The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 114


__ADS_3

Makan malam pertama bagi Vanesa dengan menyandang status Putri Mahkota dan Istri dari Pangeran Frio tidak membuat ada yang berbeda.


Sikap Raja Cariann juga tidak ada yang mengistimewakan, makan malam mereka berjalan tenang dalam keheningan.


Setelah selesai makan malam Raja mengajak semua berkumpul di Ruang pertemuan Keluarga.


“Vanesa bagaimana kabar mu dan suami mu?” Tanya Raja membuka percakapan.


“Baik Ayah, berkat doa anda.” Ucap manis Vanesa.


“Bagus, bagus…” Raja Cariann hanya mengangguk-angguk.


“Pelayan ambilkan buah untuk yang mulia.” Perintah Ratu Elena yang membuat Vanesa melirik Ibunya yang hanya tertunduk tidak berani menatap ke depan.


“Ayah, ada yang ingin ku tanyakan.” Ucap Vanesa tanpa ragu.


“Apa itu?”


“Mengapa Ibu ku di pindahkan dari Istana Selir dan menurunkan Status kerajaannya?” Tanpa rasa bersalah Vanesa menuntut ketidakadilan untuk sang Ibu.


Selir Luisa terkejut dan langsung menatap Putrinya dengan takut. “Vanesa,” Ucap Selir Luisa.


“Maaf Yang Mulia, Vanesa tidak tahu perkembangan Kerajaan Barat sehingga dia berani bertanya seperti itu, mohon Maafkan Vanesa …” Dengan terus menunduk Selir Luisa meminta maaf atas putrinya.


“Ibu,” Kesal Vanesa.


“Aku tahu semua yang terjadi pada keluarga kami, tapi yang melakukan kesalahan adalah Kakek ku, mengapa Ibu juga terkena Imbasnya.” Protes Vanesa dengan menaikan nada bicaranya.


Raja Cariann menghela nafas dan membenarkan duduknya seraya menatap tajam Vanesa. “Vanesa, Dulu aku membanggakan mu karena sifat mu yang lebih dewasa dari Azzura dan juga ketenangan diri dalam melakukan semua tindakan.” Ucap Raja dengan masih menatap Vanesa.


Azzura hanya tersenyum mendengar kemarahan Vanesa dan keterkejutan Ayahnya. “Kau menggali lubang kuburan mu sendiri Vanesa,” Batin Azzura senang.

__ADS_1


“Tapi sepertinya Status Putri Mahkota kerajaan Kecil itu sudah membuat mu berubah dan berani berbicara dengan nada tinggi pada Ku dan bersikap tidak sopan,” lanjut Raja Cariann dengan tatapan tajam.


Tatapan itu membuat Vanesa gelagapan dan langsung sedikit gemetar. “Sudah ku katakan kau untuk diam,” Kesal Ibunya dengan berbisik pada Vanesa.


“Maaf kan aku, hanya saja sejak hari pernikahan ku, Ibu menjadi jauh berbeda dan terlihat sangat Tua. Aku hanya sedih.” Vanesa masih membela diri.


Raja Cariann tersenyum seakan meremehkan. “Kau tahu, Ibu mu masih bisa duduk berhadapan dengan kami saja itu sudah termasuk keberuntungan yang luar biasa.” Jawab Raja Cariann dengan tatapan masih mengejek.


“Ayah, mengapa bicara anda seperti merendahkan Ibu ku” Kesal Vanesa mendengar ucapan dan sikap Raja Cariann.


“Percobaan pembunuhan terhadap Ratu, menggunakan Sihir jahat untuk keluarga kerajaan dan keluarga mu melakukan tindakan kejahatan yang merugikan seluruh masyarakat Kerajaan Barat juga ada termasuk perintah dari Ibu mu. Apa kau pikir aku masih kurang belas kasihan pada kalian?” marah raja Cariann dengan nada yang lebih tinggi.


