
“Baik Ratu, “ Luis langsung mendekati ranjang Selir Luisa.
Sedangkan Selir Luisa melirik Bibi Ula karena panik. Namun Bibi Ula hanya mengangguk memberi tanda dia untuk tenang.
Lirikan itu diperhatikan Azzura diam-diam. “Benar dugaan ku, ada yang tidak beres.“ Batinnya.
Azzura berjalan supaya lebih dekat dengan Bibi Ula yang fokus pada Selir Luisa. Dia memperhatikan obat yang diracik, itu hanya daun kelor kering. Azzura menyeringitkan dahi, lalu melihat kearah Selir Luisa yang sudah lebih pucat dan berkeringat dingin.
“Mereka ingin mempermainkan Ibu, baiklah. Aku akan langsung membuat kalian menyesal.“ senyum sinis Azzura tampak.
Saat ingin maju, dia melihat Bibi Ula melakukan pergerakan dari tangannya seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Karena merasa curiga dengan cepat Azzura berjalan dan menabraknua dari belakang.
“Bagaimana keadaan Selir... Ahh maaf!“ dia menabrak Bibi Ula membuat kantung kain ditangannya terjatuh.
“Sial!“ Bibi Ula panik dan langsung mengambil kantung tersebut.
“Kau tidak apa-apa Bibi,” tanya Azzura dari belakang.
Dengan segera Bibi Ula bangkit karena semua orang memperhatikannya, dan langsung bersikap biasa saja.
“Tidak apa-apa Putri,“ jawabnya bergetar.
“Apa itu,“ Azzura menunjuk tumpahan bubuk warna-warni dilantai dekat Bibi Ula.
Mereka semua menengok kearah yang ditunjuk Azzura. Bibi Ula langsung melangkah dan menutupi bubuk itu dengan rok nya. “Bukan apa-apa Putri,“ saat ini Bibi Ula sudah gemetaran, sedangkan Selir Luisa menjadi lebih panik lagi.
“Apa yang kau tutupi Bibi,“ Azzura menarik Bibi Ula dari tempat dia berdiri dan melihat bubuk itu lagi.
“ini, ini bedak rias ku Putri, aku malu menunjukannya.“ Jawab Bibi Ula gugup.
__ADS_1
Namun Azzura tidak percaya dan ingin memeriksanya lagi. “Cukup Azzura, hentikan! “ Ratu Elena pusing dengan kelakuan Azzura yang sembarangan.
Azzura menghentikan pergerakannya dan langsung diam. “Baik bu,“ ucapnya lemas namun tatapannya tidak lepas dari bubuk itu.
“Bagaimana kondisi nya Dokter,“ Ratu Elena bertanya.
“Selir Luisa hanya kelelahan, dan harus beristirahat yang cukup. Aku akan memeberikan resep obat untuknya. “ Luis menuliskan Resep dikertas dan menyerahkannya pada pelayan.
“Ambil Obat ini di apotik kerajaan, sementara aku akan menyuntikan vitamin padanya.“ ucap Luis.
Selir Luisa yang gugup saat melihat jarum, karena dia tahu jika ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya sebelum Sihirnya ditarik maka akan fatal. “Tidak, tidak. Aku akan menunggu obat saja.“ tolak nya saat Luis mengeluarkan suntikan.
“Tapi Selir, ini akan membantu pemulihan mu dengan cepat.“ ucap Luis memberi pengertian.
“Benar, sudah kau patuh saja.“ tegas Ratu Elena membuat Selir Luisa tidak dapat berkutik lagi.
Azzura tersenyum, sepertinya dia mengerti jika ada yang ditakuti dari suntikan, dan kemungkinan akan berpengaruh kepada Sihir yang mereka gunakan. Meski tidak tahu apa itu namun ekspresi mereka semua yang panik dan membuatnya senang.
“Ada apa dengannya Luis? “ tanya Ratu Elena khawatir.
“Tidak apa-apa Ratu, aku hanya menyuntikkan cairan untuk memulihkan tenaganya saja. Mungkin dia terlalu lemah dan memang sangat butuh istirahat. “ jelas Luis.
“Syukurlah. Jika seperti itu ayo semuanya keluar. Biarkan Selir Luisa beristirahat. Dan kau cepat tebus obatnya.“ perintahnya dan Ratu Elena keluar bersama yang lain dari kamar tersebut.
Tinggallah Bibi Ula dan beberapa pelayan. Setelah memastikan pintu tertutup semua berlari mendekati Selir Luisa. Bibi Ula yang sejak tadi panik langsung memeriksanya dan menyentuh lehernya.
Lalu dia menutup matanya dan menempelkan telapak tangannya di kening Selir Luisa dan membaca mantra. Tidak lama mata Selir Luisa terbuka secara perlahan. Bibi Ula menghela nafas lega.
“Apa yang terjadi,“ bingung Selir Luisa yang mencoba bangun.
__ADS_1
“Aku ingatkan, jangan mengkonsumsi apapun selain obat dari ku, itu bisa membahayakan nyawa mu. “ ucap Bibi Ula.
Dan Selir Luisa mengingat ingat kejadian tadi. “ini semua karena Azzura yang sok ikut campur, Bibi segera urus Azzura terlebih dahulu. Dia penghalang terbesar kita. “ ucapnya dengan marah.
“Tentu, aku sudah memikirkan itu, dia juga benar-benar mengancam nyawa ku.“ Bibi Ula tahu, jika di Kerajaan Barat tidak ada yang boleh menggunakan Sihir apapun.
Jika ketahuan maka akan segera dihukum penjara atau mati. Sesuai dengan perbuatannya. Dan itu tidak main- main.
Vanesa mendengar Ibunya sakit langsung berlari menghampiri. “Ibu, ada apa dengan mu? “ Vanesa segera berlutut disamping ranjang Ibunya.
“Tidak terjadi apa-apa sayang tenang saja, kita memiliki Bibi Ula.“ jawab Selir Luisa dengan lembut.
“Bibi, apa yang harus kita lakukan? Azzura benar-benar ingin menjebak dan memojokan kita.“ ucap Selir Luisa khawatir.
“Anda harap tenang saja Selir, aku sudah memiliki rencana sendiri untuk mengurus Putri Mahkota Sok tahu itu.“ kesalnya.
Diperjalanan kembali ke Ruang kerja Ratu Elena, dia penasaran dengan tingkah Azzura tadi. Karena Azzura masih mengikutinya jadi dia berhenti dan berbalik.
“Kau mau kemana Putri?” tanya Ratu Elena tiba-tiba.
Azzura ikut berhenti dan menatap Ibunya. “Aku ingin melanjutkan pekerjaan ku di taman Ibu,“ jawabnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Ikut aku dulu, “ perintah Sang Ratu.
Azzura masih didampingi Anita, jadi dia menyuruh Anita melanjutkan mengambil tanaman dan bawa ke kamarnya untuk dikerjakan oleh Fidel dan Ana.
Anita mengangguk dan meninggalkan Azzura. Azzura sendiri mengikuti Ibunya keruang kerja dan didampingi beberapa pelayan.
__ADS_1