
"Iya juga sayang, berarti sudah takdir dari Tuhan kita harus berdampingan untuk selamanya." Ucap Alghi seraya mendaratkan ciumannya dibibir sang istri, kemudian dia memeluknya erat.
"Amiiin, semoga saja ka..." Kata Ameldita.
Waktu terus berjalan, mereka sedang berkemas untuk melakukan penerbangan pada pukul 5 sore. Dan setelah semua siap akhirnya mereka berangkat ke bandara.
Beberapa jam perjalanan pulang membuat Ameldita kelelahan, dia sedikit demam dan membuat Alghi panik.
Setelah sampai dirumah, kedua orang tuanya Alghi langsung memanggil dokter pribadi keluarganya yaitu Om Imron.
"Tidak apa-apa istrimu hanya kelelahan, biarkan dia istirahat, om sudah menyuntikkan vitamin dan anti biotik, semoga besok sudah membaik." Kata Om Imron.
"Amiiin...terimakasih om." Jawab Alghi.
"Sama-sama Al, jagain istrimu, om permisi dulu." Ucap om Imron.
"Istirahatlah Al, jangan mikirin pekerjaan dulu." Ucap kedua orang tuanya.
"Oke mah, pah..., thanks." Ucap Alghi.
Sementara Ameldita terlelap tidur karena pengaruh obat yang dokter berikan, Alghi pun ikut merebahkan tubuhnya disamping sang istri, seraya meraba keningnya, lalu dia memeluknya.
"Cepet sehat sayang...aku sangat khawatir." Ucap Alghi.
Handphone Ameldita berdering, ada notifikasi dari sosmednya, dengan lancang dia mengintip, ternyata pesan dari Ricard masuk, dia penasaran dan membukanya.
"Mel kenapa tak mau membalas pesanku, ini bukti bahwa aku dijebak saat itu." Ada caption dibawah video yang Ricard kirimkan, rupanya Ricard masih berharap Ameldita kembali ke sisinya, makanya dia berusaha untuk mengirimkan bukti kesalah pahamannya.
"Sial si Ricard masih berani dia, ini tidak bisa dibiarkan." Rutuk Alghi kesal, dia tidak rela kalau istrinya harus mengetahui bukti ini, setelah melihat videonya, Alghi langsung memblokir Ricard dan menghapus chat di IG dan facebook Ameldita.
"Ton tolong beri peringatan terhadap si Ricard, aku tak mau dia menjadi bumerang dalam kehidupan kami." Ucap Alghi menelpon sang kaki kanannya.
"Baik bos, siap laksanakan..." Kata Anton.
Satu bulan berlalu Ameldita menyandang gelar sebagai istri Alghiantara Putra Pratama, terlihat mereka semakin romantis saja, orang tuanya pun sangat bahagia melihat mereka begitu harmonis, tiap hari kedua orang tuanya harus melapor kepada kedua orang tua Ameldita, bagaimana pekembangan hubungan antara Alghi dan Ameldita.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Aldhiando ayah Ameldita disambungan telponnya.
"Sejauh ini terlihat sudah saling mencintai, mereka semakin harmonis, jangan khawatir, anakku sudah memenjarakan istrinya didalam hatinya, dia sangat menyayangi Ameldita." Jawab Ghian.
"Lalu kapan mereka akan mengunjungi kami, kasian istriku sangat meridukan anak kesayangannya."
"Saya sudah menyarankan ke pada Alghi, untuk secepatnya menemui kalian, mungkin setelah menyelesaikan proyek barunya." Ucap Ghian.
"Baiklah kami tunggu, dan aku harus menguji anakmu rupanya, aku ingin tahu seberapa besar cintanya terhadap anakku." Kata Aldhiando.
"Kau jangan meragukannya, pokok beri dukungan dan doakan yang terbaik saja, salam buat istrimu, sorry saya ada meeting, nanti sambung lagi, bye..."Kata Ghian.
"Oke bye..." Jawab Aldhiando menutup telponnya.
Seperti biasa Ameldita selalu ikut ke kantor untuk menemani sang suami. Pagi ini Alghi ada meeting, Ameldita sudah menyiapkan segalanya.
"Sayang...ikut saja meeting ya, aku tak mau kau menungguku terlalu lama." Kata Alghi.
"Oke kak..., tapi kalau lama ku keluar ya..." Sahut Ameldita.
"Oke tapi jangan kemana-mana, seperti biasa istirahat saja diruangan ya." Kata Alghi seraya mengecup kening sang istri.
"Tuan meeting segera dimulai, klien dari inggris sudah menunggu Anda." Kata sekretaris Alghi menghampirinya.
"Oke..." Kata Alghi.
Dan mereka pun segera pergi keruangan meeting, Susan sang sekretaris sedikit iri sama Ameldita karena sebagai asisten pribadi benar-benar dekat banget sama bosnya, melirik sinis dengan menyunggingkan bibirnya.
"Dasar gadis penjilat..." Gerutu Susan dalam hati, seraya matanya mendelik sebal. Dia berjalan menyela Ameldita dan mengekor dibelakang Alghi.
