The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 107


__ADS_3

Setelah selesai dari pertemuan tadi Chiko langsung menuju kamarnya. Dia mendobrak pintu dan melihat Vanesa yang sedang menyiram bunga.


Chiko membuang teko untuk menyiram dari tangan Vanesa dan menamparnya. “Apa lagi mau mu hah? Apa yang ku beritahu semalam kurang jelas?” Dengan berteriak Chiko berbicara pada Vanesa.


Vanesa yang sudah mulai terbiasa dipukuli Chiko hanya tersenyum sinis dengan memegang pipinya. Semua pelayan yang melihat itu langsung menyingkir pergi.


“Apa Ayah dan Ibu mu memarahi Putra Mahkota mereka?” Sindir Vanesa.


“Jaga ucapanmu Vanesa!” Bentak Chiko dengan emosi.


“Apalagi yang bisa ku lakukan Chiko? Kau mengurung ku disini, tidak memperbolehkan aku bertemu dengan ibu ku. Bahkan kau tidak mengijinkan aku bertukar kabar dengan keluarga ku.” Ucap Vanesa dengan tatapan tajam.


Chiko menjambak rambutnya dan mengarahkan wajah Vanesa padanya. “Aku tidak akan pernah mengijinkan mu kemana pun sampai kau menurut dengan semua perintah ku.” Ucapnya dengan sedikit mengancam.


“Berarti tidak ada kewajiban juga aku menuruti mu,” Balas Vanesa.


Chiko membanting Vanesa ke tanah membuat dirinya tersungkur dan kepalanya hampir membentur meja.


“Lanjutkan Chiko, pukuli aku, agar aku bisa mati ditangan mu dan kau akan menyesalinya seumur hidup mu!" Teriak Vanesa namun membuat Chiko tertawa.


“Hey Nona Vanesa cantik, jangan kau pikir aku akan menyesal jika kau mati ditangan ku. Aku rasa kau benar-benar tidak tahu siapa Suami mu ini sebenarnya.” Dengan sedikit meremehkan Chiko berdiri.


“Pelayan!” Teriaknya.


Para pelayan yang berada di luar masuk dan menghadap Chiko. “Rapihkan Putri Mahkota aku akan membawanya menghadap pada Raja.” Perintahnya dan Chiko pergi dari kamar itu.


Para pelayan bergegas membantu Vanesa bangkit. “Tuan Putri mari ku bantu,” Ajak Pelayan itu.


Vanesa dengan susah payah berdiri karena lututnya juga sedikit lecet saat dibantung Chiko tadi. “Ya Tuhan lutut anda terluka Tuan Putri,” Ucap pelayan yang melihat ada noda darah di gaun bagian bawah Vanesa.


Bibi kepala Pelayan langsung menhampiri. “Ambil Gaun yang baru dan obati Luka Tuan Putri,” Ucapnya dengan cepat.


“Orang seperti apa Pangeran kalian itu,” Sindir Vanesa dengan sinis.

__ADS_1


Bibi kepala pelayan hanya tersenyum seraya membantu Vanesa berganti baju dan mengobati lukanya.


“Ini menjadi pelajaran anda Tuan Putri,” Ucap Bibi Pelayan.


“Maksudnya?”


“Ambisi dan keserakahan akan menutupi semua kenyataan.” Ucapnya dan dia berdiri setelah memperban lutut Vanesa.


Vanesa terdiam, memang benar karena ambisinya untuk menjadi Ratu dan mengalahkan Azzura membuat dia tidak memikirkan ulang untuk menikah dengan Chiko.


Vanesa tersenyum dan sedikit tertawa. “Apa sekarang aku bisa dibilang bodoh?” Ucapnya.


“Anda bisa merubah semuanya.” Ucap Bibi pelayan.


“Bagaimana?”


“Turuti semua mau Suami anda dan layani dia dengan baik.” Saran Bibi Pelayan.


“Cuih, sampai mati aku tidak akan pernah menuruti apa mau laki-laki menjijikkan itu.” Vanesa merasa sangat muak dengan Chiko.


