The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 86


__ADS_3

“Dimana Putri Mahkota?” Raja bertanya karena Azzura cukup lama tidak muncul.


“Mungkin masih tertidur Yang Mulia, semalam mereka berpesta sampai larut,” Ucap Ratu Elena.


“Tapi kami saja sudah datang Ibu Ratu,” Ucap Lily dan menunjuk Vanesa.


Vanesa hanya diam dan tersenyum mendengar ucapan Lily, sedangkan Ratu menjadi bingung kemana Putrinya.


Tidak lama Azzura datang seorang diri, berjalan dengan tetap anggun tanpa menunjukan ke anehan apapun. Semua orang yang melihat kedatangannya langsung terdiam.


Sang Ratu dan Raja tersenyum ketika melihat Azzura, sedangkan Lily. “Mengapa kau bisa bangun?” Teriaknya mengejutkan semua orang.


Azzura tersenyum kemenangan. “Dapat.” Batinnya dengan memandang Lily.


“Apa maksud mu Lily?” Tanya Yang Mulia Raja dengan marah.


Selir Inez hanya menutup wajahnya dengan kesal karena kelakuan Lily.


“Ah, maafkan yang mulia aku…aku..” Dengan tergagap Lily kebingungan.


Azzura mendekat dan berbicara. “Ayah, mungkin Lily khawatir karena semalam aku sudah sangat lelah.” Azzura yang duduk disamping Raja mencoba membela Lily.


Lily mendengar kata-kata Azzura hanya bisa mencengkram tangannya saja. “Seberapa larut kalian semalam?” Raja menggeleng karena heran.


“Ya sudah, ayo sarapan.” Ajak Raja Cariann.


Setelah sarapan Lily langsung kekamar nya dan mencari pelayan. “Cepat cari pelayan yang aku tugaskan semalam dan panggil Guru Adana.” Perintah Lily.


Selir Inez yang ikut masuk bingung dengan apa yang dilakukan Putrinya. “Ada apa ini Lily?” Melihat Putrinya hanya kebingungan dan panik.


“Bu, bagaiman ini?” Lily terlihat sangat ketakutan.


“Ada apa? Mengapa kau terlihat sangat takut?” Sang Ibu menjadi khawatir.


Tidak lama Guru Adana datang. “Hamba menghadap Selir, Nona.” Hormatnya.


“Siapa ini?” Tanya Selir Inez.

__ADS_1


“Kenalkan bu, ini Guru ku di Asrama Nyonya Adana. Dia aku ajak datang kesini karena selama ini banyak membantu diri ku,” Ucap Lily memperkenal kan.


“Seperti itu rupanya,” Jawab Selir Inez yang memandang Adana dari atas sampai bawah.


“Lalu mengapa dia ada disini?” Tanya Selir Inez lagi.


“Adana kemari,” Ajak Lily mendekat sedangkan ia dan Ibunya duduk di Sofa.


“Mengapa Azzura tetap baik-baik saja?” Tanya Lily sedikit kesal.


“Apa? Tidak mungkin Nona. Aku sudah bisa memastikan setidaknya pagi ini dia akan sulit untuk bangun dari ranjangnya,” yakin Adana.


“Apa aku terlihat membual? Jelas-jelas Azzura masih berjalan seperti sedia kala.” Lily semakin kesal.


“Apa anda yakin sudah menempatkan benda itu di tempat yang aku suruh?” Tanya Adana lagi.


“Jelas, aku sudah menyuruh pelayan luar dan dipastikan oleh pelayan ku,” Yakin Lily.


“Tunggu, Tunggu… ada apa ini? Jelaskan pada Ibu Lily,” Selir Inez semakin bingung.


“Apa? Sihir?” Selir Inez terkejut mendengarnya.


“Kau sudah Gila hah?” Selir Inez memukul pundak Putrinya.


“Aduh Ibu… Sakit.” Keluh Lily.


“Apa kau bodoh hah? Kau tahu Sidang Bibi Ula saja belum tuntas namun kau malah mencari mati dengan menggunakan Sihir langsung kepada Azzura.” Marah Selir Inez.


“Ibu…” Lily mencoba menenangkan Ibunya.


“Selir, anda jangan takut, Sihir yang ku pakai tidak akan terasa oleh orang lain, bahkan orang yang memiliki keahlian Sihir pun Akan sulit mengetahuinya.” Adana meyakinkannya lagi.


“Aku tidak perduli, jelas tadi Azzura masih sehat seperti tidak ada yang terjadi dengan nya,” Selir Inez semakin marah.


Adana dan Lily terdiam. “Jika sudah terlanjur seperti ini kita tidak bisa diam saja, kemungkinan Azzura sudah mengetahuinya tapi tidak memiliki bukti.” Ketika Selir Inez berbicara seperti itu datang pelayan Lily.


“Nona, pelayan yang anda perintahkan semalam sudah menghilang.” Ucap pelayan itu dengan bingung.

__ADS_1


“Menghilang?” Lily terkejut.


“Ini berbahaya,” gumam Selir Inez.


“Apa yang bahaya bu?” Tanya Lily lagi.


“Jika dia menghilang bisa jadi Azzura sudah menangkapnya,” Ucap Selir Ines khawatir.


“Tidak, memang aku yang menyuruhnya pergi setelah melakukan tugasnya, tapi aku tidak menyangka secepat ini,” Lily menjelaskan namun heran juga.


“Mungkin dia terlalu takut Nona,” Adana mencoba menenangkan mereka.


“Yang jelas kita harus berhati-hati. Jika ada yang mengetahui hal ini kalian yang melakukannya, maka akan sangat berbahaya.” Selir Ines memperingatkan.


“Dan satu lagi, kita tunggu perubahan Azzura. Sampai saat itu jangan melakukan apapun tanpa persetujuan ku. Mengerti?,” Ancam Selir Inez lagi.


“Baik bu,” Jawab Lily menunduk.


Semua kembali tenang, sampai waktu Pesta pernikahan Vanesa hampir tiba. Sudah beberapa hari Azzura tidak terlihat di Istana. Dia menghilang dan tidak ada yang tahu.


“Aku tidak peranh melihat Azzura kak,” Tanya Lily saat menemani Vanesa merawat diri sebelum hari pernikahannya.


“Aku tidak memperdulikan dia,” Jawab Vanesa acuh.


“Ish kau ini, jika dia merencanakan sesuatu saat pernikahan mu bagaimana?” Lily menakuti Vanesa.


Vanesa terdiam, dia tidak pernah berfikir jika Azzura akan melakukan hal itu, selain Azzura yang mengusulkan dirinya untuk menikah dengan Pangeran Chiko, Azzura juga tidak terlihat tertarik pada Chiko.


“Jika dia berani, maka akan ku buat dia menyesal.” Ancam Vanesa.


Lily hanya tersenyum sinis. “Ah iya besok untuk pertama kali kau akan bertemu dengan Pangeran Chiko sebagai calon suami Istri. Bagaimana perasaan mu kak?” Tanya Lily bersemangat.


Vanesa hanya memandang Lily sekilas dengan tersenyum, dia terus melakukan ritual memijatnya kolam susu.


Sejujurnya hati Vanesa sangat berdebar, semakin mendekati hari pernikahan dia semakin tidak bisa menata hati. Antara ragu, dan takut, apalagi sang ibu masih mengeluh dengan keputusannya ini.


Malam pertemuan Vanesa dan Chiko tiba, dia berdandan dengan sangat cantik dan sempurna. Semua orang Tua juga ikut hadir dalam pertemuan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2