The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 82


__ADS_3

Karena pernikahan Vanesa adalah pernikahan kerajaan pertama sejak Raja Cariann diangkat, maka dibuat semeriah mungkin selayaknya pesta rakyat.


Selir Inez dan Lily pun di liburkan untuk ikut merayakan pernikahan ini. “Bu… Aku merindukan mu,” rengek Lily Ketika bertemu di Istana Barat.


“Apa kau belajar dengan rajin Putri ku?” Tanya Selir Inez.


“Tentu, aku tidak mau dihukum belajar terlalu lama bu,” Keluh nya.


“Anak pintar,”


“Bu, apa kau tidak merasa aneh dengan pernikahan ini?” Tanya Lily dengan mengecilkan suara.


“Maksud mu?”


“Bu, aku tahu kakak tidak mungkin menyukai Pangeran Chiko, dia itu mengincar Pangeran dari Timur.” Jelas Lily lagi.


“Kita tidak tahu sayang, jangan berpikiran terlalu jauh,”


“Tidak bu, aku curiga ini ada campur tangan Azzura.” Lily semakin berani.


“Apa kau sadar bu, Azzura sekarang sudah sangat berubah. Pengadilan Bibi Ula juga dibuat tertutup atas perintahnya.”


“Dari mana kau mendapatkan informasi ini semua?” Selir Inez bingung dengan Putrinya.


“Aku bukan anak kecil lagi bu, aku dan Azzura hanya berbeda satu tahun jika dia bisa berubah, maka aku juga bisa berubah.” Tegasnya.


Selir Inez senang dengan berusaha cara berfikir putrinya, namun juga khawatir.


Malam pesta lajang akan tiba, Vanesa dengan sibuknya mempersiapkan segala sesuatu. “Bu, mengapa gaun ku masih belum dikirim juga?” Kesal Vanesa yang sejak tadi hanya bolak-balik saja.


“Aduh, Vanesa bisa kah kau tenang sedikit? Ibu pusing melihat dirimu yang kesana-kemari.” Keluh sang Ibu.


“Bu, apakah baju nya tidak akan selesai malam ini? Bagaimana jika di pesta nanti aku tidak bisa memakai gaun yang baru?” Vanesa berkata dengan merengek dipangkuan Selir Luisa.


“Vanesa tenang lah, dia bilang kan sore ini diantar.” Selir Luisa sedang memilih beberapa perhiasan.


“Hah, mengapa kau jadi memilih Putra kerajaan kecil ini Vanesa, lihat… perhiasannya saja sangat jelek. Ck!” Keluh sang Ibu.


Vanesa hanya melirik sekilas tanpa menjawab, tidak lama penjahit kerajaan datang membawa Gaun pesanannya.


“Hamba menghadap Selir, Nona Vanesa.” Hormatnya.

__ADS_1


“Hah.., mengapa kau lama sekali, cepat bawa kemari.” Vanesa langsung merebut kotak yang berisi baju barunya itu.


Dia membukanya dan mengambil Gaun berwarna hijau dengan brokat yang menjuntai dan sedikit terbuka di bagian pundak. “Astaga, ini indah sekali…” Pujinya.



“Kau memang terbaik Alwar.” Puji Vanesa dengan Bahagia.


Alwar memberi hormat dan pamit dari sana. Sedangkan Selir Luisa hanya menggeleng melihat tingkah putrinya yang tidak memikirkan masa depan yang lebih baik.


Azzura saat ini mendapatkan tamu dari utusan Timur, mereka membicarakan jadwal pelesiran mereka.


“Tuan, jika bisa perjalan kita setelah acara pernikahan Kakakku saja.” Ucap Azzura.


“Sesuai dengan keinginan anda Tuan Putri, Aku hanya ditugaskan mencocokan jadwal Pangeran Andres dengan anda saja.” Jawab utusan itu.


“Bagus,”


“Ah, satu lagi. Rahasiakan kepergian kita, masalah Ayah ku biar aku yang urus.” Pinta Azzura lagi.


“Mengapa begitu Tuan Putri?” Tanya utusan itu, karena ini termasuk kunjungan kemanusiaan mengapa harus dirahasiakan pikirnya.


