The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 73


__ADS_3

Keesokan harinya Azzura pergi ke Asrama Pendidikan Kerajaan dengan Anita yang sudah pulih sepenuhnya.


“Tuan Putri, anda datang berkunjung,” Sapa salah satu guru.


Azzura tersenyum dan langsung berjalan masuk. “Aku ingin bertemu Kak Vanesa, dimana dia?” Tanya Azzura.


“Silahkan ikut aku,” Guru itu menunjukan jalan ke ruangan tempat Vanesa belajar.


Mereka semua sudah menjalani Pendidikan selama tiga bulan. Dan sudah ada perubahan yang bagus pada masing-masing. Hanya saja Lily yang sesekali masih suka membantah jika diberi tahu, namun masih bisa mereka tangani.


Azzura sampai di pintu masuk, saat pelayan ingin memberi tahu kedatangannya, Azzura mengangkat tangan membuat pelayan itu menutup mulutnya.


Vanesa terlihat sangat lesu, dia harus memulai semua pelajaran dari awal. Itu sudah menjadi tekanan yang sangat membosankan. Karena semua pelajaran ini sudah dilewati dimasa dulu. Terlihat Vanesa yang sedang diterangkan tentang ilmu etika hanya menghela nafas dengan malas.


Azzura melihat itu langsung tersenyum sinis dan meremehkan. Lalu dia pergi ketaman Asrama untuk menunggu pelajaran Vanesa sampai selesai.


Dengan santai dia melihat pemandangan terlihat hamparan gunung dan juga ladang gandum yang luas, Sungguh indah untuk dipandang mata.



Tidak lama Vanesa muncul setelah diberi tahu jika Tuan Putri datang untuk bertemu dengan dirinya. Sebenarnya dia sangat malas, tetapi dia tidak bisa menolak kunjungan Azzura.


“Untuk apa kau ingin bertemu dengan ku,” Tanpa sopan santun Vanesa langsung berbicara.


Mendengar Vanesa yang seperti itu Azzura langsung tersenyum dan meletakkan cangkir teh nya dimeja.


“Apa pelajaran etika mu masih harus diperpanjang kak?” tanpa berbalik Azzura berkata demikian.


Vanesa langsung terkejut, dia melupakan semua karena kekesalannya pada Azzura sudah menutupi hati dan pikiran nya. Langsung saja dia berdiri disamping Azzura untuk memberi hormat. “Maaf Tuan Putri, aku lalai.”


Azzura tersenyum. “Ayo kak duduk dengan ku, kita minum teh dulu.” Ajak Azzura.


Vanesa menurut dengan duduk di kursi samping Azzura. “Bagaimana suasana hati mu kak?” Tanya Azzura basa-basi.


“Baik,” Singkat Vanesa.


“Apa kau Lelah harus mengulang Pendidikan seperti ini?”

__ADS_1


“Aku bisa apa, jika kalian sudah memutuskan aku harus melakukan dan menjalani ini semua,” Vanesa sedikit menyindir.


“Apa kau ingin pulang ke Istana secepatnya?” Tanya Azzura membuat Vanesa terkejut.


“Apa mau mu?” Vanesa membaca Azzura seperti ada sesuatu yang mencurigakan.


Azzura tersenyum mendengar ucapan Vanesa yang langsung paham maksud tujuannya. “Pangeran Chiko datang menemui Ayah dan ingin melamar mu,” Ucap Azzura langsung.


“Apa? dia melamar ku? Apakah Ayah menyetujuinya?" Panik Vanesa saat mendengar perkataan Azzura.


"Ayah tidak menolak dan juga belum menerima karena menunggu jawaban dari mu," Jelas Azzura.


"Kau tidak mungkin dengan baiknya datang untuk mendengar jawaban ku bukan, lantas apa mau mu sebenarnya?" Vanesa memiringkan bibirnya karena mengetahui pikiran licik Azzura.


"Kau memang pintar kak," Azzura memuji namun membuat Vanesa ngeri.


Dia memiringkan badan dan menatap Vanesa dengan tajam. "Terima lamaran itu dan menikah dengan Pangeran Chiko." Ucap Azzura tanpa basa-basi.


