
“Jangan kalian pikir bisa lari dari sini,” masih teriak Azzura.
Semua langsung terdiam melihat penjagaan yang begitu ketat. “Apa-apaan ini?” Teriak Mentri-mentri tadi.
Para bangsawan pendukung Tuan Cartez juga kelabakan ingin lari namun dihadang oleh para pengawal dan prajurit.
Vanesa semakin panik dan mengumpat atas ketidak pedulian Chiko untuk mendukungnya, karena itu tiba-tiba Vanesa merasakan sakit pada perutnya dan terduduk dengan merintih. “Vanesa,” Panggil Tuan Cartez.
Chiko sendiri tetap menunggu dengan tidak tenang di dalam kamar Vanesa, sebenarnya dia ingin ikut dengan Vanesa karena menghawatirkan kandungannya namun hatinya tidak menginginkan melihat kekacauan.
"Apa aku harus kesana dan melihat keadaan?" Gumam Chiko.
"Aaah... terserah." dengan bergegas Chiko berjalan cepat kearah Aula.
Ketika tiba, sudah terjadi keributan dan Aula sudah dijaga ketat oleh Pengawal berlapis lapis di setiap pintu.
"Dimana Putri Vanesa?" Tanya nya pada pelayan Vanesa yang menunggu khawatir diluar.
"Entahlah Pangeran, aku tidak diperbolehkan ikut oleh Tuan Putri." jawab pelayan itu.
“Vanesa, ada apa dengan mu?” Tanya Tuan Cartez.
Vanesa hanya meringis kesakitan dan tidak lama keluar darah dari bawah kakinya. “Apa?” Tuan Cartez berteriak.
"Cariann tolong Vanesa, dia juga Putri mu!" Marah Tuan Cartez karena sikap acuh Raja Cariann.
“To..long.. Sakit.” Rintih Vanesa.
“Tangkap semua pejabat yang ada disini, masukkan mereka ke penjara dan jangan biarkan satu pun lolos sampai pengadilan nanti memutuskan hukuman untuk mereka.” Perintah Raja Cariann tanpa memperdulikan kondisi Vanesa.
Vanesa di papah oleh Pengawal keluar Aula, Chiko melihat itu dan melihat kakinya sudah berdarah.
"Ada apa ini?" khawatirnya dengan mendekat kepada Vanesa.
"Nona Vanesa mengalami sakit pada perutnya dan mengeluarkan darah." jelas Pengawal itu.
Chiko hanya menatap sedih dengan kondisi Vanesa. Tuan Cartez juga memegang dadanya yang terasa sesak tidak lama Dokter datang memeriksa Vanesa dan Tuan Cartez.
Tuan Cartez yang pingsan dan segera dibawa keluar untuk kembali ke Kastil Oro dan dilakukan pengecekan, sementara Vanesa di bawa keruang Periksa karena mengalami pendarahan hebat.
Sebenarnya, semua yang dilakukan Vanesa beberapa hari ini untuk mengumpulkan kekuatan sudah di patahkan Azzura secara langsung. Hanya tiga mentri tadi yang tidak bisa disentuh Azzura karena pengaruh mereka terlalu kuat.
__ADS_1
Azzura berhasil mengumpulkan surat edaran kudeta yang dibuat oleh orang-orang Vanesa, bodohnya Vanesa adalah tidak memikirkan lebih matang dan tidak mengkondisikan rencananya dengan baik, sehingga dengan mudah bisa dikacaukan oleh Azzura.
“Terlalu besar ambisi mu Vanesa, tapi otak mu terlalu bodoh.” Remeh Azzura melihat terpuruknya Vanesa dengan sinis.
Segera saja, kabar Meninggalnya Tuan Cartez tersebar dan rencana peng kudetaan Raja Cariann olehnya juga menyebar luas, sehingga terdampak pada keluarga yang lain dan dikucilkan.
Vanesa benar-benar mengalami keguguran dan pendarahan yang hebat, saat ini kondisinya kritis.
Rakyat yang berkumpul dan memaksa masuk adalah pendukung Raja Cariann semua, bukan pendukung Keluarga Cartez. Mereka juga tidak setuju dengan kudeta yang dilakukan Keluarga Cartez.
Raja Cariann membaca semua laporan para mentri yang ikut mendukung Gerakan Keluarga Cartez. “Mereka semua penghianat Kerajaan.” Kesalnya karena mereka semua juga melakukan korupsi besar-besaran.
“Pantas saja keuangan Kerajaan mengalami kemerosotan yang amat drastis,” Raja Cariann menghela nafas.