Tak ada yang tahu siapa Ameldita sebenarnya kecuali Anton sang kaki tangan Alghi, Ameldita meminta Alghi untuk merahasiakan pernikahannya, karena takut diketahui kedua orang tuanya.
"Selamat pagi semuanya..." Ucap Alghi ketika memasuki ruang meeting.
"Pagi tuan..."Suara mereka hampir serempak.
__ADS_1
"Alghi..." Ucap carolin terkejut, karena yang akan bekerja sama dengan atasannya adalah Alghiantara Putra Pratama, teman kuliahnya waktu diLondon. Alghi dulu jadi rebutan kaum hawa, termasuk Carolin dia menaruh hati terhadapnya, namun dia termasuk salah satu gadis yang tidak beruntung karena Alghi sudah punya kekasih yaitu artis terkenal itu.
"Mmm...siapa ya?" Ucap Alghi.
"Dia Carolin sekretaris saya, apa kalian saling kenal?"
Kata Pak Geral atasannya.
"Apa kau lupa Al, kita teman kuliah dulu, waktu di London, sudah jadi CEO lupa segalanya ya...." Ucap Carolin seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Oh ok, saya ingat...kamu bekerja diperusahaan pak Geral rupanya, baiklah nanti kita ngobrol lagi, kali ini kita meeting dulu." Ucap Alghi serius.
Setelah mereka saling mengenalkan semua pegawainya, meeting pun dimulai, dan beberapa jam kemudian meeting berakhir dan mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan Geral. Sementara Ameldita tak sepatah kata pun berbicara, dia hanya memberikan apa yang Alghi butuhkan, hatinya sedikit mencelos disaat Alghi bertemu dengan Carolin sebagai teman kuliahnya, etah kenapa hatinya tak suka.
"Tuan...saya izin ke belakang ya, sudah beres kan meetingnya?" Kata Ameldita bersikap profesional.
"Baiklah, pergilah..." Ucap Alghi menoleh ke arah sang istri, yang terlihat sedikit boring.
"Al bolehkah kita ngobrol-ngobrol dulu sambil makan siang, please...jangan menolak.!" Kata Carolin penuh harap, seraya menggandeng tangan Alghi, maklum pergaulan di Inggris hal seintim itu sudah biasa sepertinya.
"Ta-ta-tapi saya harus..." Ucap Alghi terpotong, dia menoleh kearah Ameldita yang menghilang dibalik pintu, namun tadi Ameldita sempat melihat bagaimana Carolin menggandeng lengan Alghi.
"Antooon...ikuti Ameldita, dan nanti menyusul ke restoran depan." Kata Alghi sedikit berteriak.
"Ok bos..." Jawab Anton, seraya berlari menyusul Ameldita yan pergi ke toilet.
"Awww...aduhhh..." Teriak Ameldita ketika Susan sekretarisnya Alghi menabrak punggungnya, disaat ada didepan cermin toilet mau mencuci mukanya.
"Eh sorry sorry, gak sengaja ada orang rupanya." Kata Susan sinis, padahal dia sengaja menabraknya, ingin ngerjain Ameldita dari kemarin-kemarin, dia kesal sekali melihat kedekatannya sama sang CEO, dia saja sudah naksir dari hari pertama kerja sampai detik ini belum pernah didekatin Alghi padahal kan sekretarisnya, banyak waktu luang untuk bersama.
"Is ok Susan, tidak apa-apa?" Sahut Ameldita tersenyum.
"Tapi kasian juga ya kamu Mel, sepertinya ditinggal makan siang tu, bos kita digandeng masa lalunya, sepertinya mau nostalgiaan, karena hubungan yang belum terselesaikan, makanya jangan terlalu dekat tu sama bos, nanti patah hati, lihat ni saya cuma menyukai dalam hati saja, kalau seorang CEO yang berkuasa tu banyak fans dan simpanannya, jangan coba-coba." Ucap Susan mulutnya nyerocos panjang kali lebar, bagaikan radio yang full batre sambil menebalkan make upnya.
Deg hati Ameldita terasa perih bagaikan teriris benda tajam, pikirannya jadi kemana-mana. "Apa benar yang diucapkan Susan itu? Ah semoga saja itu hanya omong kosong." Guman Ameldita dalam hatinya, sambil mencuci mukanya.
__ADS_1
"Mmm...benarkah seperti itu?" Ucap Ameldita berusaha tetap tenang meskipun hatinya sedikit berantakan, karena tadi memang sempat melihat sang suami digandeng Carolin yang mengaku teman kuliahnya.
"Tentu saja kau pikir aku berbohong apa, aku sudah lama bekerja sebagai sekretarisnya, dan sudah sering melihat bos bersama dengan seorang wanita cantik lebih dari kamu, bahkan aku pernah melihat mereka tidur bersama." Ucap Susan lagi, dia sengaja memanas-manasi hati Ameldita, karena sudah sering melihat keintiman Ameldita dan bosnya, dia gak rela dong...dirinya saja dicuekin.