Vanesa terdiam dan mencoba memikirkan apa kata Bibi Kepala Pelayan.


Di Pagi hari Lily sudah heboh karena tubuhnya yang terasa gatal dan mengeluarkan air dari bekas garukan yang dilakukannya.


Selir Inez bingung dengan apa yang terjadi pada Putrinya. “Mengapa Loiz tidak datang juga?” Tanya Selir Inez dengan berteriak.


“Dokter Loiz sedang ada di Kota Selir, jadi kemungkinan siang baru tiba.” Jawab Pelayan itu dan itu sudah jawaban ke sekian kalinya.


“Ibuuuuu…. Perih!” Keluh Lily dengan berteriak.


Semakin lama semakin banyak bintik dengan rasa gatal yang di alami Lily. Sang Ibu yang tadinya kasihan malah menjadi sedikit jijik Ketika ada sedikit aroma tidak enak.


“Lily hentikan, jangan digaruk lagi,” Ucap Selir Inez.

__ADS_1


“Tapi semua ini sangat gatal bu, aku tidak tahan.” Jawabnya dengan masih menggaruk.


“Pelayan, ikat dia.” Perintah Selir Inez yang tidak tahan dengan Tindakan Lily menggaruk tubuhnya.


“Bu, apa yang kau lakukan?” Lily panik dan memberontak Ketika akan diikat di ranjangnya.


“Diam, ini demi kebaikan mu.” Bentak sang Ibu.


Setelah diikat lily tetap tidak tahan dengan rasa gatal di tubuhnya dan menggeliat seperti ingin terus menggaruk.


Ratu Elena mendengar apa yang terjadi pada Lily dan dia menengok kekamarnya. “Apa ada dengan Lily?” tanyanya pada pelayan karena dilarang masuk melihat tubuh Lily yang mengeluarkan bau tidak enak.


“Kami kurang tahu Yang Mulia, pagi tadi dia sudah berteriak karena merasakan gatal pada tubuhnya. Sprei dan baju semua sudah diganti, bahkan Nona Lily sudah mandi dan berendam berkali-kali karena merasa ada yang berjalan di tubuhnya.” Jelas pelayan yang sejak pagi setia disamping Lily.


“Dimana Loiz?” Tanya Sang Ratu karena Loiz yang bertanggung jawab atas Kesehatan Keluarga kerajaan belum datang.


“Dokter Loiz sedang kekota, sudah ada yang mengabari kemungkinan nanti siang baru tiba.”


Tidak lama Loiz dengan berlari mendekati kamar Lily. “Maaf yang mulia aku datang terlambat.” Ucap Loiz memberi hormat.


“Sudah segera periksa Lily.” Perintah Sang Ratu karena sejak tadi mendengar jeritan Lily sungguh menyedihkan.


Saat Loiz memeriksa Tubuh Lily sudah banyak luka dan itu sangat mengerikan. Loiz mengambil masker dan sarung tangan lalu mendekati Lily.


“Dokter cepat beri obat pada ku.” Tangis Lili sangat menyedihkan.


“Nona Lily aku harap anda bersabar,” Setelah Loiz memeriksanya dia menghadap Ratu dan Selir Inez.


“Aku tidak bisa memastikan Nona Lily mengalami penyakit apa, tapi aku sudah memberikan suntikan Pereda nyeri padanya dan juga obat penenang.” Ucap Loiz.


“lalu bagaimana dengan Lily jika tidak diketahui sakit apa?” Kesal Selir Inez pada penjelasan Loiz.


“Dari luka dan rasa gatal yang diderita Nona Lily kemungkinan ini sejenis cacar, tapi itu baru perkiraan ku. Sementara jangan ada yang mendekati Nona Lily, untuk yang sudah bersentuhan harap mengganti pakaian dan mandi dengan air hangat. Untuk pakaian jika bisa jangan di pakai lagi atau langsung dibakar.” Saat mendengar penjelasan Loiz pelayan langsung menarik Ratu Elena menjauh dari Selir Inez.

__ADS_1


“Apa-apaan kalian?” Selir Inez merasa tersinggung.


__ADS_2