
Saat menunggu makanan siap tersaji dengan lengkap Vanesa membisikan sesuatu pada Azzura dan mengcengkram tangan Azzura dari bawah meja namun tidak terlihat oleh orang lain.
“Berhenti bertindak seakan-akan kau berkuasa.” Dengan sangat kuat Vanesa mencengkram tangan Azzura.
Namun Azzura hanya tersenyum manis dan langsung mengangkat tanganya yang dicengkram Vanesa.
“Ayah lihatlah kakak menggenggam tangan ku dengan lembut. Sepertinya dia sangat perhatian pada ku.” Ucapnya membuat Vanesa terkejut dan tidak percaya dengan tindakan Azzura itu.
“Kakak kau tidak perlu malu menunjukan kasih sayang mu ini pada Orang Tua Kita.” Dengan lembut Azzura memegang tangan Vanesa yang sudah mulai mengendur.
Vanesa kebingungan dan matanya tidak bisa diam bergetar. Selir Luisa yang melihat itu hanya menutup wajahnya karena malu.
Sedangkan Raja Cariann yang melihat keakraban mereka tertawa bahagia.
“Ya ya... benar Vanesa. Meski Azzura sudah menjadi Putri Mahkota saat ini, dia tetap adik mu.” dengan menatap semua orang.
“Aku beritahu kalian semua, meski aku dan Nyonya sudah menjadi Raja dan Ratu, namun kita tetap keluarga seperti biasanya. Jadi jangan sungkan namun tetaplah bersikap sopan.” Nasehat nya dan membuat semua orang mengangguk setuju.
“Ayo kita mulai sarapan sipagi yang cerah ini.” Ajaknya dan semua memulai makan mereka.
“Jadi kau paham siapa yang berkuasa sekarang Kakak Vanesa?” Dengan tersenyum manis seraya mengangkat alisnya Azzura menatap Vanesa. Namun hal itu membuat Vanesa semakin membencinya dan mengepalkan tangan dengan marah.
Di masa lalu Azzura, Vanesalah yang paling sering menindas dan menuduhnya melakukan hal-hal aneh diluar protokol Kerajaan. Sehingga sang Ayah selalu memarahinya.” Kali ini aku yang akan memutar balikkan keadaan,” Batin Azzura tersenyum samar.
Setelah sarapan mereka semua memulai kesibukan masing-masing. Jelas Raja dan Ratu mereka sudah memiliki jadwal yang sangat padat. Saat akan kembali kekamar Azzura melihat Selir Maya yang ditarik Selir Inez ke tempat yang sepi.
Menjadi sangat penasaran dia pergi mengukuti mereka.
Melihat dari kejauhan ternyata Selir Luisa telah menunggu mereka. Azzura mencoba lebih dekat supaya bisa mendengar dengan jelas namun tidak memungkinkan. Hanya samar terlihat Selir Maya menggeleng cepat dan langsung menangis seperti memohon.
“Aku ingin kau memberikan Teh herbal ini kepada Raja dan jangan sampai ada yang mengetahuinya.” Ucap Selir Inez dengan menyodorkan teko emas kepadanya namun tidak dapat terlihat oleh Azzura karena tertutup tiang.
“ini teh apa Selir Luisa?” tanya Selir Maya curiga.
__ADS_1
“Kau tidak perlu tahu, jika sudah kau pastikan dia meminumnya maka lekas beri tahu aku.” Ucapnya dengan menatap tajam.
Selir Maya menolak dan memberikan kembali Teko itu. “Aku tidak mau terlibat dengan semua kejahatan kalian.” Ucapnya ketakutan.
Selir Luisa maju dan menatapnya tajam. “Kau tidak mau terlibat Selir Maya? Apa kau ingat bagaimana aku memperlakukan orang Tua mu yang miskin itu?” Ucapnya dengan nada mengancam.
“Cukup Selir, jangan kau libat kan lagi mereka. Hidup mereka sudah cukup sulit.” Ucapnya sedih.
“Maka dari itu menurutlah,” Dengan kembali menyerahkan teko emas padanya membuat Selir Maya mundur dan kali ini bisa dilihat Azzura.
“Teko itu? Jangan-jangan.” Batinnya. Dia mengepalkan tangan dan pergi dari tempat itu.
