
“Bagaimana kau bisa sampai kesini?” Tanya Azzura penasaran.
“Aku Kembali ke Istana dan bertemu dengan Bibi Pelayan, dia mengatakan Anda dan Selir Maya sedang pergi mengantar bantuan ke Selatan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyusul karena perasaan ku tidak enak.” Jelas Lola.
“Benar saja kalian dalam masalah saat dari kejauhan aku mendengar suara pertarungan.” Lanjutnya.
“Tuan Putri ini tehnya,” Anita masuk dan menyajikan secangkir teh.
“Terima kasih, Ah… Lola ini Anita, dia pelayan dan juga pengawalku. Mulai sekarang kalian harus bekerja sama.” Perintah Azzura.
“Baik Tuan Putri,” jawab mereka dengan memberi Hormat.
“Azzura ada apa diluar?” Tiba-tiba Selir Maya muncul.
Mereka menceritakan jika ada perampokan, namun Azzura sudah memberi tahukan jangan bicara soal rencana pembunuhannya. Perampokan para bangsawan sudah biasa terjadi apalagi di dalam hutan seperti ini tinggal bagaimana mereka melawan dan menanganinya.
Sementara di Kerajaan Barat Lily dan Selir Inez sedang mendiskusikan rencana besar mereka. “Ibu mengapa kita tidak mengguna-guna Ibu Ratu saja?” Lily merasa mencelakai Azzura resikonya agak besar.
Apalagi Azzura saat ini tidak seperti dulu, dia bisa melawan semua pergerakan mereka dan justru mereka semakin terjebak dengan kesalahan sendiri.
“Dengar, Jika Azzura yang kita singkirkan maka Raja dan Ratu akan sangat mudah menuruti segala kemauan kita tanpa melakukan apapun kepada mereka.” Jelas Selir Inez.
Lily mengangguk-angguk. “Apa kau yakin melihat kantung itu tergantung dengan kokoh ditempatnya?" Tanya Lily lagi.
"Sangat yakin Nona,” Jawab pelayan tersebut.
“Aneh, bagaimana bisa dia tidak mengalami hal apapun? Bagaimana ini Adana?” Kesal Lily.
“Kemungkinan Putri Mahkota memiliki penangkalnya Nona,” Jawab Adana.
"Penangkal?" tanya Selir Inez.
"Benar, ada banyak penangkal Sihir, dan aku tidak bisa memastikan Tuan Putri memiliki yang mana," Jelas Adana.
“Lalu bagaimana?” Tanya Lily lagi.
“Sepertinya harus aku yang turun tangan dan memastikan semua benda-benda itu berada di tempat yang sesuai.” Adana meyakinkan.
__ADS_1
“Benar, jika kau yang memasangnya maka akan lebih tepat dan kepastian untuk berhasilnya lebih tinggi.” Jelas Selir Inez.
“Sebentar lagi kau akan menjadi Putri Mahkota Putri Ku,” Senang Selir Inez.
Lily tersenyum bahagia semua impian dan bayangan membahagiakan membuat Lily terlena dan benar-benar tidak sabar ingin menghancurkan Azzura.
“Kapan kau akan meletakkan benda itu?”
“Dua malam sebelum Tuan Putri kembali, karena jika guna-guna itu terlalu lama tidak masuk pada sasarannya aku takut efek mantra akan hilang.” Jelas Adana lagi.
“Bagus, aku akan cari tahu kapan Azzura kembali, kemungkinan lusa dia baru tiba di Selatan.” Selir Inez memikirkan segala sesuatunya.
Mereka benar-benar membuat rencana yang sangat matang, dan sangat ingin menjebak Azzura dengan berbagai cara supaya bisa benar-benar hancur.
“Ibu, aku berfikir jika kita tidak membuat Azzura celaka dengan Pamannya yang sok tahu itu,” Lily dengan kesalnya.
“Ada apa dengan Felix?” Tanya Selir Inez.
“Aku pernah bertanya sesuatu padanya, tapi justru aku di ceramahi untuk belajar lebih banyak dan Fokus akan Pendidikan ku,” Lily menceritakan Ketika bertemu Felix di perpustakaan kerajaan dia mencoba akrab dengannya namun justru di beri nasihat yang banyak.
