
BAB 20
Ameldita pun tersipu malu, tersenyum dan melabuhkan tubuhnya didada bidang Alghi, dia merasa lelah setelah melewati malam panjangnya, beberapa saat kemudian dia terlelap, begitu pun dengan Alghi dia pun terlelap merangkai mimpi indah bersama pujaan hati yang kini sudah dimiliki seutuhnya. Malam pertama pun terlewati dengan sempurna, tak ada kata menunda-nunda bagi Alghi, dia harus benar-benar menjadikan Ameldita istri yang sesungguhnya, ya walau pun Ameldita belum mencitainya, mungkin seiring waktu cinta itu akan hadir, yang penting dirinya sangat mencintai Ameldita.
"Ting tong...ting tong..." Terdengar suara alarm dihandphone berbunyi, Ameldita langsung membuka matanya, dan ia sangat terkejut pas terbangun ada tangan seseorang yang memeluknya, dengan kaki membelit pahanya, dia menyibakkan selimut betapa kagetnya dia, disaat melihat seluruh tubuhnya telanjang bulat begitu pun dengan Alghi, mereka sama-sama tak memakai sehelai benang pun.
"Aaaaaa...." Teriak Ameldita menggema memenuhi ruangan tersebut, dan memecah gendang telinga Alghi yang masih terbuai dalam mimpinya.
"Berisik iiih...ada apa sih?" Sahut Alghi sambil menggisik kedua matanya.
Ameldita beringsut dan menggulung badannya dengan selimut lalu dia turun dari ranjang, namun ketika mau melangkah dia merasakan rasa perih, sakit dibagian intinya. "Awww..., sakit sekali..." Ucapnya meringis dan duduk kembali ditepi ranjang.
"Sayang mau kemana? Masih pagi juga ni..." Seru Alghi seraya menghampiri Ameldita dengan tubuh polosnya.
"Ja-jangan mendekat, aku mau ke kamar mandi."
"Biar ku bantu sayang, pasti masih sakit kan...?"
Ameldita menolak dengan menggelengkan kepalanya, dia merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya semalam, kenapa dia begitu menikmati setiap sentuhan suaminya, padahal dia belum mencintainya. Namun Alghi tetap merangsek maju dan membuka selimut yang menggulung tubuh istrinya itu.
"Tu-tuan...apa yang kau lakukan, jangan dibuka aku malu..." Ucap Ameldita menarik kembali selimutnya, dan yang terjadi tarik-menarik selimut, hingga setengah tubuh mereka terjerembab ke atas ranjang dan kaki masih berpijak dilantai, dengan posisi Alghi diatas tubuh Ameldita, ya otomatis posisi seperti itu yang sama-sama masih polos membuat hasrat Alghi kembali terpancing, bagian intinya mengeras kembali, dia pun mendaratkan ciuman panasnya dibibir seksi Ameldita, kedua tangannya meremas buah dada dan bokongnya, ciuman itu pun menjalar keseluruh tubuh istrinya, dan lidahnya bermain-main dibagian lembah kenikmatan yang sedikit membengkak itu, Ameldita menggelinjang dan mendesah, menambah hasrat Alghi memuncak, dia pun mengarahkan senjatanya kelembah itu. "Awww..." Ameldita berteriak, dia merasakan sakit dan perih disaat Alghi memasukinya kembali.
Alghi secepatnya membungkam kembali bibir sang istri dengan ciuman hangatnya, menyesap dan menjelajahi setiap rongganya tanpa melepas bagian intinya, perlahan digerakannya hingga Ameldita merasakan nikmat yang tiada henti, mendapatkan pelepasan berulang kali, dan akhirnya Alghi menumpahkan lahar hangatnya memenuhi ruang rahim istri tercintanya.
Setelah pergumulan panas ditepi ranjang berakhir, Alghi pun mengangkat tubuh istrinya yang kelelahan, dibawanya ke kamar mandi, mereka mandi bersama saling menyabun didalam bathub, sesekali saling memeluk mesra, hingga kegiatan mandi pun berakhir.
__ADS_1
Ameldita duduk dikursi depan meja rias, masih menggunakan handuk kimononya, rambutnya masih basah dia memandang bagian leher dan dada, banyak sekali tanda merah yang ke unguan, benar-benar ganas suaminya, dia berpikir bagaimana nasibnya nanti, jika suaminya meninggalkannya, secara pernikahan ini hanya karena menghindari perjodohn saja, dan mungkin sebentar lagi Alghi memberikan surat kotrak atau perjanjian, untuk membatasi jangka waktu pernikahannya.