"Kau gila, mana mungkin aku menikah dengan Chiko. Aku tidak mencintainya, " Marah Vanesa dan meninggikan nada bicaranya.


Vanesa langsung bingung dengan tatapan sedih Azzura. “Apa yang kau inginkan sebenarnya?” Vanesa merasa ada maksud lain dari perkataan Azzura.


“Bukan kah aku sudah mengatakan nya tadi, terima lamaran mereka dan menikah dengan Pangeran Chiko. Maka kau bisa terbebas dari segala peraturan Ayah dan juga kau akan menjadi calon Ratu Kerajaan Frio. Bukan kah itu sangat menguntungkan?” Azzura berkata tanpa melihat Vanesa dan melanjutkan menyeruput teh nya.


Vanesa hanya diam tanpa menjawab dan melihat Azzura yang asik memandang pemandangan dihadapannya.


“Sepertinya sudah terlalu sore, aku pamit dan ku tunggu jawaban mu secepatnya sebelum Ayah berubah pikiran.”


Azzura berdiri dan meninggalkan Vanesa begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya. Saat didalam kereta Anita yang sejak tadi penasaran memberanikan diri untuk bertanya.


“Apakah Nona Vanesa mau menikah dengan Pangeran kerajaan kecil itu Yang mulia?” Tanya nya ragu.


Azzura tersenyum dan memandang keluar jendela. “Dia tidak punya pilihan Anita. lagi pula dia sangat menyukai akan kekuasaan, tidak ada alasan dia untuk menolaknya.” Ucap Azzura.


Sesampainya di Gerbang kerajaan, Azzura melihat Teyo sedang mengatur Kuda-kuda yang baru didatangkan dari peternakan.


“Apakah dia sudah Kembali?” tanya nya pada Anita.

__ADS_1


“Sepertinya pelatihan perangnya sudah selesai Tuan Putri,” Balas Anita.


“Tepat pada waktunya,” batin Azzura senang, dia langsung turun dari kereta dan menghampiri Teyo.


Teyo yang sadar akan kedatangan Azzura langsung berbalik dan memberi hormat. “Tuan Putri,” Ucapnya.


Azzura tersenyum dan berdiri dihadapan Teyo. “Apa yang kau lakukan Tuan Teyo? Atau sudah kah menjadi jendral?” Senyum nya.


“Ah, soal itu.” Teyo bingung ingin menjawab apa hanya menggaruk-garuk kepala.


“Mengapa banyak sekali kuda-kuda yang didatangkan?” Tanya Azzura melihat kuda-kuda itu berbaris memasuki kandang.


“Pemilihan pelatih terbaik dari berbagai kerajaan hampir selesai, dan kuda-kuda ini didatangkan untuk persiapan perang terhadap pemberontak di perbatasan selatan Tuan Putri.” Jelas Teyo dengan pelan.


“Berarti Andres sudah menyetujui usulan ku,” Batinnya lagi.


“Ah iya, aku ingin mengajak mu pergi ke Kerajaan Timur, apa kau bersedia?” Tanya Azzura langsung.


“Apakah ada urusan yang mengharuskan aku ikut Tuan Putri?” Tanya Teyo bingung.


“Tidak terlalu berhubungan, hanya saja sepertinya kau paham seluk beluk kerajaan Timur lebih dari ku.” Ucap Azzura.


Teyo bingung dengan ucapan Azzura, dia dan Azzura tidak pernah mengobrol sama sekali. Tapi sepertinya Azzura sangat memahaminya.


Azzura tersenyum. “Bagaimana?”


“Hamba siap menemani anda kemana pun Tuan Putri,” jawab Teyo yakin dan menunduk.


“Bagus, nanti pelayan ku akan mengabari mu kapan kita akan berangkat.” Azzura pergi dengan tersenyum meninggalkan Teyo.


“Mengapa dia semakin cantik dan anggun,” Batin Teyo dengan tersenyum sendiri.


“Anda baik-baik saja Tuan?” Ucap salah satu pengawal yang menegurnya.


Teyo sadar dan langsung menegakkan badannya.


“Hais, sudah Kembali bekerja.” Teyo mendorong pengawal nya mendekati kuda-kuda itu.

__ADS_1


__ADS_2