Vanesa dan yang lain terdiam. “Yang mulia maafkan Kami,” Selir Luisa berlutut memohon ampun dan menangis.


“Ibu,” Kesal Vanesa yang melihat Ibunya seperti sampah dihadapan Semua orang.


“Vanesa, jangan kau pikir karena sudah menjadi Istri Seorang Pangeran kau bisa melakukan tindakan di luar batas Kerajaan Barat.” Tegas Raja Cariann.


Raja Cariann berdiri dan hendak pergi namun dia berhenti lalu berbalik kembali menatap Vanesa. “Kerajaan mu itu bisa ku musnahkan hanya dalam satu malam.” Ucap Raja Cariann sebagai peringatan besar pada Vanesa dan Kerajaan Frio langsung.


Vanesa meremat tangannya dengan marah. “Vanesa, hentikan tindakan bodoh mu ini.” Ucap Azzura.


Vanesa memandang Azzura dengan tajam. “Meski kau seorang Ratu sekalipun, status mu masih sama di Kerajaan Barat, Anak seorang Selir.” Tegas Azzura.


“Tutup mulut mu Azzura!” Vanesa berteriak.


“Cukup!” Teriak Selir Luisa.


“Vanesa hentikan, tolong bantu aku kekamar,” Selir Luisa memanggil pelayannya untuk membantu dia berdiri.


“Aku pamit yang mulia,” Hormat Selir Luisa dan berjalan pergi.

__ADS_1


Ratu Elena hanya mengangguk. “Ibu…” Vanesa memanggil Ibunya dan menyusul pergi.


“Azzura, kata-kata mu terlalu tajam.” Ratu Elena memperingatkan Azzura.


“Bu, orang seperti Vanesa tidak akan pernah sadar akan kesalahannya dan juga meski aku bicara seperti itu dia akan tetap bersikap yang sama.” Jawab Azzura dan Ratu Elena terdiam.


“Lalu bagaiman jika dia melakukan hal lain?” Khawatir Ratu Elena yang mengingat keberanian keluarga mereka.


“Tenang lah, ada aku disini bu.” Azzura meyakinkan Ibunya.


Ratu Elena tersenyum mendengar perkataan Azzura seakan-akan semua baik-baik saja.


“Bu..” Panggil Vanesa dengan masih mengikuti Selir Luisa masuk ke kamarnya.


Selir Luisa duduk di ranjang dan merebahkan badannya.


“Vanesa, lebih baik kau tengok kakek mu dulu. Mungkin dia akan senang melihat mu dan tahu jika kau sedang mengandung.” Selir Luisa mencoba menegakkan diri untuk menjauh dari Vanesa.


“Bu, aku masih merindukan mu. Lagi Pula Kastil Oro sangat lembab dan bau, aku tidak mau kesana.” Sangkal Vanesa.


“Vanesa!” Kesal Selir Luisa seakan-akan meremehkan Kakeknya yang tinggal Di sana.


“Kastil Oro tidak seperti yang kau bayangkan, Raja Cariann memperlakukan Ayahmu jauh lebih baik dari yang kau kira.” Kesal Selir Elena pada Sikap Vanesa yang semakin Angkuh dan sombong.


“Tapi bu,”


“Pergilah, atau kau beristirahat saja, Ibu terlalu lelah. Nanti lagi kita bicara.” Selir Luisa membalikkan badanya karena malas menatap Vanesa lagi.


Vanesa yang kesal langsung berdiri dan pergi dari kamar Ibunya. “antar aku untuk beristirahat.” Vanesa mengikuti pelayan menuju kamarnya.


“Tunggu, ini bukan arah ke kamar ku.” Heran Vanesa.

__ADS_1


“Anda tidak lagi tinggal dikamar lama Nona. Putri Azzura sudah menyiapkan kamar tamu untuk anda.” Jawab pelayan itu.


“Apa?” Kesal Vanesa yang mendengarnya.


__ADS_2