“Aku harus mencari Paman Felix segera.” Azzura pergi dengan berjalan cepat dan pastinya tanpa disadari oleh para Selir itu.
Azzura bertanya dengan beberapa pengawal dimana Pamannya dan akhirnya bisa menemukan Felix yang sedang bersama dengan Pangeran Vargas dan Andres.
Kedatangan Azzura terlihat oleh mereka jadi semua memberi hormat lalu dibalas olehnya. Azzura yang sudah mendekat dengan mereka. “Paman apakah kita bisa bicara sebentar?” Tanya Azzura dengan suara yang lembut.
“Apakah ada hal yang sangat penting Putri,” Tanya Felix dan di balas anggukan oleh Azzura.
Felix berpamitan pada dua Pangeran tersebut dengan sopan begitu juga Azzura, dan dibalas dengan sopan oleh Andres.
“Jika seperti itu kami pamit dulu Tuan Felix, Putri Mahkota.” Ucap Andres dan menarik Vargas yang hanya melamun.
“Ada apa?” Felix menatap Azzura yang terlihat serius.
Azzura melihat sekeliling dan memastikan mereka jauh dari orang-orang. “Apa kau sudah mengetahui tentang sihir apa yang ada didalam teh herbal Selir Luisa?”
“Jika ku perhatikan itu Sihir kuno, sulit untuk mendapatkan sihir seperti itu. Kemungkinan sihir penakhluk,” ucap Felix dengan gaya berfikir.
“Sudah kuduga,” Karena dulu Ayahnya sangat menurut pada Selir Luisa dan badanya menjadi sangat kurus benar-benar seperti mayat hidup.
"Apa yang kau pikirkan Azzura?” tanya Felix dengan penasaran karena Azzura seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
“Apa efeknya jika diminum hanya sekali dua kali?” tanya nya.
“Tergantung dosisnya, kemungkinan jika efek tumbuhan akan lama proses candunya, namun jika sihirnya yang berada dalam air. Kemungkinan cukup dua gelas saja dia sudah luluh pada orang tersebut, hanya efek kerjanya saja yang tidak lama.” Jelas Felix dengan baik.
Azzura mengangguk-angguk tanda mengerti dan diam tidak lagi bertanya. Felix menjadi penasaran dengan tingkah Azzura dan langsung memaksanya mengatakan sesuatu.
“Azzura ada apa?” tanya Felix yang mulai curiga.
“Ah, tidak hanya memikirkan sesuatu.” Ucapnya dan hendak pergi namun ditahan oleh Felix.
“Jika kau tidak mau mengatakan apa yang ada dikepalamu, maka Paman tidak mau membantu lagi.” ancam Felix membuat Azzura menghela nafas panjang dan berbalik menghadap Pamannya itu.
“Apa kau bisa dipercaya Paman?” Tanya Azzura membuat Felix tertawa.
“Azzura aku Paman mu, dan lagi pada siapa kau akan percaya?” ucapnya yang merasa pertanyaan Azzura aneh.
Sebenarnya Azzura juga sangat mempercayai Pamannya ini, tapi entah mengapa kewaspadaan Azzura meningkat tajam dan selalu bersikap curiga pada setiap orang saat ini.
“Azzura,” Panggil Felix yang melihat Azzura hanya diam.
“Aku melihat selir Luisa memaksa Selir Maya membawa teko emas yang kita lihat untuk teh herbalnya.” Ucap Azzura sedikit berbisik. Felix terkejut, karena selama ini dia merasa ketiga Selir Kakaknya itu akur dan saling menjaga.
“Aku merasa ada yang aneh, sepertinya Selir Maya juga diancam.” Lanjut Azzura.
Mereka sama-sama diam dan tiba-tiba Azzura teringat tulisan dibuku sang Kakek. “Paman apa kau tahu dari mana sihir yang dipakai Selir Luisa.” Tanya Azzura semangat.
“Aku tidak yakin tapi sepertinya aura sihir tersebut bukan dari Barat.” Ucapnya tidak yakin.
“Apa ada bedanya?” Azzura penasaran.
“Jika kau memperlajari sihir maka akan mudah menjelaskan perbedaan diantaranya,” ucap felix yang mencoba memberi pemahaman pada Azzura.
“Apa kau tahu Sihir Nyonya Galenia?” pertanyaan Azzura membuat Felix terkejut tan menatapnya tajam.
__ADS_1