnya nihil, dia tak pernah lelah setiap hari setelah bekerja bahkan sebelum kerja mampir kesana.


"Aku, aku Missya bukan siapa yang kau panggil...?" Kata Missya sambil meringis menahan keram diperutnya.


Pria itu heran mengapa Ameldita tak mengenalinya, tapi dia yakin itu Ameldita pujaan hatinya yang selama ini dia cari, walau pun sudah dinyatakan meninggal.


"Apa kau mau melahirkan?" Tanya pria itu, yang ternyata dia Ricard Ricardo yang kebetulan juga sedang ada pertemuan dengan klaennya disana, lalu dia membawa Missya duduk dikursi, dan sang nenek juga Elkam menghampirinya.


"Missya apa yang terjadi, apa kau kesakitan? Kalau begitu kita harus ke rumah sakit, sabar dan berdo'a sayang." Ucap nenek Briska terkejut melihat Missya bersama seorang pria, lalu duduk juga disamping Missya sambil mengelus punggungnya, nenek Briska merasa khawatir Missya mau melahirkan.


Sementara Alghi dan kedua orang tuanya pun menghampiri kerumunan orang disana, Alghi menerobos ingin tahu ada apa hingga orang-orang berada disana, dan betapa terkejutnya dia melihat Missya yang sedang meringis kesakitan, tanpa pikir panjang dia langsung memangku tubuh Missya dalam gendongannya, hingga membuat semua orang melongo ke arah meraka. Dan nenek Briska sama Elkam pun mengikutinya.


Begitu pun dengan kedua orang tua Alghi, mereka benar-benar tak menyangka kalau Missya yang notabenya kekasih sang putra mirip sekali dengan istri Alghi yang sudah tiada.


"Pah dia benar-benar sama percis dengan Ameldita, mungkinkah dia Ameldita kita pah?" Kata mama Fiandra berurai air mata, berharap dia benar-benar Ameldita.


"Iya mah, dia benar-benar seperti menantu kita, ya Alloh." Ucap papa Ghian seraya memandang kepergian Alghi, dia pun menoleh ke arah Ricard, mereka heran mengapa Ricard pun ada disana.


"Ricard..." Tanya papa Ghian.


"Om..., tante..." Jawab Ricard.


"Apa kau berpikiran sama, bahwa wanita itu Ameldita? Tanya papa Ghian lagi.


"Benar om, saya pikir itu Ameldita, tapi mengapa dia tak mengenali saya, dan Alghi pun sama, kalau saja dia kenal pasti sudah babak belur sama dia, karena menyentuh istrinya." Jawab Ricard meremas wajahnya kasar.

__ADS_1


__ADS_2