THE HIDDEN QUEEN

THE HIDDEN QUEEN
PEMBELAJARAN DARI PERTARUNGAN ( Bag 2 )


__ADS_3

Jhi Yang secara spontan memegang keningnya yang telah di sentil oleh Jiangying.


" nona Jhi mengapa anda menutup mata ??" tanya Jiangying penasaran akan sikap yang di tunjukkan oleh Jhi yang.


" a- aku tidak tahu aku hanya spontan melakukannya !" jawabnya dengan nada malu.


" apa anda pernah terlibat dalam pertarungan hidup dan mati ??" tanya Jiangying lagi.


" be-belum !!" jawabnya terbata - bata.


" jika demikian tolong kuasai jurus tetesan hujan karena tadi nona Jhi menyerang hanya lurus kedepan apa anda mengerti, jika anda berhadapan dengan orang seperti saya dalam pertarungannya sesungguhnya maka serangan seperti itu bukanlah apa - apa !!" ucapnya lagi.


" ta - tapi bukankah jurus ke dua memang harus lurus kedepan ??" tanyanya dengan nada sedikit ragu.


" baiklah nona Jhi tolong perhatikan akan kutunjukan maksudku padamu dan juga usahakan nona jangan menutup mata anda " intruksi nya, Jhi yang hanya mengangguk menanggapi ucapan Jiangying.


Jiangying lalu bergerak cepat menuju Jhi Yang dan berhenti dengan satu kaki kananya di depan Jhi yang.


" jurus ke 2 tetesan hujan " lalu ribuan tusukan dengan kecepatan tinggi meluncur menuju kepalanya Jhi Yang.


Jianying lalu memperlihatkan tehnik tersebut tepat mengarah ke wajah gadis tersebut. dengan kecepatan tinggi tusukan demi tusukan pedang di lancarkan oleh Jiangying layaknya tetesan hujan yang deras,


Mata Jhi Yang terbuka lebar melihat serangan tersebut sekilas terlihat bilah - bilah pedang melewati pipi leher dan bahkan ia juga merasakan angin yang berhembus di sekitar wajahnya karena serangan tersebut.


sementara penonton menahan nafas melihat hal itu bahkan ada yang sudah menutup mata tak kuat melihat apa yang terjadi.


Sementara itu sang wakil wasit yang sedari tadi kagum kini terkejut dengan apa yang di lakukan Jiangying dia berpikir bahwa Jiangying melancarkan serangan untuk membunuh lawanya.


ia pun berniat menghentikan pertandingan dengan naik ke arena tersebut namun di tahan oleh sang wasit yang memegang lenganya, merasakan lengannya di tahan ia berbalik dengan tatapan emosi.


" mengapa anda menahan saya ??" ucapnya dengan nada penuh emosi.


" coba lihat !!" ucap sang wasit menunjuk menggunakan gerakan kepala, sang wakil wasit melihat ke arah yang di maksudkan sang wasit dan terkejut.


karena Jhi Yang masih baik - baik saja para penonton menjadi bingung dengan apa yang terjadi, apalagi jelas - jelas mereka melihat bahwa serangan tersebut sudah pasti akan mengakibatkan kematian.


bahkan kaisar, perwakilan dari keluarga besar, dan sekte terkejut melihat semua itu bahkan tak sedikit yang memberikan sanjungan ke pada Jiangying atas tehnik dan penguasaan yang di miliki olehnya.

__ADS_1


apalagi para master atau pun patriak dari sekte besar maupun kecil yang menyadari bahwa ini bukan pertandingan antara peserta dengan peserta melainkan pembelajaran dari guru kepada murid.


sehingga semakin banyak yang menaruh minat ke pada ke Jiangying dan Mingmei.


" nona Jhi apa anda paham ??" tanya Jiangying sementara itu Jhi Yang tersadar.


" eh iya aku melihatnya tapi apa maksudnya itu aku berpikir bahwa serangan tersebut hanya menyerang di sekitar kepala saya !!" jawabnya.


" coba lihat ke sana " ucap Jiangying menunjuk ke arah tembok pembatas dengan penonton menggunakan pedangya.


Jhi Yang menoleh dan terkejut melihat arah yang di tunjuk Jianying, para penonton menjadi penasaran terutama mereka yang berada tepat dia atas tembok tersebut lalu mengintip tembok yang di maksud Jiangying mata mereka melebar.


ketika mereka melihat lingkaran yang di terbentuk dari banyaknya bekas tusukan pedang.


" ap- apa.maksudnya itu ??" tanyanya Jhi Yang sambil tetap melihat tembok pembatas.


" coba nona ingat seranganku tadi !!" mendengar itu Jhi Yang lalu menatap Jiangying dengan tatapan tidak percaya.


