
Malam pertemuan tiba, Vanesa dan Selir Luisa sudah bersiap untuk pergi. “Ibu apa aku sudah terlihat sempurna?” Tanya Vanesa yang terlihat gugup.
“Kau sudah sangat cantik Putri ku,” Puji Selir Luisa pada Putrinya.
“Tapi aku sangat gugup, ini pertama kalinya aku bertemu dengannya bu, aku takut mengecewakan saat kesan pertama,” Vanesa terlihat pucat.
“Hais kau ini, siapa yang bisa menolak mu jika terlalu sempurna seperti ini,” Puji Ibunya lagi.
Vanesa memegang tangan Ibunya. “Bu, dukung aku terus, aku akan membawa kita menuju kejayaan,” Yakin Vanesa pada Ibunya.
“Tentu Putri ku, Ketika kau menjadi Ratu kita akan membuat semua kerajaan bertekuk lutut termasuk kerajaan Barat.” Ucap Selir Luisa dengan penuh Ambisi.
Mereka berdua saling memeluk. “Kita harus berangkat sekarang Nona,” Panggil pelayan Istana.
Vanesa dan Selir Luisa berjalan dengan Anggun, di ruang pertemuan telah ada Keluarga Kerajaan Frio, termasuk Chiko yang terpesona melihat Vanesa berjalan masuk.
Raja Cariann dan Ratu Elena juga sudah ada disana terlebih dahulu. “Kalian sudah datang,” Ucap Raja Cariann.
Dengan lembut dan santun Vanesa memberi Hormat pada semuanya, terlihat Vanesa dengan wajah cantik, kulit putih, tinggi dan sikap lembutnya. “Wanita sempurna tidak kalah dengan Azzura,” Pikir Chiko dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.
Vanesa yang terus dipandangi Chiko menjadi salah tingkah dan terus menunduk malu. “Astaga, kau cantik sekali calon menantu ku,” Puji Ratu Frio dengan senang.
“Anda terlalu memuji Yang Mulia Ratu,” Sopan Vanesa.
“Putri ku bukan hanya cantik di luarnya saja tetapi hatinya lebih sangat cantik, kalian tidak salah telah memilihnya,” Bangga sang Selir.
Semua mengangguk setuju, sopan santun dan cara Vanesa menyapa sungguh menunjukan Wanita terhormat.
Raja dan Ratu Barat pun tidak kalah bahagianya, meski Vanesa bukan Putri kandung mereka. Namun dengan pernikahan ini diharapkan jalinan dua kerajaan semakin erat.
“Aku senang, Putra Putri kita saling menyukai satu sama lain. Dan ini adalah kabar yang membahagiakan.” Ucap Raja Cariann.
Semua berbincang dengan akrab, pembicaraan pernikahan mereka berdua sudah dipersiapkan dengan matang.
Pernikahan akan dilaksanakan di gereja Istana, dan pemberkatan juga akan dipimpin langsung oleh pendeta kerajaan.
__ADS_1
“Lebih baik kita beri waktu mereka berdua untuk mengobrol sebentar,” Saran Ratu Frio menunjuk Chiko dan Vanesa yang sejak tadi hanya saling pandang satu sama lain.
Mendengar itu Vanesa dan Chiko tersipu malu. “Ah benar. Kalian keluarlah jalan-jalan untuk saling mengenal lagi.” Perintah Raja Cariann.
“Jika seperti itu kami permisi Yang Mulia, “ Chiko memberi hormat dan diikuti Vanesa dari belakang.
Taman kerajaan Barat Ketika malam sangat indah, jalan yang diterangi lampu obor semakin menambah Susana romantis malam itu.
“Aku tidak menyangka kau menerima lamaran ku Nona,” Chiko membuka percakapan.
“Aku juga tidak menyangka kau langsung melamar ku,” Balas Vanesa.
Mereka berdua berjalan dengan senyum yang mengembang dari dua bibir mereka masing-masing. “Kita duduk disana saja,” Ajak Chiko menunjuk kursi kayu ditengah taman.
Vanesa menyetujuinya, mereka berdua berjalan Bersama menuju kursi yang ditunjuk Chiko. Setelah mereka berdua duduk Vanesa membuka percakapan lagi.
“Apakah kalian akan ada disini sampai hari pernikahan?” Tanya Vanesa.
