
Pertemuan keluarga kerajaan Timur dan Barat terdengar juga oleh Selir Luisa dan Inez. Mereka menjadi gusar, apakah Azzura menerima lamaran itu atau tidak.
Meski mereka sudah menyuruh pelayan untuk mencari tahu tapi mereka tidak bisa menemukan jawabannya yang justru membuat mereka semakin khawatir.
“Mengapa kalian tidak bisa mencari informasi apapun,” Kesal Selir Luisa.
“Bukankah bagus jika Tuan Putri Menikah Selir,” Ucap Pelayan Pribadi Selir Luisa.
“Bodoh, jika Azzura menikah dengan Pengeran Timur, itu bisa memperkuat mereka dan kita akan semakin tersingkir.” Jelasnya dengan memandang sinis.
Pelayan itu langsung tertunduk diam. “Bagaimana dengan sidang Bibi Ula?” Tanya Selir Luisa lagi.
"Sidang akan digelae satu minggu lagi, karena bukti-bukti sudah dikumpulkan. Dan kasus ini dipegang langsung oleh Tuan Felix.” Jelas pelayan itu.
Selir Luisa mencengkram tangannya dengan marah. “Jika Bibi Ula membuka mulutnya tentang kita langsung habisi dia,” perintah Selir Luisa.
“Baik Selir,”
“Ah, satu lagi, ayah anda sudah mengajukan protes pada Yang Mulia Raja,” Palanyan memberi tahu.
“Lalu bagaimana?”
“Raja bersikeraas jika para orang tua tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian Selir,”
“Hah, Cariann semakin berani semenjak dia menjadi Raja, aku sudah tidak bisa mempengaruhinya dan membuatnya tunduk pada ku.” Kesal Selir Luisa. Karena semua rencananya berantakan.
“Semua ini karena Azzura.” Gumannya dengan kesal.
“Apa persiapannya sudah selesai?”
__ADS_1
“Anda tenang saja Selir, yang mulia Raja hanya menyuruh anda belajar tanpa memutuskan weweang anda, jadi semua perintah anda masih sangat berlaku.” Pelayan itu menunduk dan tersenyum.
Selir Luisa tersenyum sinis dan membayangkan kehancuran Azzura terlebih dahulu, sedangkan ditempat lain Lily yang hanya bisa berteriak karena pelajaran yang diterimanya semakin menumpuk.
“Apa-apaan ini, mereka ingin menyiksa ku dengan semua buku-buku ini?” teriaknya dengan kencang.
Vanesa dan Lily belajar di asrama Kastil yang sama, jadi mereka berada disatu bangunan. Tentu saja teriakan Lily yang menggelegar membuat suaranya terdengar kemana-mana dan itu sangat mengganggu Vanesa.
“Apa anak itu hanya bisa menjerit setiap hari?” Ucap Vanesa kesal.
“Pelayan, laporkan saja dia pada ibunya atau Raja sekalian, aku pusing mendengar teriakannya.” Keluh Vanesa.
Pelayan itu hanya diam mendengar keluhan Vanesa. “Mengapa kau diam saja?” Vanesa kesal.
“Maaf Nona, kami juga tidak tahu harus melakukan apa. Kami hanya ditugaskan mengawasi anda dan melayani kebutuhan dasar anda.” Jawab pelayan itu.
Lily yang kaget dengan kedatangan Vanesa juga melipat tangan didada. “Untuk apa kakak kesini?” dengan angkuh Lily berbicara.
Vanesa tersenyum meremehkan. “Sombong sekali sikap mu Lily,” Ucapnya dan masih berdiri diantara pintu masuk.
“Aku juga sangat malas mendatangi mu jika tidak merasa terganggu dengan teriakan mu yang menggangu kuping ku setiap menit itu.” Ucap Vanesa kesal.
Lily tertawa. “Aku rasa itu hak ku ingin berteriak apa tidak.” Jawab Lily seperti menantang.
“Apa kau bilang? Kau pikir yang belajar itu hanya dirimu seorang? Sehingga kau bisa seenaknya berkelakuan?” teriak Vanesa.
“Jika kau tidak suka silahkan adukan aku pada Ibu mu atau Ayahanda sekalian jika kau berani. tapi aku juga akan melakukan hal yang sama.” Ancamnya.
“Apa kau bilang hah? Beraninya kau mengancam ku?” Teriak Vanesa tidak mau kalah.
__ADS_1
“Nona-nona, tolong hentikan perdebatan kalian, jika Ratu mengetahui ini. Kalian akan dihukum lebih parah lagi.” Pelayan senior mengingatkan.
Mereka berdua langsung terdiam mengingat jika hukuman belajar sudah lebih baik dari pada hukuman pukul atau pengasingan.
Lily pun langsung terdiam karena mengingat hukuman pukul waktu itu yang sakitnya masih terasa sampai saat ini.
“Ingatkan Nona mu ini, jika dia masih berteriak maka aku tidak akan segan-segan melaporkannya!” Ancam Vanesa dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Lily.
“Laporkan saja jika kau berani,” Lily membalasnya dengan berteriak keras dan namun tidak dipedulikan oleh Vanesa.
“Nona sudahlah, lebih baik anda belajar dengan rajin. Kemungkinan masa belajar anda bisa lebih cepat.” Ucap Pelayan itu.
Mendengar ucapan pelayan tadi Lily langsung menoleh padanya. ”Apa benar yang kau katakan?” Lily tersenyum.
“Tentu Nona, jika kau bisa memahami semua pelajaran dan lulus dengan baik maka masa belajar mu akan lebih cepat.” Jelas Pelayan tadi dengan lembut.
Lily tersenyum dan langsung duduk dimeja belajarnya mencoba membuka buku-buku yang bertumpuk dan bersusun tinggi dimejanya.
Saat membuka satu buku dia langsung menutupnya dengan kasar. “Ah, baru membukanya saja aku langsung ingin muntah,” keluhnya lagi.
Pelayan tadi hanya menghela nafasnya dan maju mendekati Lily. “Anda harus pelan-pelan membacanya Nona, besok saat guru anda datang setidaknya ada beberapa pelajaran yang sudah anda pahami.” Ucap pelan itu lagi.
Awalnya Lily senang namun melihat pelayan itu yang berdiri dihadapannya dengan tersenyum Lily langsung berdiri. “Apa kau mengajari ku? Kau ini hanya seorang pelayan!” Kasar Lily.
“Justru karena aku seorang pelayan jadi aku bertugas mengingatkan Nona supaya aku bisa melayani anda dengan baik.” Ucapnya pelan dan masih tetap lembut.
Lily hanya melirik dan cemberut, dia tidak mau diajari dan diingatkan oleh seorang pelayan. Tapi pelayan ini memang selalu membantunya dalam segala hal selama belajar disini. Dan tidak pernah mengeluh dengan semua perintahnya.
Lily duduk lagi di mejanya lagi dengan perlahan, membuat pelayan itu tersenyum dan mengambilkan satu gelas air putih untuk Lily minum supaya lebih tenang.
__ADS_1