
Keberangkatan Azzura kali ini memiliki misi yang sangat yang sangat mulia dan tujuan yang tepat. Bencana Badai di Selatan mengakibatkan banyak Rumah-Rumah dan perahu nelayan hancur.
Saat ini mereka hidup dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Kerajaan Selatan juga sudah mengupayakan banyak jalan keluar namun masih belum bisa membuahkan hasil yang signifikan.
Banyak kerajaan makmur yang membantu,
Kerajaan Timur mengirim pengrajin kayu mereka untuk membantu nelayan kembali bisa membuat atau memperbaiki perahu-perahu yang hilang dan rusak.
Ini adalah pekerjaan yang Panjang dan juga melelahkan karena hasil dan pemulihan suatu negara tergantung akan masyarakatnya itu sendiri dan pemerintahan mereka.
Azzura dan rombongan sudah sampai di tengah hutan dan mencoba mendirikan tenda. “Tuan Putri, kemungkinan kita akan mendirikan tenda disini.” Ucap Teyo.
“Baik, aku akan membantu. Buat sesederhana mungkin setidaknya bisa menghangatkan kita dari angin malam.” Perintah Azzura.
“Baik,”
Para pengawal dan pelayan Wanita sibuk mendirikan tenda, Azzura membantu pelayan Wanita masak untuk makan malam mereka.
Semakin larut dan semakin dingin. “Tuan Putri anda duduk saja, biar aku yang menyiapkannya sisanya. ” Pinta Anita.
“Baiklah.” Azzura pergi mendekati para pengawal yang sedang memanggang daging rusa hasil buruan tadi dijalan.
“Apa dagingnya sudah matang?” Tanya Azzura tiba-tiba.
“Tuan Putri, sebentar lagi.” Ucap salah satu pengawal.
“Baiklah,” Azzura melihat Teyo sedang mengecek kuda-kuda mereka jadi Azzura menghampiri.
“Apakah ada masalah?” Tanya Azzura.
“Teyo berbalik dan memberi hormat.” Tidak Tuan Putri semua aman. Besok kita bisa langsung melanjutkan perjalanan.” Jawab Teyo dengan lembut.
Teyo Kembali sibuk dengan pekerjaannya. Azzura duduk di bawah pohon seraya memandangi Teyo dengan sendu.
“Mengapa aku merasa kau yang dulu ku kenal dan sekarang sangat berbeda?” Batin Azzura.
Dia merasa Teyo yang saat ini sangat berbeda, dari pandangannya, cara bicara dan juga sikapnya. Apa karena umur mereka saat ini dia tidak mengetahuinya.
Setelah mereka selesai makan malam, Azzura memilih untuk langsung beristirahat tidur. “Apa kau akan tidur?” Tanya Azzura pada Anita.
“Aku akan tidur sekitar dua jam Tuan Putri lalu akan berjaga semalaman,” Jawabnya.
__ADS_1
“Hem, baiklah.” Azzura pergi keranjangnya dan terlelap.
Ditengah malam, dia merasakan ada sedikit pergerakan dari semak belakang tendanya, Azzura langsung membuka matanya dan mencari Anita.
Ternyata Anita sudah ada disamping ranjangnya dan terdiam. Mereka saling menatap dan mengangguk tanda merasakan hal yang sama.
Untung saja lampu tenda di buat redup oleh Azzura jadi pergerakan di dalam tidak bisa dilihat dari Luar.
Azzura dan Anita menyingkir ke pinggir tenda menunggu apakah ada hal yang terjadi, dan benar saja tidak lama Teyo masuk begitu saja ke tenda.
“Tuan Putri?” Panggilnya.
“Aku disini,” jawab Azzura mendekati Teyo.
“Ada sekelompok orang yang menyerang dan melumpuhkan beberapa pengawal.” Jelas Teyo.
Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar tenda, dan langsung dihadang oleh orang berbaju hitam yang mengacungkan pedangnya tepat dileher Teyo.
Anita dan Azzura terkejut. “Siapa kalian? Kami hanya membawa barang-barang bantuan.” Teriak Azzura mengira mereka ingin merampok.
“Tuan Putri, kami tidak butuh harta benda mu, kami hanya ditugaskan untuk membunuh mu.” Ucap Penyusup itu dibalik penutup wajahnya.
“Langkahi dulu mayat ku,” Anita maju ke depan untuk melindungi Azzura.
