
Perjalan mereka memakan waktu satu hari satu malam, mereka sempat membuat tenda untuk bermalam, sedangkan Vanesa tetap dengan sikap awalnya diam tanpa mau bersuara.
Saat Di tenda milik mereka berdua, di bayangan Vanesa sebelum menikah perjalanan ini akan menyenangkan bahkan akan menjadi romantis saat pulang. Tapi kejadian dimalam pernikahannya merubah semua pandangan dan harapan Vanesa pada sang Suami.
Chiko masuk ke tenda dan melihat Vanesa yang duduk melamun, Vanesa menengok dan melihat suaminya justru langsung menjauh dan pindah duduk di Ranjang, dia merasa sangat jijik pada Suaminya saat ini.
“Vanesa mau sampai kapan kau bersikap seperti ini,” Tanya Chiko dengan lembut.
“Aku tidak mau dan tidak akan bisa di sentuh oleh mu,” Ucap VAnesa dengan marah.
“Aku minta maaf atas kejadian ini, aku sudah berubah aku dapat menjamin itu,” Rayu Chiko yang memohon dengan berlutut dihadapan Vanesa.
Mendengar itu dengan mata yang berkaca-kaca, Vanesa berdiri dan menatap tajam Suaminya.
"Aku tidak akan pernah percaya pada lelaki menjijikkan seperti mu!” Kasar Vanesa dihadapan suaminya itu.
Saat berlutut mendengar perkataan Vanesa yang seperti itu, membuat Chiko marah dan murka. Dia berdiri dan langsung menampar Vanesa.
“Plakk!” dengan kemarahan yang memuncak untuk pertama kalinya Chiko bertindak kasar pada seorang wanita dan menunjukkan sifat aslinya.
Ketika tamparan itu sampai di pipi lembut Vanesa, dia langsung merasakan sakit yang amat dan sangat terkejut, Vanesa sampai terhuyung ke samping saat ditampar oleh suaminya.
Vanesa terdiam seraya memegang pipinya yang mulai memerah, sedangkan Chiko masih memasang wajah yang sangat marah tanpa penyesalan sedikit pun, Chiko maju dan mencengkram pipi istrinya.
“Aku sudah bersabar dan memohon pada mu, tapi kau justru menghina ku.” Ucapnya dengan wajah yang mendekat pada Vanesa.
Mata mereka saling bertatapan. “Aku ingatkan pada mu, mulai saat ini hidup dan mati mu ada ditangan ku. Jika berani kau melawan dan bertindak diluar kemauan ku, maka akan ku habisi diri mu.” Ancam Chiko.
Vanesa terkejut dengan perubahan Chiko yang menjadi kasar dan tidak ada lagi sikap lembut seperti pertama kali bertemu, bahkan saat belum sampai di Kerajaan Frio dia sudah melakukan kekerasan padanya.
Vanesa terduduk dengan lemas, dari pada tamparan Chiko, lebih sakit dan menyedihkan lagi dengan bayangan masa depan akan kehidupannya. Vanesa menangis dengan tersedu didalam tendanya.
__ADS_1
Chiko yang langsung keluar dari tenda mereka setelah berlaku kasar langsung menarik nafas dan duduk di perapian dengan para prajurit. “Pangeran,” Hormat mereka.
"Teruskan memanggangnya,” Karena para pengawal sedang memanggang daging dan minum anggur untuk menemani mereka berjaga dan menghangatkan tubuh di dinginnya malam.
Chiko minum anggur dengan berlebihan, selain kesal dengan keadaan dan sikap Vanesa. Dia juga kesal karena Ayahnya tidak membela dirinya sekali pun.
“Siapa yang membawa mereka sehingga berani membuka mulut.” Batin Chiko dengan mencengkram gelas perak miliknya.
Chiko yang sudah mabuk berdiri dan mencoba untuk pergi. “Pangeran anda mau kemana? Anda mabuk.” Ucap salah satu Prajurit.
“Bawa aku ke tenda,” Pintanya.
Pengawal itu langsung mengerti dan mengantar Chiko kembali ke tenda miliknya. saat ini Vanesa sudah tertidur dan tidak sadar jika Chiko masuk dengan seorang pengawal.