“Baik.” Utusan itu pamit pergi.


“Tuan Putri, Gaun anda sudah siap.” Anita dan Ana masuk membawakan kotak pakaian Azzura dari penjahit kerajaan.


“Alwar selalu tahu selera ku,” Senyum nya.


“Tuan Putri, apa ini tidak terlalu sederhana?” Tanya Ana.


“Ish kau ini, meski baju nya sederhana, tapi siapa dulu yang memakainya.” Kesal Anita.


“Ah benar, dulu saat tuan putri membantu para pelayan untuk memasak, astaga pesona anda waktu itu sungguh menakjubkan. Padahal anda memakai celemek saat itu.” Dengan sedikit tertawa Ana mengingat kejadian itu.


“Seperti apapun baju itu, aku tidak mau menjadi pusat perhatian, yang ingin menikah kan Kak Vanesa,” Ucap Azzura bijak.


“Benar, maafkan aku Tuan Putri” Ana menunduk.


“Ada apa?” Anita memperhatikan perubahan wajah Ana.


“Tidak, hanya saja aku sedikit kasihan pada Nona Vanesa.” Ucap Ana.

__ADS_1


“Memang ada apa dengannya?” Anita semakin penasaran.


“Aku mendengar berita di antara para pelayan jika Pangeran Chiko bukan laki-laki yang baik, saat perlombaan kuda beberapa waktu lalu dia banyak menggoda gadis-gadis, bahkan pengawalnya menemukan dia mabuk di Bar setelah Acara di Mansion waktu itu.” Ana dengan semangat menceritakan apa yang dia dengan.


Azzura yang juga mendengarnya tidak kaget, karena memang seperti itulah sifat Chiko, dan itu juga alasan dia menjodohkan Vanesa padanya.


“Ana kau tahu apa hukuman bagi yang bergosip?” Sinis Azzura.


“Maaf Tuan Putri, “ Ana langsung bersujud dihadapan Azzura.


“Jangan sampai berita ini keluar lagi dari mulut kalian,” Ucapnya dengan tegas.


“Mengerti,” Dengan serempak Ana dan Anita menjawab.


“Dimana Fidel?” Tanya Azzura.


“Ah, anak itu semenjak anda memberinya banyak bunga, dia berlari kesana kemari untuk menanam bunga dimana-mana. Karena Ratu tahu dia pelayan anda Ratu juga membiarkannya menanam di Taman Yang Mulia.” Ana sedikit kesal.


“Biarkan, jangan ganggu dia tetapi jika ada yang mengganggunya laporkan pada ku,” Perintah Azzura.


“Baik,”


“Satu lagi, aku akan pergi sebentar. Jika ada yang menanyakan diriku bilang saja sedang pergi dengan Paman Felix,” Ucapnya.


“Baik Tuan Putri, tapi anda mau kemana?” Ana penasaran.


“Nanti kau juga akan tahu,” Azzura pergi ke kamar mandi untuk bersiap.


Karena besok malam akan diadakan pesta lajang untuk Vanesa, yang akan diadakan di Vila Selatan Kerajaan Barat, Azzura harus mendapatkan sebuah informasi malam ini.


Sementara kesibukan di dalam Istana termasuk di lokasi Pesta nanti malam sudah sangat sibuk, Fasilitas dan ruang yang digunakan harus cukup memadai untuk menampung para gadis yang datang.


Undangan pesta juga sudah disebar beberapa waktu yang lalu, semua putri kerajaan, Putri bangsawan dan Putri-Putri para pengusaha diundang oleh Vanesa.


“Aku akan menjadi pusat perhatian,” Batin Vanesa dengan terus memandang Gaun Pestanya.


“Ah, bagaimana dengan Gaun pernikahan ku dan segala perhiasannya?” Tanya vanesa pada pelayannya.


“Sudah disiapkan di Ruang khusus Nona,” Jawab pelayan tersebut.


Vanesa tersenyum bahagia, dia membayangkan hari-hari indah bersama Pangeran Chiko akan datang.

__ADS_1


__ADS_2