"Hi...apa yang kau pikirkan kenapa nampak bersedih?"Ujar Alghi dari belakang seraya melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping Ameldita, membuat si empunya terkejut.
"Apa tuan akan meninggalkanku setelah ini, dan akan memberikan..." Ucapannya menggantung.
"Surat kontrak yang berisikan perjanjian maksudmu..."
Jawab Alghi seraya mengendus leher jenjangnya yang harum itu.
Ameldita menganggukkan kepalanya, seraya memejamkan kedua matanya, dia menikmati sentuhan bibir Alghi yang bersemayam dikulit leher dan telinganya.
"Tentu saja..." Kata-kata Alghi terpotong dengan menyesap lagi kulit mulus bagian punggung istrinya.
Deg jantung Ameldita serasa ditusuk benda tajam, terasa sakit namun tak berdarah, jadi benar setelah semua yang terjadi Alghi akan memberikan surat kontraknya, etah kenapa hatinya gak rela, dia tak mau pernikahannya berakhir, ingin rasanya berada terus disamping Alghi. Bisakah? Begitulah isi pikiran Ameldita.
Alghi pun paham dan sudah order makanan untuk diantar ke kamarnya. "Lapar ya sayang..., sebentar lagi makanan datang sudah diorder ko." Ucap Alghi seraya mengelus puncak kepala Ameldita.
"Tuan jadi benarkah ini adalah pernikahan kontrak?" Ucap Ameldita disela-sela menyuapkan sarapannya, memberanikan diri bertanya lagi, karena ucapan Alghi tadi belum terjawab.
"Itu tidak benar sayang, awalnya iya ku mau melakukan pernikahan kontrak, tapi setelah dipikir-pikir buat apa, tidak penting, karena pernikahan bukanlah permainan.
Aku menikahimu sah secara negara dan agama, jadi jangan berpikir seperti itu lagi."Tutur Alghi meyakinkan Ameldita yang tengah gamang.
"Seriusan Tuan..." Ucap Ameldita refleks memegang tangan Alghi, sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Jangan panggil tuan lagi, aku ini suamimu."
"Lalu aku harus panggil apa?"
"Panggil saja yang enak didengar sayang..." Ucap Alghi seraya menoel hindung mancung Ameldita dengan telunjuknya.
"Apa hari ini tidak ngantor Kak..." Ucap Ameldita mencoba memanggilnya dengan panggilan baru.
"Lumayan sedikit enak didengar panggilannya, apa sampai saat ini belum ada cinta dihatimu?" Sahut Alghi menatap kedua bola mata itu, berharap menemukan rasa cinta yang sama.
"Ka Al sendiri belum mencintaiku kan? Dan sikapmu selama ini hanya mengikuti hawa nafsu saja kan?"
Tanya balik Ameldita.
"Siapa bilang, aku sangat mencintaimu sayang, sejak kita bertemu aku merasa kau adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku, makanya aku memutuskan untuk menikahimu secepatnya, I love you so much..." Sahut Alghi seraya mendaratkan ciuman mesranya dibibir seksi Ameldita.
Ameldita tertegun mendengar penuturan kata Alghi, rasa tak percaya, benarkah Alghi mencintainya, apa hanya tipu muslihat seorang mata keranjang saja secara banyak sekali perempuan yang tertarik padanya, sekretarisnya, mantannya, pelayan dirumahnya dan etah siapa lagi yang belum dia ketahui.
"Aku tak percaya, jangan membual tuan eh ka...aku tahu banyak sekali perempuan yang tertarik padamu."
"Ya tapi itu kan hak mereka yang penting aku hanya mencintai dirimu, saat ini dan seterusnya." Ucap Alghi seraya mencium bibir Ameldita, etah kenapa bibir seksinya itu membuat Alghi menjadi candu, selalu ingin menikmatinya.
"Iya sih, tapi rasanya masih belum percaya, kalau tiba-tiba ada orang yang mencintaiku, dengan waktu yang singkat." Sahut Ameldita seraya meminum air.
"Nanti aku akan jelaskan semuanya sayang, kapan ku mulai jatuh cinta, sekarang kita nikmati saja waktu liburnya, aku cuti selama seminggu." Ujar Alghi tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah, aku tunggu penjelasannya." Sahut Ameldita tersenyum mengembang menghiasi wajah cantiknya.
Mau tidak mau dia harus menerima bahwa Alghi adalah suaminya, walau pun etah akan seperti apa kedepannya.