“Aku akan mendudukkan anda disini,” Ucap pengawal itu dan langsung pergi dari tenda miliknya.
Dengan samar Chiko melihat Vanesa yang tidur di ranjang mulai mendekatinya. “Ini malam pertama kita bukan Istriku,” Dengan tersenyum Chiko naik keatas ranjang.
Chiko langsung memegang tangan Vanesa dan menguncinya di atas mengembalikan Vanesa untuk terlentang. “Kau sangat cantik Istri ku, aku ingin kau menjadi milik ku seutuhnya,” Bisik Chiko dengan mendekati wajahnya kepada wajah Vanesa.
“Kau mabuk, minggir!”Teriak Vanesa yang mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Chiko.
“Diam!” Balas Chiko dengan berteriak.
“Aku suami mu, kau harus melayani ku!” Masih berteriak.
Vanesa mulai menangis dan memohon.” Aku mohon, lepaskan aku Pangeran. Aku akan menuruti kemauan mu tapi tidak untuk yang ini.” Vanesa memohon dengan sangat pada Chiko.
“Cih.” Chiko meludah kesamping.
“Tadi kau menghina ku, sekarang kau memohon pada ku.” Dengan tertawa meremehkan.
__ADS_1
“Chiko hentikan,” Vanesa masih mencoba melepaskan diri.
“Diam!” Bentak Chiko dengan keras membuat Vanesa terdiam dan menatap suaminya itu.
“Aku akan memperlakukan mu dengan lembut sayang,” Bisiknya dengan ******* di kuping Vanesa dan mereka mulai menghabiskan malam pertama meski Vanesa menolak namun dia tidak bisa melawan kekuatan Chiko.
Setelah selesai melakukan pergulatan bersama, Vanesa yang baru pertama kali melakukan hal ini bangun dari tidurnya, mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, dia melihat Chiko yang tertidur dengan pulas.
Tubuh dan bagian intimnya terasa sakit dan perih, benar-benar membuat Vanesa ingin menghilang dan pergi dari dunia ini.
Saat ini masih pukul tiga pagi namun Vanesa tidak bisa lagi tidur, dia menangis mengingat dan melihat kebodohannya. Jika saja dia menuruti kata-kata keluarganya mungkin saat ini dia masih menikmati masa bebasnya.
“Azzura, aku pastikan kau akan lebih menderita dari pada ku,” Ucapnya dengan mencengkram selimut dan mata yang penuh dendam.
Pagi hari menjelang, Vanesa yang sdauh bersiap sejak subuh tidak menyapa Chiko sama sekali, ada sedikit rasa bersalah di hati Chiko. Melakukan hal itu dengan keadaan mabuk dan juga tidak memperlakukan Vanesa dengan lembut.
“Apa kau sudah sarapan?” Chiko mencoba membuka perbincangan.
Tanpa menjawab Vanesa langsung mengambil mantelnya dan pergi dari tenda. Chiko memperhatikan namun tidak menghentikannya.
Dia hanya menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Malam yang seharusnya indah untuk mereka berdua justru menjadi menakutkan bagi Vanesa.
Chiko menyusulnya keluar dan menemui keluarganya yang juga sudah bersiap untuk berangkat kembali, para pengawal dan pelayan sedang sibuk membereskan tenda dan juga perlengkapan lainnya.
Vanesa melihat wanita-wanita yang akan menjadi madunya di bawah pohon Oak, salah satu dari mereka menatap Vanesa yang sedang memandang kearah mereka semua. Dia tersenyum namun tidak dibalas Vanesa yang justru pergi membuang muka.
“Mengapa dia senis sekali?” Ucap Wanita itu.
“Menurutmu bagaimana, ada wanita-wanita dengan perut besar mengaku sudah dihamili suami mu?” Tanya salah satunya lagi.
Mereka hanya menghela nafas. “Jika tidak memikirkan bayi di dalam perut ku ini aku benar-benar tidak rela harus tinggal menjadi selir Istana Frio yang miskin.” Ucapnya.
__ADS_1
Semua langsung saling diam tanpa mengatakan apapun lagi.