Teyo dengan lincahnya menghalangi mereka untuk menyerang Azzura, Anita pun begitu tapi Anita kalah cekatan, ilmu bela diri mereka lebih hebat dari Anita sehingga Anita tersungkur jatuh.
Dari kejauhan tiba-tiba ada sosok yang membantu mereka bertarung, Azzura memperhatikan orang yang datang tersebut. Orang itu mendekati Azzura. Tubuhnya kecil seperti seorang Wanita dengan menggunakan cadar.
“Anda tidak apa-apa Tuan Putri?” Tanya Wanita itu.
“Suara ini?” batin Azzura.
Wanita itu langsung membuka cadarnya. “Lola?” Ucap Azzura dengan kencang.
Lola memberi hormat. Tiba-tiba dari belakang ada yang ingin menusuknya, langsung di halangi dengan pedang oleh Teyo.
Mereka bertarung Bersama dengan lincah dan cekatan. Azzura memperhatikan gaya bertarung Lola dan Teyo yang serasi, ada rasa tidak nyaman di hati Azzura menyaksikan itu.
“Hais, hentikan.” Azzura mencoba Kembali konsentrasi pada penyusup tadi. Dia mulai memperhatikan lagi Gerakan pertarungan pembunuh bayaran itu, Azzura yang sudah sering menangani para penyusup dan juga penjahat di Ibu Kota seperti mengenalinya.
“Para pembunuh bayaran kelompok Elang.” Batin Azzura dan menggeleng.
__ADS_1
Para pembunuh bayaran ini memang sangat ganas dan tidak memiliki ampun pada korbannya. Tidak lama setelah pertarungan sengit para anak buah Azzura dan pembunuh bayaran itu Azzura tiba-tiba berteriak.
“Hentikan!”
Semua berhenti dan menatap Azzura. Azzura maju dan menatap mereka semua. “Apa pemimpin kalian masih tuan Kruz? Atau sudah berpindah pada Nona Bertha?” Azzura tersenyum dan memandang mereka semua.
Mereka bingung bagaimana Tuan Putri mahkota yang terkenal tidak pernah pergi kemanapun bisa mengetahui pemimpin mereka bahkan Putri Tuan Kruz.
“Dari mana kau tahu Pemimpin kami?” Tanya pemimpin Pembunuh bayaran itu saat ini.
“Katakan saja padanya, jangan pernah berani menganggu ku dan Kerajaan Barat, jika tidak maka aku sendiri yang akan menghabisi kalian.” Dengan tatapan tajam Azzura khas seorang Jendral Perang.
“Aku tidak mau tahu siapa yang memerintahkan kalian untuk membunuh ku, tapi jika kalian masih sayang nyawa kalian maka mundur sekarang juga.” Tegas Azzura lagi.
Itu membuat nyali pembunuh bayaran dihadapan mereka lemah dan memilih untuk mundur.
Setelah mereka mundur Azzura menatap Anita, Lola dan Teyo yang seperti orang bingung. “Periksa para pengawal dan obati yang terluka”.
Azzura masuk ke tenda dan duduk, dia menatap kosong ke depan. Bayangan siapa yang menginginkan nyawanya langsung tergambar jelas.
“Ketika menggunakan sihir kalian sudah menyerah, sekarang kalian sudah putus asa sehingga ingin langsung membunuh ku,” Senyumnya sinis.
“Baiklah, aku tidak akan ada lagi ampun untuk kalian.” Dengan menggenggam tangannya menahan Amarah.
Anita masuk dan melihat Azzura yang sedang menahan emosi langsung terdiam. “Anda menakutkan Tuan Putri,” Batinnya.
“Tuan Putri,” Anita masuk dengan membawa segelas Air.
“Bagaimana keadaan para pengawal?” Tanya Azzura.
“Ada Dua pengawal yang harus Kembali ke istana karena terluka parah Tuan Putri.” Jelas Anita dengan sedih.
“Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi, mereka tidak akan Kembali menyerang.” Yakin Azzura.
“Dari mana anda tahu nama pemimpin mereka Tuan Putri?” Anita penasaran.
Azzura tidak menjawab hanya tersenyum seraya memandangnya. Lola Kembali dan masuk ke Tenda Azzura.
“Hormat hamba Tuan Putri,” Sapa Lola yang langsung berlutut.
“Lola, bangun lah. Ayo duduk.” Ajak Azzura.
__ADS_1
“Anita, bawakan secangkir teh,” Azzura sangat senang mengetahui Lola sudah kembali dan saat melihat gaya bertarungnya tadi, Lola sudah jauh lebih hebat.