" bagaiamana bisa hasilnya seperti itu ??" jawabnya lalu memikirkan dan menghubungkan antara serangan pertama dan bekas di tembok. " jangan - jan... " namun kalimatnya terhenti oleh Jiangying


Jhi yang sedikit terkejut mendengar itu, lalu menunduk sambil menggelengkan kepala.


" tidak - meskipun saya telah memahaminya namun dengan tingkat penguasaan seperti itu saya yakin bahwa saya akan kalah " ucapnya sambil menyarungkan pedangnya, para penonton yang mendengar itu paham akan apa yang di pikirkan oleh Jhi yang.


" dan juga terimakasih karena telah memberikan petunjuk kepada saya akan tehnik yang saya miliki !" ucapnya sembari memberi hormat.


sang wasit yang melihat itupun naik ke atas arena dan berniat mengumumkan sang pemenang dari pertandingan tersebut.


" sama sama nona Jhi !!" jawabnya membalas hormat ke pada Jhi Yang, lalu pedang yang ia genggam hancur berkeping - keping.


semua orang terkejut dan baru menyadari bahwa pedang yang Jiangying gunakan merupakan senjata kelas merah sementara yang lawanya gunakan merupakan senjata kelas yang lebih tinggi.


" terimakasih kare sudah melakukan tugasmu dengan baik " ucap Jiangying kepada pedang tersebut.


Jhi yang berniat mengajukan pertanyaan karena tiba tiba ada banyak tanda tanya di kepalanya namun tepat ketika ia ingin bertanya sang wasit tiba mengumumkan sang pemenang.


Tampa pikir panjang Jiangying turun dari atas arena Tampa Jhi Yang pun berniat mengejar namun ia urungkan dan berniat menemui Jiangying begitu acara hari ini berakhir ia pun berbalik dan pergi ke tempat duduknya.

__ADS_1


para penonton di sekitar arena tersebut bertepuk tangan melihat itu karena baru kali ini mereka melihat pertandingan semacam itu di tambah lagi banyak yang mendapat pencerahan dari mendengarkan penjelasan dari Jiangying.


Jiangying pun melangkah turun dan berjalan menuju tempat duduknya dengan tenang mengabaikan seluruh ucapan dari para penonton.


kembali ke kursinya begitu Jiangying duduk Mingmei lalu membuat sebuah Aray seperti sebelumnya.


" melihat kakak barusan itu seperti cara master mengajar kita, apa adik benar ??" tanya Mingmei.


" mata adik memang hebat bisa mengetahuinya " ucapnya kagum kepada adiknya itu.


" tentu saja, lagi pula cara master mengajari kita memang unik sehingga sulit untuk di lupakan " tambah Mingmei.


" adik benar " setuju akan ucapan Mingmei " adik menurutmu ketika dendam yang menghubungkan takdir kita dengan master selesai, apakah hubungan kita dengan master juga selesai ??" tanya Jiangying dengan nada sedih.


" hmm bukankah master sudah pernah menawarkan kepada kita untuk tinggal di desa jadi sudah pasti master juga tidak ingin berpisah dengan kita !!" jawabnya mengingat kejadian yang hampir satu tahun yang lalu itu.


" itu benar, tapi Kakak merasa tidak enak jika terus berutang seperti ini kepada master !" ucap Jiangying.


" jadi maksud Kakak ingin membalas kebaikan master, begitu ?? " Jiangying hanya mengangguk pelang menanggapi pertanyaan dari adiknya.


" karena kita sedang berada di ibukota kekaisaran bagaimana jika kita pergi dan mencarikan Hadiah untuk master ??" jawab Mingmei polos.


"ide yang bagus, tapi kira - kira hadiah seperti apa yang bagus untuk master ?!" ucapnya Jiangying.


" tunggu dulu biar aku pikirkan " jawabnya, hingga beberapa saat kemudian " adik menyerah, sekuat apapun adik memikirkannya adik tak bisa menemukan hadiah yang pas buat master " jawabnya frustasi


" hmm kakak juga " jawab Jiangying dengan nada sedih.


keduanya hanya diam sesaat karena tak paham harus memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Ling Xia apalagi mengingat fakta bahwa Ling Xia sendiri telah memiliki berbagai macam hal.


mulai dari senjata tingkat tinggi, Pill, kitab jurus, artefak, herbal, dan bahkan prefound ark yang besar dan megah sehingga keduanya pun merasa frustasi tak kala mengingat semua itu.


" nanti kita pikirkan lagi, untuk sekarang sebaiknya kita fokus dengan apa yang ada di depan kita !!" ucap Jiangying.


"hmmm.. kakak benar, sebaiknya kita urus dulu yang ini baru kita pikirkan lagi itu nanti " ucap Mingme setuju dengan Jiangying.


__ADS_1


__ADS_2