
Raja Alanzo memandang Istrinya dengan sendirinya, Tiba-tiba dia berteriak kepada para pengawal.
"Singkirkan semua kepala binatang ini dan bakar semua!" tegas sang Raja.
Ratu Reyna terkejut dan menutup mulutnya. "Apa yang kau lakukan suami ku?"
"Aku melakukan ini semua demi diri mu, aku sangat mencintai mu." Ucap Raja dengan memeluk istrinya dan langsung pergi karena masih merasa sedih.
"Azzura, apa yang kau katakan pada suami ku?" Batin Ratu heran.
Para pangeran pun bingung dengan apa yang dilakukan Ayahnya, ini suatu keajaiban. Bahkan seorang pengawal bertanya lagi pada Andres.
"Pangeran apa perintah Yang Mulia Raja benar?"
Andres dan Vargas saling memandang. " Singkirkan dulu dan letakkan di Gudang belakang Istana." jelas Andres dan semua pengawal mulai bergerak.
Di kerajaan Barat kabar pernikahan Vanesa sudah mulai disebar. “Dasar gadis bodoh,” Kesal Selir Luisa yang mengetahui Putrinya menyetujui lamaran Pangeran Chiko tanpa berbicara dengan nya terlebih dahulu.
“Apa dia sudah Gila? Dimana dia sekarang?” Tanya Selir Luisa pada pelayannya.
“Nona ada dikamarnya sedang menyelesaikan pelajaran Selir,” Jawab Pelayan.
“Aku harus menemuinya,” Selir Luisa langsung berdiri namun Seorang pelayan datang menghadap.
“Selir aku mau melaporkan sesuatu,” Ucap Pelayan itu.
“Ada apa?”
Pelayan itu memberikan sepucuk surat kepada Selir Luisa. Selir Luisa menerima dan langsung dibaca.
Dengan kesal dia meremas surat itu. “Mengapa bisa gagal.” Marahnya.
Itu adalah surat dari pembunuh bayaran yang dia perintahkan untuk membunuh Azzura saat diperjalanan.
“Bakar, kita harus menyelesaikan Vanesa terlebih dahulu.” Setelah menyerahkan lebaran Surat itu pada pelayan, Selir Luisa langsung pergi dari kamarnya dan menemui Vanesa.
Tanpa aba-aba Selir Luisa langsung mendobrak pintu kamar Vanesa, semua orang terkejut melihat Selir Luisa datang dengan Tiba-tiba dan juga marah.
“Apa-apaan ini,” Dengan melempar lebaran kertas pengumuman pernikahan Vanesa dengan Pangeran Chiko.
Vanesa tersenyum sinis dan berdiri. “Tinggalkan aku dan ibu ku,” Semua pelayan dan Guru keluar dari kamar itu meninggalkan mereka berdua.
Vanesa mengambil kertas perkamen yang dilempar ibunya lalu membaca sepintas, sesudahnya dia duduk Di Sofa.
__ADS_1
“Ada apa bu, bukan kah Ibu seharusnya senang?” Jawab Vanesa.
“Apa kau Bodoh hah? Mengapa kau menerima pinangan mereka tanpa memberi tahukan masalah ini pada Ibu terlebih dahulu?” kesal Selir Luisa.
“Untuk apa aku membicarakan hal ini pada Ibu, ini pernikahan ku jelas aku yang memutuskan,” Tiba-tiba Selir Luisa menampar Putrinya.
“Kau adalah Putri ku, apapun yang kau jalani harus sesuia dengan persetujuan ku. Paham!” bentak Selir Luisa.
Vanesa hanya diam tanpa menjawab perkataan Ibunya.
“Aku akan Ke Istana membatalkan semuanya. Mulai sekarang kau diam saja.” Saat hendak pergi Vanesa berteriak.
“Tidak ada yang berhak membatalkan Pernikahan ku sendiri termasuk Ibu!” Ucapnya dengan lantang.
“Apa?” Selir Luisa terkejut dengan perkataan Putrinya.
“Selama ini aku tidak pernah membatah perintah Ibu, sampai aku bisa terkurung di Asrama yang mengerikan ini dan kembali belajar. hal ini saja sudah membuat ku Gila bu," ucap Vanesa dengan marah.
“Itu juga karena kebodohan mu.” Jawab Selir Luisa.
“Apa Bu? Aku Bodoh? Hah!” Vanesa tidak habis pikir.
“Jadi selama ini Ibu menganggap ku hanya Gadis Bodoh?” ucapnya dengan marah.
"Aku sudah ber umur Dua Puluh Satu Tahun, dan aku berhak memilih pernikahan ku sendiri. Ibu tidak berhak mengatur hidup ku, aku ingin keluar dari neraka ini!” Vanesa pergi meninggalkan Ibunya yang terdiam mendengar Ucapan Putrinya itu.
