
Mereka bertiga yang asik berbincang, sehingga tidak sadar malam semakin larut. “Sepertinya kita harus menyudahi perbincangan malam ini Pangeran.“ Ucap Ratu Elena seraya berdiri.
Pangeran Andres yang ikut berdiri memberi hormat. “Terima kasih atas jamuannya Ratu,” dengan sopan.
“Sama-sama, kau adalah Putra Mahkota Kerajaan Timur, aku sangat tersanjung dengan kunjungan mu.” Balasnya.
“Ah iya, kapan kau akan kembali?” Tanya Ratu lagi.
“Kemungkinan lusa yang mulia Ratu, masih ada yang harus aku selesaikan.” Jawab Andres.
“Jika seperti itu sebelum kau pergi temui aku lebih dahulu, ada yang ingin aku titipkan untuk Ibu mu,” Ratu mengingatkan.
“Tentu Yang mulia,” setelah itu Ratu Elena pergi meninggalkan mereka berdua.
“Terima Kasih Pangeran sudah menjelaskan dengan baik pada ibu ku, “ ucap Azzura dengan lembut.
“Jangan sungkan Putri,” ucap Andres.
“Sudah malam, jika begitu aku pamit terlebih dahulu. Selamat malam Putri Azzura.” Andres pamit dengan sopan.
Azzura membalas hormatnya dan mempersilahkan Andres untuk pergi, sedangkan dia masih diam ditempat dan memikirkan sesuatu.
“Besok aku harus menemui Paman,” batinnya.
Setelah semua pergi, Azzura langsung kembali ke kamarnya juga. Namun sesampainya dikamar dia tidak melihat siapa pun disana. “padahal belum masuk waktu tidur tapi kemana semua orang,” batinnya.
Azzura pergi ke taman dibelakang kamarnya mencari semua orang dan ternyata melihat mereka bertiga yang sedang berkumpul.
“Ada apa?” Azzura menghampiri.
Mereka bertiga memberi hormat. “Tanaman ini tiba-tiba mati Putri,” Ana menunjukan bunga mawar yang tadinya hidup dengan segar. Namun tiba-tiba saat dia ingin mengambil ember ditaman lalu melihat bunga itu yang sudah mati.
Azzura mendekati mawar itu dan merasakan aura sihir yang kuat. “Gawat,” ucapnya.
__ADS_1
“Kubur tanaman ini sekarang, dan jangan sampai menyentuhnya.“ Perintah Azzura pada mereka bertiga.
Fidel segera mengambil cangkul dan menggali lubang sedalam sepuluh centi lalu mencangkul bunga itu dan menguburnya tanpa menyentuh sesuai perintah Azzura.
Azzura melihat sekeliling taman itu, tidak ada yang mati selain bunga ini. “Masuk!” Azzura masuk kekamar diikuti tiga pelayannya.
“Jika ada menyentuh mawar itu segera membersihkan diri.” Ucapnya dengan wajah serius.
“Kami tidak ada yang menyentuhnya Putri,” ucap Anita.
”Apa ada hal aneh selama aku tidak ada dikamar?” tanya Azzura lagi.
Semua orang berfikir dan Anita membuka mulutnya. “Hanya ada seorang pelayan yang mengantarkan air hangat untuk anda Putri, tapi karena anda tak kunjung datang dan air itu menjadi dingin jadi aku membuangnya di.. “ Ana terhenti membuat semua orang menatapnya.
“Aku membuang air itu untuk menyiram mawar tadi, tunggu jangan-jangan... “ dia menatap Azzura.
“Jangan kau ucapkan,” Azzura menghentikannya.
“Ada yang ingin mempermainkan ku. Ingat mulai sekarang jangan menerima apapun itu, baik makanan, minuman atau barang lainnya tanpa persetujuan ku langsung. Jika ada yang seperti itu taruh saja di depan kamar atau bilang pada yang mengantar aku tidak mau menerima apapun dari orang lain, Paham!” tegasnya.