Sementara itu, Vanesa yang sudah sampai di kerajaan Frio sungguh terkejut, keadaan kerajaan tersebut sangat jauh dari bayangannya.
“Awalnya aku tidak perduli dengan keadaan kerajaan ini, namun mengapa mereka sangat lusuh.” Ucap Vanesa dengan dihadapan pelayannya.
Vanesa meminta Chiko untuk tidak satu kereta dengannya dan dia ingin benar-benar sendiri dan Chiko memahaminya.
Jadi Vanesa saat ini hanya berdua dengan sang pelayan setianya. “Selir Luisa pernah berkata, Kerajaan ini memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, karena itulah hubungan Kerjasama antar Barat sangat dijaga.” Jelas Pelayan itu.
Vanesa semakin menyesal dengan apa yang dia alami. “Lalu bagaiman aku nanti?” Ucapnya dengan menangis.
“Nona tenangkan diri mu,” Ucap pelayannya yang melihat Vanesa sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis.
Rakyat Frio sudah mendengar tentang pernikahan ini saat melihat kereta kerajaan lewat semua orang bersorak ria ingin melihat wajah istri Putra Mahkota mereka.
Bukannya Vanesa yang menampakkan wajah, justru wanita-wanita yang ada di kereta paling belakang yang melambaikan tangan.
Semua bertanya "Siapa mereka? Pelayan baru kah? Tapi mengapa berani sekali menampakkan wajah nya.” Bisik diantara masyarakat .
__ADS_1
“Hei hentikan, jika Pangeran melihat kita dan marah bagaimana?” Tarik salah satu dari mereka.
“Hais, tidak apa-apa. Jika marah ya marah saja. Aku pun sudah pasrah.” Acuh salah satunya.
“Kau ini.”
“Kita belum tahu status kita apa nanti, jika kita hanya ditampung sementara sampai melahirkan lalu diusir bagaimana?” Tanya salah satu lagi.
Mereka semua terdiam dan tidak menjawab. “Benar, jika mereka hanya ingin mengambil anak kita bagaimana?” Ucap salah satunya juga.
“Tidak-tidak, Aku akan bicara dengan Nona Vanesa nanti. Dia terkenal ramah dan juga baik hati. Aku yakin dia akan mengerti.” Usul salah satunya.
Semua mengangguk setuju, selama ini Vanesa terkenal ramah dan juga suka menolong. Dia juga terlihat sangat dewasa. Mungkin saat ini Vanesa sangat membenci mereka, namun jika mereka menjelaskan dengan baik maka Vanesa akan mengerti.
Sampai lah mereka di pintu Gerbang Istana, Vanesa turun dan menatap istana kecil itu. Dia hanya menghela nafas pasrah.
Luas Istana ini tidak lebih dari Istana para Selir, membuat Bangsa semakin menyesal dengan pilihannya.
“Mari Nona,” Ajak Pelayannya.
Ratu dan Raja Frio juga turun namun tidak menyapa Vanesa, mereka merasa malu dengan apa yang terjadi.
Vanesa juga tidak berinisiatif untuk mendekati mereka, dia merasa dijebak oleh mereka semua dan dijadikan tumbal atas kesalahan Putra mereka.
“Dimana kamar ku, aku ingin langsung beristirahat.” Tanya Vanesa yang sudah Lelah menangis.
“Mari Tuan Putri,” Ucap Pelayan itu.
Vanesa terkejut dengan panggilan tersebut, namun belum mengatakan apapun. Sesampainya di pintu kamar Vanesa bertanya.
“Mengapa kau memanggilku Tuan Putri?” Tanya Vanesa dengan ramah.
“Saat Raja dan Ratu akan berangkat ke Barat untuk pernikahan kalian, dia sudah berpesan jika penggilan anda adalah Tuan Putri karena menikahi Pangeran Putra mahkota.” Pelayan itu menjelaskan.
Vanesa tersenyum dan tersipu, ini memang impiannya. Menjadi Tuan Putri di kerajaan. “Kau boleh pergi,” Perintah Vanesa.
__ADS_1