Pengumuman pernikahan Vanesa juga sudah sampai pada Tuan Cartez. “Apa-apaan ini, Siapkan Kereta kita akan ketempat Selir Luisa.” Ucap Tuan Cartez setelah membaca pengumuman tersebut.
Saat Azzura Kembali, kerajaan sudah banyak dihiasi ornament pernikahan, dijalan-jalan juga sudah cukup meriah.
“Siapa yang akan menikah dengan acara besar-besaran?” Anita bingung.
Saat Azzura melihat keluar jendela dia tersenyum. “Bagus,” Gumamnya.
“Bagus kenapa Tuan Putri?” Anita yang mendengar Gumaman nya.
Azzura tersenyum. “Tidak, percepat keretanya.” Azzura berbicara pada kusir.
“Baik Tuan Putri,” Jawab sang Kusir.
Sesampainya di Gerbang Istana mereka masuk dan disambut sang Ibu. “Akhirnya kau Kembali sayang.” Ucap Ratu Elena.
Azzura tersenyum saat mendengar kata-kata Ibunya. “Sepertinya tidur ku tidak nyenyak karena Ibu terlalu menghawatirkan ku,” Seloroh Azzura.
__ADS_1
“Apakah benar?” Ratu Elena terkejut.
“Tidak bu, aku baik-baik saja. Semua berjalan dengan lancar.” Azzura menenangkan Ibunya yang ternyata benar-benar menghawatirkan nya.
“Ah, Syukurlah. Ayo masuk.” Ajak Ratu Elena.
Tapi dia melirik kearah kereta-kereta yang berjejer.
“Mengapa aku merasa lebih banyak kereta yang datang?” Heran Ratu Elena.
“Haahh.. Sahabat Ibu itu terlalu baik pada ku.” Ucap Azzura.
“Maksudmu?”
“Dia memberikan seluruh hartanya pada ku, aku takut dia akan memberikan kerajaan nya dengan sukarela nanti.” Azzura sedikit bercanda.
“hais kau ini.” Dengan tertawa Ratu mendengar ucapan dari Putrinya.
Mereka berjalan masuk. “syukurlah kau diperlakukan dengan baik di sana, aku menjadi tenang.” Lembut Ratu Elena.
Mereka masuk dan duduk diruang santai kerajaan. “Aku melihat banyak ornament pernikahan di Kota, apakah ada kabar gembira bu?” Tanya Azzura penasaran.
“Vanesa menerima pinangan Pangeran Chiko.” Singkat Ratu Elena.
“Mengapa Ibu terlihat tidak senang?” Azzura memperhatikan mimik wajah Ibunya.
“Entahlah, aku merasa tidak tenang, apalagi Vanesa mengatakan ini keputusannya sendiri.” Ucap Sang Ibu.
“Azzura, apa yang kau katakana pada Vanesa waktu itu?” Ratu Elena bertanya karena Azzura sejak awal sudah memastikan Jika Vanesa akan menerima lamaran Pangeran Chiko dan menawarkan diri untuk menyampaikannya langsung pada Vanesa.
Azzura tersenyum. “Aku hanya menyampaikan Jika Pangeran Chiko melamarnya, aku yakin karena kakak pernah bilang pada ku jika dia ingin menikah dengan seorang Pangeran dari mana pun itu.” Jelas Azzura dengan tenang.
“Apa benar?” Ratu Elena masih tidak percaya.
“Apa ibu mencurigai ku? Aku bisa apa dengan Vanesa bu? Tidak mungkin aku mengancamnya apalagi ini adalah masalah hidupnya sendiri.” Azzura kecewa pada sang Ibu karena tidak percaya pada nya.
“Tidak, hanya saja ini terlalu aneh. Syukurlah jika kau tidak melakukan apapun." Ratu Elena tersenyum.
Di kediaman Selir Luisa sudah ramai karena Tuan Cartez yang memaksa masuk sedangkan perintah Raja Cariann tidak ada siapapun yang boleh bertemu dengan Selir Luisa dan yang lain tanpa izin darinya.
“Apa kalian berani dengan ku, kalian lupa siapa aku?” Teriak Tuan Cartez.
“Maaf Tuan, ini perintah Raja. Kami tidak bisa melanggar.” Tiba-tiba Selir Luisa keluar.
__ADS_1
“Aku yang akan bertanggung jawab jika Raja mengetahuinya. Biarkan Ayah ku masuk.” Tegas Selir Luisa pada para pengawal yang tiba-tiba datang dari belakang.
Pengawal itu saling pandang dengan ragu. “Tunggu apalagi? Buka Gerbangnya cepat!” teriak Tuan Cartez.