“Tidak ku sangka mereka langsung ingin membunuh ku,” senyumnya sinis.
Dia langsung menatap ke tiga pelayannya lagi. “Ada yang ingin kebanyakan, " Ucap Azzira semakin serius.
Mereka bertiga hanya diam dengan sedikit bingung.
"Apa kalian benar-benar dapat aku percaya?” ucap Azzura lagi dengan nada bicara yang sama.
Mereka bertiga saling pandang mendengar pertanyaan Azzura. Dengan serentak mereka berlutut pada Azzura. “Sampai mati kami akan setia pada anda Tuan Putri,” Diwakili Anita.
Azzura menatap mereka bertiga yang berlutut, “Aku pegang ucapan kalian, berdirilah. “ Azzura berjalan keranjang.
“Seperti kalian tahu, jika semenjak aku menjadi Putri Mahkota, ada saja yang ingin mencelakai ku. Mungkin juga kalian akan terkena imbasnya. Apa kalian sanggup?” Tanya Azzura dengan santai.
__ADS_1
“Kami siap. alApapun itu yang akan terjadi, dan juga kami akan selalu melindungi anda.” Ucap Anita lagi.
Azzura yang sudah penasaran dengan Anita langsung tersenyum dan menatapnya. “Kembalilah ke kamar kalian dan beristirahat lah.” Perintahnya dan mereka bertiga mundur pamit.
Disisi lain Ratu Elena masih gusar mengenai pembicaraannya dengan Pangeran Andres tadi, jika memang ada yang memainkan sihir di Kerajaannya ini. Maka ini sangat berbahaya. “Apakah aku harus memberitahukan nya?” Batinnya memikirkan Raja Cariann.
“Ah, tidak. sebelum aku memiliki bukti yang kuat.” Ratu Elena memilih pergi langsung pergi tidur.
Dipagi hari Selir Inez sudah membuat keributan dengan memarahi pelayan yang menumpahkan air pel dilantai membuat diri hampir terjatuh.
“Apa kau tidak mempunyai mata, atau tidak bisa bekerja hah! “ teriaknya yang membuat pagi hari diistana rius kencang.
Selir Maya yang bertanggung jawab pada setiap pelayan langsung menghampiri sumber keributan. “Selir ada apa ini? “ tanya nya panik.
“Dari mana kau mendapatkan pelayan bodoh seperti ini hah?” Selir Inez bertolak pinggang.
Selir Maya menghela nafas mendengar teriakan Selir Inez. “Selir tenangkan emosi mu, Raja sedang ada di Istana. Jika dia mendengar keributan maka kita semua dalam masalah.” Ucap Selir Maya dengan pelan.
“Bukan kah bagus Raja ada di Istana, kebetulan aku akan meminta keadilan untuk Lily!” dengan marah dia pergi ke ruang pertemuan Kerajaan.
Semenjak Lily dikirim ke Asrama pendidikan Kerajaan, Selir Inez selalu membuat kehebohan dengan menyalahkan Azzura dan yang lain.
“Selir tunggu, kau jangan seperti ini.” Selir Maya menghalanginya.
“Minggir kau, atau aku akan ikut melibatkan mu juga.” Bentaknya supaya Selir Maya menyingkirkan.
Tapi Selir Maya yang tidak mau ada keributan jika Selir Inez mengadu pada Raja, masih terus menghalanginya.
“Biarkan dia pergi Ibu Selir Maya, " Azzura datang dari belakang mereka.
Semua pelayan yang berkumpul menundukan kepalanya memberi hormat. Sedangkan Selir Inez malah melipat tangannya didada.
“Kau cukup sombong dan percaya diri juga Azzura,” ejek Selir Inez.
__ADS_1
Azzura tersenyum dan menghampiri dua orang Selir Yang sedang berselisih itu.