
Semua pelayan yang melihat Putri Mahkota sedang berlari dan disusul Pangeran Andres membuat mereka semua saling memandang, tapi mereka juga tidak berani untuk bergunjing lagi.
Mereka sudah mendengar kabar saat para pelayan termasuk pelayan Pribadi Nona Vanesa dihukum cambuk jadi tidak mau mengambil resiko meski sangat penasaran.
Jantung Azzura langsung berdegub kencang dan juga ingatan-ingatan masa lalunya tergambar jelas, disaat kematian sang Ibu, kepanikan dan rasa hancur saat itu, membuat dia tidak sadar air matanya menetes saat berlari dengan kencang.
Bibi ula dan seorang pelayan sudah sampai didepan kamar Ratu Elena. Dengan beralasan mendapat perintah dari Selir Luisa untuk memberikan teh herbal pada Ratu, karena melihat pelayan disampingnya yang mereka kenal itu adalah pelayan pribadi Selir Luisa. Jadi mereka percaya dan mempersilahkan nya masuk.
"Salam hormat Ratu Elena," Sapa Bibi Ula dengan sopan dan memenuhi hormat.
"Siapa kamu?" Tanya Ratu Elena karena tidak pernah melihat wajah asing Bibi Ula.
Bibi Ula tersenyum. "Hamba tabib pribadi Selir Luisa Ratu. klKarena mengetahui kesibukan anda, Selir Luisa mengutus saya secara langsung agar memberikan Herbal untuk stamina kepada Anda, " Dengan menunjukan teko emas yang dibawa pelayan.
Tanpa aba-aba Bibi Ula langsung menuangkan teh itu ke cangkir dan memberikan nya pada Ratu Elena. Ratu Elena sedikit menyeringitkan dahinya karena dia merasa tidak terlalu akrab dengan Selir Luisa mengapa dia menjadi perhatian.
Pelayan peribadi Ratu menerimanya dan mencium serta mengetes teh itu dan menunggu beberapa saat, namun tidak ada yang terjadi. Dan langsung diserahkan kepada Ratu.
Saat Ratu Elena ingin menyeruput teh nya, Tiba-tiba Azzura menerobos masuk dan berteriak.
"Ibu...!!! " Mengagetkan semua orang dan menengok kearah Azzura.
Ratu Elena langsung meletakkan teh nya dimeja kecil yang berada disampingnya dan menatap Azzura dengan tajam. "Putri Mahkota, apa kau tahu yang kau lakukan ini tidak sopan? " Ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
Azzura dengan nafas tersengal-sengal mencoba mengatur kembali nafasnya. Tidak lama pangeran Andres juga tiba dan semua orang bergantian melihat Pangeran Andres.
Bibi Ula yang tahu itu Pangeran Andres langsung menunduk tidak berani menampakkan wajahnya. Azzura langsung melihat kearah Bibi Ula dan yakin jika orang ini yang memberika racun dan dupa aneh pada ibunya.
"Maaf ibu, ada sesuatu yang mendesak yang ingin ku beritahukan pada anda." Ucap Azzura yang sudah mulai tenang namun keringatnya masih menetes.
Bibi Ula sangat kesal jadi dia memohon pamit. "Jika begitu hamba pamit dulu yang mulia Ratu, " Hormatnya dan mundur untuk meninggalkan Kamar itu.
Azzura memperhatikan dengan seksama tusuk konde dan wajah Bibi Ula. "Tunggu, " Cegahnya membuat Bibi Ula langsung berhenti.
Dengan memgepalkan tangan Bibi Ula terpaksa berbalik dan memberi Hormat pada Azzura. "Hormat hamba Pada Putri Mahkota, " Ucap Bibi Ula.
"Aku tidak pernah melihat wajah mu, siapa kau? " Tanya Azzura menyelidik.
"Tabib pribadi? Lalu untuk apa kau kekamar Ratu?" Azzura semakin curiga saat melihat teko emas yang dibawa pelayan Selir Luisa dibelakangnya.
"Kurang ajar, dia mau meracuni ibu." Batin Azzura dengan kesal.
"Selir Luisa khawatir dengan yang mulia Ratu dan ingin memberinya herbal untuk staminanya. " Jelas Bibi Ula.
Azzura mendekati teko emas itu dan mencium aroma yang sama seperti yang diberikan pada Ayahnya. "Apa kalian sudah mengeceknya?" Tanya Azzura pada pelayan yang bertugas menjaga makanan dan minuman Ratu.
"Sudah Putri, dan tidak ada masalah. " Ucapnya.
__ADS_1
"Apa mereka tidak mencium aroma aneh ini? " Batinnya heran.
"Azzura hentikan, Selir Luisa hanya bersimpati pada kesehatan ku. " Ucap Ratu Elena yang sudah kesal dengan tingkah Azzura.
"Aku mengerti Ibu, hanya saja bukankah Selir Luisa sudah melewati batas ketentuan kerajaan? " Ucapnya dengan melirik Bibi Ula.
"Apa maksud mu? " Tanya Ratu Elena.
"Setahu ku, siapa saja tidak bisa mendekati Ratu dengan sembarangan. Serta tidak juga bisa menerobos masuk kekamar Ratu apalagi itu seorang Pelayan yang berkedok tabib. " Ucapannya penuh penekanan.
"Jika memang Selir Luisa khawatir dengan kesehatan anda, mengapa bukan dia langsung yang datang kesinj tapi malah mengutus seseorang yang tidak jelas seperti ini." Bibi Ula yang merasa tersindir hanya bisa mengepalkan tangannya swmakin kesal.
"Lalu apa mau mu? " Tanya Ratu Elena yang sudah malas meladeni Putrinya itu.
"Aku ingin memeriksa Tabib ini secara langsung," Ucapnya dan menatap Bibi Ula dengan tajam.
Bibi Ula dan pelayan dibelakangnya merasa terkejut dan sedikit gemetaran. Saat ini dia juga tidak mungkin menggunakan sihirnya untuk menjauh dari Azzura.
"Apa kau bersedia tabib? " Tanya Azzura lagi dengan lebih mendekatinya.
"Si-silahkan Putri, aku memang benar-benar sorang tabib jadi apa yang ku takutkan," Ucap Bibi Ula untuk membuat Azzura dan Ratu tidak mencurigainya.
Saat ini Bibi Ula sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya, pangeran Andres yang sejak tadi memperhatikan Bibi Ula merasa mengenal gaya dan gestur ini. "Ini gaya orang Timur," Ucapnya dalam hati.
__ADS_1