The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 116


__ADS_3

Azzura langsung duduk sesampainya di ruang kerja Felix, karena Felix tidak ada jadi Azzura memilih langsung duduk.


Dengan membawa buku milik kakeknya Azzura kembali berdiri dan berjalan-jalan memeriksa isi ruang kerja Pamannya itu. “Sepertinya pekerjaan dia semakin menumpuk,” Dengan sedikit tertawa senang.


Memang ada sisi jahil dirinya kepada sang Paman dan ingin membuat Pamannya sibuk dengan banyak pekerjaan.


Tidak lama Felix datang dengan membawa buku seperti orang terburu-buru, dia terkejut ketika Azzura sudah melipat tangan di dada dan menatap dirinya.


“Ah Tuan Putri,” Ucapnya santai.


“Sepertinya kita tidak memiliki janji,” Ucapan Felix membuat Azzura langsung tersenyum.


Dia paham jika sang Paman kesal dengannya karena semua pekerjaan yang di rencanakan dan sedang berjalan oleh Azzura diserahkan semua kepada Felix.


“Paman… jangan seperti itu.” Azzura merangkul tangan Pamannya dan Felix hanya menghela nafas kesal.


“Ada apa?” tanya Felix.


“Ah, sebentar,” Azzura mengambil buku milik Kakeknya dan membuka lembaran buku tersebut.


“Paman duduklah disini,” Ajak Azzura dan Felix langsung duduk bersamanya di sofa ruangan itu.


“Kau mengetahui tentang permata ini?” tunjuk Azzura.


Felix melihat dengan seksama dan meraba gambar tersebut. “Jika aku tidak salah ini permata Hitam yang langka milik Kerajaan Timur.” Ucapnya dengan melihat kearah Azzura.


“Mengapa?” Tanya Felix sedikit bingung.


“Tidak tahu, jadi aku harus menanyakannya pada Pangeran Andres?” Ucapnya.


“Sepertinya, dia pasti lebih memahami lagi.” Jawab Felix.

__ADS_1


Azzura menutup buku tersebut dan menatap kedepan. “Tuan Putri ada apa?” Tanya Felix heran dengan melamun nya Azzura.


“Aku seperti malas memberitahukan masalah ku pada nya Paman.” Ucap Azzura.


“Mengapa?” penasaran Felix.


“Aku terlalu banyak merepotkannya, dia selalu membantu ku. Bahkan hampir kehilangan nyawa disaat kami akan membongkar kejahatan Keluarga Cartez.” Jelas Azzura dengan tersenyum pada Felix.


Saat mereka ingin menangkap saksi dan pelaku di penginapan milik keluarga Cartez dan juga di tambang. Terjadi pertarungan sengit antara Andres dan beberapa orang.


Dia terkena tusukan pedang untungnya tidak Fatal, dia merasa sudah membahayakan nyawa orang lain dan juga tidak enak pada Ratu Reyna karena dia Andres terluka.


“Itu mengapa dia menjadi Pangeran Mahkota.” Ucap Felix membuyarkan lamunan Azzura.


“Maksud Paman?”


“Andres memiliki jiwa welas asih dan kejujuran tingkat tinggi, sehingga Ayahnya yakin dia bisa menggantikan dirinya kelak.” Jelas Felix seraya berjalan ke meja kerjanya.


“Felix memiliki saudara laki-laki lainnya yang tidak bisa mereka beritahukan ke luar.” Ucap Felix dan mengejutkan Azzura.


Azzura hanya mengetahui jika selama ini mereka dua bersaudara, mengapa jadi ada yang lain. Anita datang memberi tahu jika Andres sudah menunggunya untuk bertemu.


“Aku harus pergi paman.” Ucap Azzura dan langsung berdiri pergi.


“Baiklah,” dengan tersenyum Felix mempersilahkan.


Dari kejauhan Azzura sudah melihat Andres yang sedang memperhatikan Kuda-kuda berlatih. Dengan menghela nafas dia mendekati Andres.


“Apakah kau sudah menunggu lama?” Tanya Azzura tiba-tiba.


“Ah, hormat ku Tuan Putri,” Sopan Andres yang langsung berbalik.

__ADS_1


Azzura tersenyum dan membalas dengan anggukan. Mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Berbincang tentang banyak hal, Azzura merasa sudah cukup mengenal Andres karena banyak pekerjaan dan kejadian yang membuat mereka saling terhubung.


Dari kejauhan Vanesa yang melihat keakraban mereka berdua langsung merasa semakin kesal dan ini pemandangan yang buruk untuknya.


“Mengapa Pangeran dari Timur itu semakin akrab dengan Azzura?” batinnya bertanya-tanya.


“Tuan putri semua sudah siap, mari.” Ajak Pelayan Vanesa memberitahunya karena tiba-tiba berhenti.


“Ayo,” Vanesa akan berangkat menjenguk sang Kakek.


Saat sampai di Gerbang Kastil Oro Vanesa langsung merasa takjub, Kastil ini di rubah menjadi lebih baik meski tampak gersang, namun tidak seperti terakhir dia melihatnya yaitu semak belukar.


Pintu Gerbang dibuka dan ada tiga orang penjaga yang berdiri. “Nona Vanesa,” Hormat mereka.


Vanesa masuk dengan perlahan, tidak terlalu terang namun tidak juga redup pencahayaan di dalam kastil. Dia langsung disambut pelayan senior.


“Nona, anda sudah sampai,” Ucap Pelayan itu.


Tidak lama Tuan Taigo menghampiri. “Anda?” Bingung Vanesa karena Tuan Taigo masih ada disini.


“Benar, Raja memperbolehkan hamba menemani Tuan Cartez namun tidak mengizinkan untuk akses keluar.” Jelas Taigo yang sudah mengetahui arah pertanyaan Vanesa.


Vanesa hanya mengangguk. “Mari saya antar ke kamar Kakek anda.” Meraka berjalan ber iringan.


Ketika pintu kamar dibuka Vanesa langsung melihat tubuh lemah sang kakak, dulu dia terlihat gemuk namun saat ini hanya ada kulit yang melapisi tulang.


“Kakek…” Dengan sedih dan sedikit berlari Vanesa menghampiri kakek nya.


Namun Tuan Cartez hanya melihat sesaat tanpa membalas panggilan itu. “Untuk apa kau datang.” Kesal Tuan Cartez.

__ADS_1


“kakek, mengapa kau mengatakan itu? Aku cucu mu…” Kesal Vanesa mendengar pertanyaan kakek nya.


__ADS_2