The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 89


__ADS_3

Vanesa sampai di depan Gereja, perlahan dia turun dari kereta kudanya. Dengan anggun menggunakan Gaun pernikahan yang cantik berwarna putih gading dengan ekor Panjang dan lebar.



Kecantikan dan keindahan Gaun Vanesa membuat semua rakyat yang menyaksikan kedatangannya dari luar gerbang Gereja sangat terpana.


“Sungguh beruntung Pangeran Chiko mendapatkan Nona Vanesa yang cantik dan baik hati.” Puji salah satunya dan diamini yang lain.


Vanesa dengan bangga dan yakin berjalan menuju pintu Gereja yang mana Raja Cariann sudah menunggunya.


Raja Cariann sendiri yang akan mengantar Vanesa berjalan menuju Altar pernikahan dan menyambut Vanesa dengan senyuman.


Terdengar banyak teriakan dari salah satu rakyatnya. “Jangan kau nikahi Pangeran Brengsek itu Nona,” dan itu sedikit terdengar ditelinga Vanesa sehingga dia menengok.


Namun Raja Cariann mencoba mengalihkannya. “tetaplah focus dan jangan perduli kan hal lain,” Ucapnya dengan memegang tangan Vanesa.


“Baik,” Vanesa membalasnya dengan senyuman.


Mereka berdua berjalan masuk dengan senyum Bahagia. Pangeran Chiko sudah menunggunya di Altar pernikahan dengan senyum yang mengembang lebar.


Pemberkatan berjalan dengan lancar dan khidmat, tangis haru di pernikahan Vanesa menjadi bumbu manis pernikahan tersebut.


Sampai pada saat giliran Azzura untuk mengucapkan selamat pada Vanesa dan memeluknya. “Selamat bersenang-senang kak,” Vanesa menyeringitkan dahi mendengar ucapan selamat Azzura.


“Apa maksud mu?” Tanya Vanesa dengan wajah yang tidak senang.


“Aku ikut senang dengan pernikahan kalian,” Azzura menatap kearah Vanesa dan Chiko secara bergantian.


“Terima kasih Putri Mahkota.” Chiko memberi hormat dan dibalas Azzura.


Tapi tidak pada Vanesa, tatapan dan kata-kata Azzura mengandung banyak arti yang membuat Vanesa merasa kurang nyaman.


Pesta pernikahan Vanesa dan Chiko di gelar pada malam hari dengan makan malam Bersama seluruh anggota keluarga kedua kerajaan.


Dengan meriah dan dan mewah acara malam itu digelar, setelah makan malam ada pesta dansa untuk semua kalangan, alunan musik orchestra mengalun indah dan membuat semua pasangan sulit menolak untuk berdansa Bersama.

__ADS_1


Dimulai dengan Vanesa yang berdansa dengan sang Kakek Tuan Cartez, dan bergantian kepada Pangeran Chiko yang sudah menjadi Suaminya. Dilanjutkan dengan pasangan lainnya.


“Apakah Putri Mahkota kita bisa diajak untuk berdansa?” Tanya Vargas yang sudah berdiri dihadapan Azzura yang sedang duduk santai di singgasananya.


Dengan tersenyum Azzura menunjukan kakinya yang dibalut perban. “Sepertinya akan mengecewakan anda Pangeran.” Ucap Azzura.


“Ada apa Tuan Putri?” Tanya Vargas Khawatir.


“Hanya terpeleset dikamar mandi saja Pangeran, tidak parah.” Jawab Azzura santai.


Dan itu diperhatikan sang ibu yaitu Ratu Elena, dengan cepat dia menghampiri Azzura.


“Ada apa dengan kaki mu Putri?” Tanya Sang Ibu.


“Tidak apa-apa bu, aku hanya terpeleset di kamar mandi saja,” Jawab Azzura lagi.


“Tapi mengapa kau tidak memberi tahu Ibu?” Ratu Elena sangat menghawatirkan nya.


“Ah ibu, sudah lah. Ini perta pernikahan Kakak aku tidak mau menggangu kebahagiaannya dengan luka kecil ku ini.” Azzura menegaskan.


“Sudah, kembalilah ke Kursi mu ibu dan nikmati pestanya,” Azzura tersenyum menandakan dia baik-baik saja.


“Bu, aku memiliki pelayan, mengapa aku harus memanggil mu?” Jawab Azzura dengan melirik Anita disampingnya, dan Anita dengan cekatan langsung memberi hormat.


“Ah ya, kau benar,” Sang Ibu langsung pergi dan duduk lagi di Singgasananya untuk menikmati Pesta malam itu.


“Apa kau akan tetap berdiri disini Pangeran?” Tanya Azzura pada Vargas yang tidak beranjak dari samping Azzura.


“Tidak, pemandangan disini lebih indah,” Godanya pada Azzura.


Azzura hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar rayuan aneh Vargas.


Karena orang-orang semakin larut dalam suasana pesta sehingga riuh ramai suara orang-orang membuat semakin seru acara malam itu yang penuh kebahagiaan, Azzura memberi tanda anggukan pada Anita, dan Anita langsung memberi kode pada pengawal.


Tidak lama terdengar teriakan dari beberapa Gadis yang menerobos masuk kedalam Aula pesta.

__ADS_1


“Hentikan pesta ini!” teriaknya.


Karena suara musik yang keras sehingga teriakan mereka tidak terdengar, sampai salah satunya membanting alat musik yang ada dan menghentikan pemain musik yang lain.


“Hentikan Pesta ini!” ucapnya dengan marah.


“Hei siapa kau? Beraninya mengacaukan Pesta Kerajaan!” teriak pengawal kerajaan yang mencoba menghalangi mereka.


“Yang mulia tolong dengarkan kami!” Ucap salah satunya lagi dengan perut yang besar sepertinya sedang hamil.


Ini tentu saja menjadi perbincangan dan bahan omongan orang-orang yang berada di dalam Pesta malam itu.


Raja bangun dari singgasananya. “Hentikan dan lepaskan mereka,” Karena melihat ada yang sedang hamil Raja menjadi tidak tega.


“Datang lah kehadapan ku semua,” Ucap Raja mempersilahkan mereka.


“Bagaimana mereka ini bisa masuk?” Ucap salah satu Tamu.


“Iya, ini aneh.” Jawab salah satunya.


Vanesa yang bingung dengan keadaan ini menatap suaminya yang seperti orang ketakutan dan pandangan yang tidak menentu.


"Ada apa suamiku?" tanya Vanesa.


"Ah, tidak, hanya sedikit menghawatirkan mu dengan keributan ini,” Sangkalnya.


Tapi Vanesa seperti merasa aneh dengan jawaban itu.


Majulah empat orang Gadis yang cantik-cantik dan salah satunya sedang hamil besar. “Yang Mulia Raja, berilah keadilan untuk kami semua.” Ucap salah satunya.


“Ada apa ini, jika kalian ada keluhan jangan datang menggangu pesta putri ku seperti ini,” Raja Cariann masih dengan ramah nya namun tetap tegas.


“Datanglah ke balai pengaduan,” Lanjutnya.


“Tidak yang mulia, justru hanya malam inilah kami bisa menuntut keadilan itu,” Dengan menangis Gadis itu berkata.

__ADS_1


“Tunggu-tunggu, apa maksud kalian,” Ratu Elena semakin penasaran dan bingung.


Semua tamu menonton dari pinggir Aula Pesta dan menyaksikan mereka yang mengadu pada Raja.


__ADS_2