Sudah dapat dipastikan orang-orang itu akan dihukum berat atas kejahatannya, kali ini Raja tidak akan mengenal ampun dan belas kasihan lagi.
Sementara surat dukungan dari berbagai kerajaan mulai berdatangan, mereka menyatakan dukungannganya atas kepemimpinan Raja Cariann dan tidak menyetujui akan kudeta yang dilakukan.
Vanesa masih dirawat dan dengan setia Chiko masih menemaninya, Azzura datang untuk melihat kondisi Vanesa.
“Tuan Putri,” Hormat Chiko Ketika melihat Azzura datang.
“Bagaimana kondisi Kak Vanesa?” Tanya Azzura.
“Aku turut berduka cita Pangeran, tetapi kakak juga harus tetap menjalani hukuman nya.” Ucap Azzura dengan ragu.
“Apa?” Chiko terkejut.
“Benar, Raja tetap memutuskan Kak Vanesa akan menjalani hukumannya di Kerajaan Barat dan tidak memperbolehkannya Kembali Ke Frio.” Seraya menyerahkan surat keputusan dari Raja Cariann.
Dengan gemetar Chiko membaca surat itu dan terduduk lemas. “Pangeran.” Khawatir Azzura.
“Aku akan kembali ke Frio, sebelum itu aku akan menemu Raja Terlebih dahulu.” Ucap Chiko tanpa melihat Azzura.
“Baiklah, Aku pamit.” Azzura pergi meninggalkan Chiko yang dirundung kesedihan.
Kehilangan calon penerusnya dan Istrinya masih terbaring lemah namun harus menjalanani hukuman karena perbuatannya sendiri, benar-benar membuat Chiko depresi.
Chiko mendatangi Raja Cariann. “Hamba menghadap Yang Mulia.” Hormatnya.
Raja Cariann hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun. “ Yang Mulia, hamba mengaku salah.” Ucapnya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Raja menghela nafas. “Pangeran, aku kecewa pada mu karena menyetujui semua rencana Vanesa, tapi aku juga memahami kondisi mu yang tidak mau berdebat dengan Vanesa karena melihat kondisi kandungannya.”
“Aku hanya ingin saat ini kau membuat keputusan yang terbaik.” Ucap bijak sang Raja.
“Aku mengaku salah, aku akan menyerahkan Vanesa pada kalian. Apapun keputusan untuknya aku terima.” Ucap Chiko dengan sedih.
“Tapi bolehkah hamba memohon sesuatu?” Tanya nya.
“Apa itu?” Raja menanggapi.
“Bolehkah aku berpamitan terlebih dahulu dengannya saat dia sadar nanti.” Pinta Chiko dengan tetap menunduk malu.
Raja terdiam. “Baiklah.” Ucapnya
“Terima Kasih yang mulia. Aku pamit.” Hormatnya seraya mundur untuk pergi.
Vanesa sudah sadar dari komanya dan langsung berteriak histeris. “Nona tolong tenangkan diri anda.” Ucap salah satu perawat.
Tidak lama Chiko datang dengan berlari karena mendengar suara teriakan. “Vanesa!"Panggilnya.
Vanesa terdiam dan menatap Chiko yang datang mendekat. “Suami ku, tolong… tolong bawa aku pergi dari sini. Aku sangat tidak mau ada disini.” Pintanya dengan menangis.
Chiko hanya terdiam dan memegang tangan Vanesa yang mencengkram kencang. “Chiko mengapa kau hanya diam saja?” desak Vanesa.
“Vanesa tenanglah.” Pinta Chiko lagi.
“Aku tidak bisa tenang, bawa aku pergi dari sini ku mohon…”
“Vanesa diam dan tenanglah!” Teriak Chiko dengan kesal dan menatap tajam Vanesa.
Vanesa seketika terdiam, para perawat yang melihat itu langsung memilih untuk keluar membiarkan suami istri itu bicara.
“Kau harus tetap menjalani hukuman mu disini.” Jelas Chiko.
“Tidak…aku tidak mau.” Marah Vanesa.
“Kau tidak punya pilihan, kau harus menjalani hukuman mu dan menerima semua kesalahan yang kau lakukan.”
“Chiko aku mohon jangan tinggalkan aku, aku sedang mengandung ahli waris mu.” Rayu Vanesa.
Chiko menghela nafas menyiapkan diri untuk menyampaikan jika Vanesa mangalami keguguran. “Kau sudah kehilangan anak itu, bayi kita.” Ucap Chiko dengan jelas.
__ADS_1
Vanesa terdiam dan menatap kosong Chiko, mendengar ucapan Chiko Vanesa tidak bisa menjawab dan kebingungan.