“Sepertinya begitu, tapi Ayah ku kemungkinan akan Kembali terlebih dahulu,” Jawab Chiko.
“Ayah ku sulit untuk tinggal di tempat orang lain,” Ucapnya.
“Seperti itu?”
“Hem, awalnya dia mengajukan pernikahan ini di kerajaan kami tapi Raja Cariann menolaknya,” Sesal Chiko.
“Maaf, karena aku hanya anak bawaan Selir jadi tidak bisa juga membantah,” Ucap Vanesa dengan wajah sedih.
“Tidak, tidak… jangan seperti itu, jangan merendahkan dirimu.” Chiko mencoba menghiburnya.
“Meski kau anak Seorang Selir namun kau mempunyai hak yang sama dengan Putri-Putri Raja, tunggu apa kau sering di acuhkan Raja?” Chiko merasa curiga.
“Tidak, tidak… hanya saja Putri Mahkota.” Vanesa menunjukan kesedihannya yang amat Ketika mengucapkan kata Azzura.
“Hei ada apa? Mengapa dengan Putri Mahkota kalian?” Chiko semakin penasaran.
__ADS_1
Tanpa mereka ketahui Azzura ada dibalik semak-semak. Tadinya dia baru saja keluar menyusup untuk menjalankan misinya. saat ingin kembali dia melihat Vanesa dan Chiko sedang berjalan bersama di taman.
Dengan implusif dia mengikuti mereka berdua dan mendengar Vanesa menjelek-jelekkannya.
“Entah mengapa, semenjak Azzura menjadi Putri Mahkota. Dia semakin semena-mena terhadap saudara-daudaranya, sombong dan juga angkuh.” Jelas Vanesa dengan tetap memasang wajah sedihnya untuk memancing simpati Chiko.
“Apa benar begitu, tapi yang kudengar Azzura adalah Putri yang bijaksana.” Ucap Chiko sedikit membela.
“Itulah dia pintar menutupinya, sebenarnya mengapa aku bisa Kembali belajar itu semua karena ulahnya. Dia yang menghasut Raja supaya kami di kurung diasrama menjauh dari Istana dan tidak dapat mengganggunya.” Terlihat wajah kesal Vanesa.
“tenang lah, aku akan membela mu, Azzura tidak akan menindasmu lagi. Kau akan menjadi Istri Putra Mahkota kerajaan Frio, status mu akan setara dengan Azzura nanti.” Chiko menenangkannya.
“Terima Kasih Pangeran, kau benar-benar menunjukan cinta mu pada ku,” Puji Vanesa dan memandang mata Chiko dengan sangat.
Azzura yang mendengar dari semak-semak merasa jijik dengan Vanesa. “Benar-benar Ular,” Batinnya.
Saat Suasana Vanesa dan Chiko semakin mendukung dan juga tatapan mereka berdua semakin dalam, wajah mereka semakin mendekat dan akan berciuman. Rasa jahil Azzura keluar dan ingin mengerjai mereka.
Saat dijalan tadi dia menangkap seekor tupai, pikirnya akan dihadiahkan untuk Fidel supaya pelihara. Namun sepertinya tupai ini memiliki tugas yang lebih mulia.
Jarak Azzura dan mereka berdua tidak terlalu jauh, Azzura dengan hati-hati mengeluarkan tupai tersebut. “kau harus melakukan tugas mu dengan benar.” Bisik Azzura dengan senang hati.
Dengan tepat Azzura melempar tupai itu tepat di tengah-tengah Chiko dan Vanesa. Vanesa yang terkejut karena kaki tupai yang memiliki kuku tajam menggores keningnya.
“Aakh!” teriaknya mengejutkan chiko.
“Ada apa?” Chiko panik.
“kening ku perih,” Chiko melihat Tupai yang lari kearah pohon dihadapan mereka.
“Berdarah,” Saat Chiko melihatnya.
“Sepertinya tergores oleh kuku Tupai tadi, ayo segera kita obati,” Chiko membantu Vanesa Kembali kedalam.
Sedangkan Azzura tertawa geli melihat Vanesa kena batunya. “Rasakan, dasar mulut berbisa.” Ejek Azzura dan dengan cepat dia Kembali kekamarnya.
__ADS_1