The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 93


__ADS_3

Sementara itu di Kerajaan Barat, Azzura sedang duduk santai di Taman pribadi milik nya. “Tuan Putri, jadwal keberangkatan anda sudah tiba.” Ucap Anita.


“Apakah Ayah mengizinkannya?” Tanya Azzura.


“Sudah, bahkan dia terjun langsung dalam menyiapkan segala bahan pokok untuk bantuan,” Jelas Anita.


“Bagus.”


“Fidel, sudah cukup kau menanam bunga-bunga ini. Kau cukup merawat dan juga menjaga mereka agar tetap indah saja.” Azzura yang sejak tadi memperhatikan Fidel hanya bolak-balik menanam dan menggali.


“Maaf Tuan Putri, baik aku akan ingat itu.” Ucap Fidel yang sekarang sudah bertambah besar.


Azzura dengan anggun berdiri dan pergi untuk berganti pakaian. “Apakah Pangeran Andres dan Vargas sudah memberi kabar?” tanya Azzura.


“Sudah Tuan Putri, mereka sudah berangkat tadi malam dari Timur, jadi mereka akan tiba lebih dahulu.”


“Bagus, bagaimana tugas yang aku berikan pada mu?” sudah selesai semua tuan putri.


Azzura tersenyum karena apa yang diharapkan akan segera tercapai. “Apakah akan baik-baik saja jika kita berangkat sendiri ?” Anita khawatir.


“Tidak, kemungkinan mereka akan menyerang kita tanpa ampun, maka dari itu kau ikut dengan ku.” Azzura tersenyum pada Anita.


“Hamba siap Tuan Putri.” Jawab Anita dengan yakin.


“Tuan putri,” Ana datang memberi hormat.


“Bagaimana?” Tanya Azzura.


“Yang mulia mulai mengumpulkan semua pejabat.” Ucap Ana.


Azzura menarik nafas senang, setelah selesai mengganti pakaiannya dia berjalan keluar menemui sang Ibu.


“Ibu…” Sapa Azzura Ketika melihat Ibunya sedang minum teh di balkon kamarnya.


“Putri ku kau sudah datang, cepat kemari.” Ajak Ratu Elena.

__ADS_1


Azzura mendekat dan duduk di kursi samping sang Ibu. “Ibu dengar kau akan pergi langsung ke Selatan memberi bantuan?” Tanya Ratu Elena.


“Benar bu, aku sangat tidak tega dengan kondisi disana setelah mendapat laporan.” Jelas Azzura dengan wajah sendu.


“Ya, Selir Maya pun bersikeras ingin ikut dengan mu seraya menemui Orang Tuanya.” Ucap Ratu Elena.


“Lebih baik biarkan dia pergi bu, Selir Maya orang yang paling sibuk selama ini di Kerajaan.” Mengingat Selir Maya yang mengatur kebutuhan dapur Istana.


Termasuk saat pesta pernikahan Vanesa kemarin, dia sampai jatuh sakit dan tidak bisa ikut pesta dansa dan menyaksikan keramaian yang terjadi.


“Apa begitu menurut mu?” Tanya Ratu meminta jawaban Azzura lagi.


“Hem. Dia pasti sangat merindukan dan khawatir pada mereka.” Sambung Azzura lagi.


“Baiklah, aku akan bicara pada Raja,” ratu Elena tersenyum.


Persiapan keberangkatan Azzura dan rombongan telah siap, Teyo sebagai kepala Pengawal terjun langsung menemani dan mengawal Azzura.


Tepat saat itu Tuan Cartez datang dengan beberapa pejabat lainnya. Dia berpapasan dengan Azzura yang sedang melihat kondisi persiapan mereka, Azzura menunduk memberi hormat namun dia acuhkan Tuan Cartez.


Berbeda dengan pejabat lainnya yang memberi hormat, mendapat perlakuan seperti itu Azzura hanya tersenyum dan tidak mempermasalahkannya.


“Apa kau sudah siap berangkat Selir?” Tanya Azzura.


“Tentu, Terima kasih sudah memperbolehkan aku ikut," ucapnya dengan hati senang.


“Bagus, setelah makan siang kita akan pergi.” Ucap Azzura.


Perjalanan ke selatan lebih jauh dari Kerajaan lain karena letaknya yang ada di dekat pantai di balik gunung, mereka harus memutarinya karena tidak mungkin menerobos hutan.


“Perjalanan akan Panjang, jadi sehat-sehatlah kalian.” Ucap Azzura pada semua pelayan dan pengawalnya.


“Kami mengerti Tuan Putri,” Hormat mereka.


Karena akan menyerahkan bantuan amal dan juga dalam rangka kegiatan sosial, Azzura tidak membawa atribut kerajaan yang banyak, hanya penggunaaan kereta dengan jumlah yang cukup banyak saja.

__ADS_1


Saat makan siang Raja Cariann masih berkumpul dengan para pejabat. “Tuan Cartez, bagaimana ini. Semua bukti penyelewengan yang kau lakukan sudah ada didepan mata.” Tegas Raja Cariann.


“Aku difitnah Raja, siapa yang memberikan semua ini pada anda,” Tanya Cartez dengan nada tinggi.


“Cartez jaga ucapan mu dihadapan yang Mulia Raja,” Ucap Adipati yang duduk disamping Raja Cariann.


Tuan Cartez terdiam mendapat teguran itu. “Aku menyangkal semua tuduhan ini.” Tegas Tuan Cartez dengan emosi.


“Apa yang kau katakan, kau korupsi dengan uang kerajaan. Ini akan masuk dalam persidangan.” Raja Cariann kesal.


“Tidak, aku menyangkal. Ini semua fitnah.” Keras Tuan Cartez.


Semua orang yang melihat dan mendengar Tuan Cartez yang bersikeras hanya menggeleng heran.


“Bukti sudah didepan mata masih mengelak, belum tahu jika di miskin kan.” Bisik salah satu diantara mereka.


Tuan Cartez gelagapan dan bingung, mengapa jadi begini. “Siapa yang menyelidiki keuangan tambang?” Batinnya dengan ketakutan.


Rapat di bubarkan dengan jaminan Tuan Cartez tidak boleh meninggalkan kediamannya dan semua asetnya di segel oleh kerajaan untuk sementara sampai sidang di putuskan nanti.


Selir Luisa yang mendengar Ayahnya mendapatkan panggilan atas dugaan penyelewengan dana langsung pergi ke kediaman Cartez.


“Anda tidak boleh masuk Selir,” Ucap Pengawal kerajaan.


“Apa maksud mu, aku mau menemui Ayahku dia sedang sakit.” Teriak Selir Luisa.


“Maaf Selir, perintah Raja anda tidak bisa masuk.” Saat pengawal itu datang tibalah Dokter kerajaan.


“Biarkan Selir masuk, aku sudah mendapatkan Izin yang Mulia Raja,” Ucap Loiz yang datang untuk memeriksa Tuan Cartez.


Tuan Cartez saat baru kembali ke kediamannya dari kerajaan langsung jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri, karena masih dibawah pengamanan kerajaan. Raja Cariann mengutus Loiz untuk memeriksanya.


“Loiz, priksa Tuan Cartez dan pastikan dia benar-benar sakit atau berpura-pura untuk menghindari penyidikan.” Ucap Raja Cariann.


“Baik yang Mulia,” Jawab Loiz.

__ADS_1


“Satu lagi, biarkan Luisa menemui Ayahnya,” Lanjut Raja Cariann.


Loiz mengiyakan lalu memeberi hormat dan pergi meninggalkan Raja.


__ADS_2