The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 100


__ADS_3

“Lantas Kita harus bagaimana?” Tanya Vargas lagi.


“Aku sudah mengirim utusan tadi siang untuk kembali ke Kerajaan Barat dan juga Timur serta memberitahukan kerajaan lain untuk mengirim bantuan mereka.” Jawab Azzura.


Vargas tertegun dengan kecekatan Azzura, rupanya tidak hanya cantik namun banyak hal mengejutkan pada Azzura yang membuat orang lain tidak dapat berpaling darinya.


“Baiklah, karena sudah diputuskan, kita akan membantu memulihkan keadaan semua pengungsi,” Ucap Andres tegas.


Semua mengangguk setuju, saat akan Kembali ke tenda ada satu anak kecil yang menarik perhatian Azzura, anak itu sejak tadi sore hanya duduk diam di bawah pohon kelapa.


Azzura mendekatinya. “Apa kau sudah makan?” Tanyanya.


Anak itu hanya mengangguk dan menatap Azzura, Azzura tersenyum dan berjongkok dihadapan anak itu. “Mengapa kau tidak kembali ke tenda dan ikut istirahat dengan yang lain?” herannya.


Anak itu hanya mengulurkan tangannya dan meminta tangan Azzura. Azzura bingung dan menatap Anita. Tetapi dia memberikan tangannya pada anak itu dan tersenyum.


“Apa kau mau ku antar?” Tanya Azzura dan tangannya mulai dipegang.


“Kau Kembali dan melakukan banyak hal yang benar, jangan pernah menyerah.” Ucap anak itu yang membuat Azzura membelalakkan mata.


Azzura bingung.” Apa maksud perkataan mu adik?”


Anak itu melepaskan kalung dari lehernya dan memberikannya pada Azzura. Kalung Mutiara yang cukup besar dengan rantai perak yang cantik.



“Ini akan melindungi dirimu dari hal yang tidak baik.” Ucap anak itu dan langsung pergi meninggalkan Azzura.


"Hei tunggu," Teriak Azzura namun diabaikan oleh anak tadi yang terus berlari menjauh.


Azzura dan Anita saling bertatapan dengan bingung. “Tuan Putri,” Ucap Azzura.


“Sudah, ayo kembali ke tenda.” Ajak Azzura.


Diperjalanan dia melihat Lola yang dibantu Teyo memindahkan barang dengan akrabnya dan saling membalas senyum.

__ADS_1


Ada rasa tidak terima dengan keakraban mereka berdua, dan itu diperhatikan Anita. “Anda baik-baik saja Tuan Putri?” tanya Anita khawatir.


“Ah, ayo Kembali.” Ajak Azzura dan langsung berjalan pergi.


Berhari-hari mereka membantu pemulihan para pengungsi, tidak terasa sudah lebih dari satu minggu Azzura berada di sana, bantuan juga sudah banyak yang datang.


“Sepertinya kita sudah bisa meninggalkan mereka.” Ucap Azzura pada Anita dan Lola.


“Benar Tuan Putri, berkat anda pemulihan dan kemandirian mereka cepat teratasi.” Lola memuji.


Azzura tersenyum dan menatap laut biru dari pinggir pantai. Semua berjalan dengan baik dan sangat melelahkan.


“Tuan Putri,” Sapa Wanita tua dari belakang.


“Ah, nenek…” Azzura berbalik dan langsung mengenali Wanita itu, dia adalah Wanita Tua yang membantunya memasak dan mengajarinya menyulam.


“Apa ada yang bisa ku bantu?” Tanya Azzura.


“Aku dengar anda akan kembali ke kerajaan.” Jawab sang Nenek.


“Aku sudah menyelesaikan sulaman ini untuk mu,” Sang Nenek memberikan saputangan dengan sulaman bunga Lily yang cantik pada Azzura.



Azzura menerimanya dan melihat sulaman itu.” Ini sungguh cantik nek,” Azzura terharu dengan pemberian itu.


“Terima kasih,” Ucap Azzura lagi.


“Tidak, kami yang seharusnya berterima kasih. Kau datang dan membantu mengubah hidup kami memberi banyak harapan pada semua orang.” Jelas sang Nenek dengan membanggakan Azzura.


“Tidak, kalian semua yang hebat. Aku hanya membantu sedikit, jika bukan kalian sendiri yang ingin mengubah diri dan tidak pasrah dengan keadaan maka apa yang kulakukan tetap akan percuma.” Bantah Azzura.


“Benar-benar…” Sang nenek mengangguk-angguk.


“Ayo kita kembali nek, sudah hampir sore anginnya juga kencang.” Ajak Azzura dengan memegang tangan dari sang nenek dan berjalan Bersama.

__ADS_1


“Kau akan menjadi Ratu yang hebat suatu saat nanti Tuan Putri,” Ucap sang Nenek dengan bangga.


Azzura hanya tersenyum mendengar ucapan nenek tadi. Malam terakhir Azzura berada di pengungsian, dia mengumpulkan semua orang untuk berpamitan.


“Aku berterima kasih pada kalian semua karena mau mendengarkan ku,” Tulus Azzura.


“Aku berdoa supaya kalian bisa dan dapat hidup lebih baik lagi dan juga bisa Kembali pulih seperti sedia kala.” Azzura menutup pidatonya.


Ada yang menangis dan ada yang hanya menunduk. Selama beberapa hari ini Azzura sudah banyak mengubah pola pikir meraka, dari mengarahkan jika ingin membangun rumah harus dimana dan mulai memperbaiki pohon mangrove untuk mencegah abrasi pantai paska badai.


“Anda akan benar-benar pergi Tuan Putri?” Tanya salah satu dari mereka.


“Aku akan mengusahakan sering menjenguk kalian, Kerajaan Selatan juga berhubungan baik dengan kami.” Jawab Azzura.


Mereka semua mengerti dan larut dalam suasana haru. Setelah makan malam Azzura Kembali ke tenda tidak lama Selir Maya menghampirinya.


“Tuan Putri,” Hormatnya.


“Ibu Selir, ada apa?” tanya Azzura melihat Selir Maya sepertinya ada sesuatu.


“Aku ingin meminta izin,” Ucapnya.


“Ya, izin apakah itu?” tanya Azzura Kembali.


“Aku ingin tinggal lebih lama disini, Ayah dan Ibu ku membutuhkan aku untuk membantu mereka.” Ucap Selir Maya dengan sedikit sedih.


Orang Tuan Selir Maya memang selamat namun rumah mereka semua hancur dan tidak ada benda-benda yang bisa diselamatkan selain pakaian di badan.


Karena orang tuanya membuat rumah dipinggir tebing yang Ketika badai langsung terhantam habis.


“Tapi bukankan kita harus izin terlebih dahulu pada Ayah Selir?” Saran Azzura.


“Bagaiman aku bisa Kembali sedangkan perjalanan kita pulang pergi memakan waktu berhari-hari.” Jawab Selir Maya dengan bingung.


Azzura dan Selir Maya terdiam cukup lama, mereka tidak mengatakan apapun lagi hanya memandang cahaya lampu di Tenda Azzura.

__ADS_1


__ADS_2