
Satu persatu pelayan yang ketahuan bergosip dikumpulkan bersama pelayan yang sudah dihukum. Mereka datang dan melihat pelayan yang sudah dicambuk menjadi gemetaran serta ketakutan.
Sudah ada kurang lebih dua puluh orang yang berkumpul dihadapan Azzura yang duduk dengan tenang. “Ckckck… mulut kalian sungguh berani sekali. Tidak kusangka akan sebanyak ini.” Ucapnya sinis dan meremehkan.
Tidak lama datang pelayan Vanesa yaitu Nana juga datang. Azzura melihatnya dan langsung tertawa kecil. “Dasar bodoh,” batinnya.
Semua berkumpul dan bersimpuh dihadapan Azzura dengan bingung apa yang akan terjadi pada diri mereka. “Apa kalian tahu mengapa dikumpulkan disini?” Semua menggeleng takut bahkan ada yang sudah meangis.
“Kalian ketakutan disaat aku kumpulkan disini, tapi tidak takut saat mulut kalian bergosip tentang ku!” Azzura marah dan menggebrak meja membuat semua pelayan terkejut.
“Apa kalian berfikir aku tidak tahu hal hal apa yang sedang terjadi dan beredar disini?” ucapnya dengan tatapan tajam namun semua masih terdiam dengan gemetaran sedangkan saat menatap Nana dia Nampak tetap tenang membuat Azzura tersenyum sinis.
Vanesa dan yang lain tiba karena mendengar para pelayan dikumpulkan. “Azzura apa-apaan kau!” teriak Vanesa yang melihat Nana ikut ada disana.
Azzura melirik sedikit. ”Ckck… sepertinya aku harus mengumpulkan dan meminta Ratu menertibkan kalian semua,” ucapnya yang ditunjukan pada Vanesa.
Vanesa langsung merasa tersindir. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan tidak perduli.
Azzura menjadi kesal dan berdiri mengebrak meja. “Vanesa, jaga ucapan mu. kau pikir sedang bicara dengan siapa hah?!” teriak Azzura dengan penuh kemarahan. Membuat Vanesa dan Selir Luisa terkejut.
“Aku…aku..” Vanesa tergagap.
Selir Luisa yang ditatap aneh oleh orang banyak langsung mengambil alih.” Tuan Putri mohon maafkan Vanesa, dia masih belum terbiasa.” Ucapnya merendah.
Vanesa merasa tidak terima namun tangannya ditahan sang Ibu. Azzura berbalik dan kembali menatap para elayan yang bersimpuh.
“Kalian saksikan saja dengan tenang cara aku menertibkan pelayan kerajaan untuk menjadi contoh semua orang,” Ucap Azzura dengan tegas.
Azzura kembali pada para pelayan yang bergosip dan berjalan dengan tenang. “Aku tidak ingin bertele-tele, jika tidak ingin dihukum seperti mereka. Maka katakan siapa dalang yang membuat gossip murahan ini tersebar?” Azzura berbicara tidak terlalu keras namun penuh ketegaaan.
Semua pelayan saling menatap dan tidak lama tatapan mereka tertuju pada Nana. Sedangkan Nana masih bersikap dengan tenang. Azzura menghampirinya dan memegang dagu Nana untuk menatap wajahnya.
__ADS_1
Lalu dia melihat kearah Vanesa yang gugup. “Aku tidak menyangka, Kakak ku memiliki pelayan dengan mulut berbisa.” Ucap Azzura melepaskan pegangannya dengan kasar.
“Kakak, bagaimana ini pelayan mu sangat jahat. Aku sudah difitnah olehnya.” Azzura dengan wajah memelas.
Vanesa hanya menatap bingung dan berbalik menatap Ibunya. Selir Luisa hanya menelan ludah tanpa menjawab tatap Vanesa. Karena tidak mendapat jawaban, Azzura memilih berbalik dan tidak memperdulikan mereka lagi.
"Karena aku sudah mengetahui siapa dalang dibalik Gosip ini. Pengawal, hukum cambuk seratus kali pada Nana dan suruh dia memakan makanan busuk!” Teriak Azzura membuat semua orang terkejut.
Seratus cambukan jika tidak mati maka akan cacat pikir mereka. “Dan berikan 30 cambukan pada yang lain untuk memberi mereka pelajaran jika melakukan tindakan baik hanya ucapan yang tidak sesuia dengan fakta atau memfitnah orang lain. Maka mereka akan menyesal.” Azzura pergi meninggalkan mereka semua dan tersenyum sinis pada Vanesa.
“Bendera perang sudah dikibarkan Selir,” Batin Azzura.
Sedangkan Anna hanya memejamkan mata dan menunduk. Dia tidak bisa mengelak dari semuanya dan juga tidak mungkin mengatakan jika ini perintah Nona Vanesa. Hanya pasrah yang bisa dilakukan.
Hukuman pun dimulai dan berjalan sesuia perintah Azzura. Selir Luisa dan Vanesa Kembali kekamar dengan marah dan kesal. “Dia benar-benar membuat ku muak bu,” Ucap Vanesa.
“Tenangkan diri mu sayang, saat ini Azzura sedang berada diatas angin. Kita lihat saja nanti.” Ucapnya dengan tatapan benci.
“Kakak, apa yang terjadi?” Ucap Selir Inez yang tiba-tiba masuk.
“Azzura sudah melewati batas kesabaran kita.” Selir Luisa mengepalkan tangan.
“Benar Bibi, bahkan dia menyuruh kami menghormatinya dan memanggil dia Putri Mahkota, cih!” ucap Lily dengan kesal. Hal sama juga dialami Vanesa dan Ibunya.
Selir Luisa memanggil pelayannya dan menyuruh dia memberikan kompensasi pada Anna dan keluarganya karena tidak membuka mulut.
Pelayan itu pun pergi. “Bagaimana dengan Selir Maya? Apa ada perkebangan.”
“Aku sudah menanyakannya, karena Raja masih belum kembali dan Ratu yang terus menempel pada beliau membuatnya kesulitan.” Ucap Selir Inez.
“Aku harus mencari cara lain.” Pikir Selir Luisa.
__ADS_1
“Kita harus memanggil Bibi Ula lagi,” lanjutnya.
“Tapi Kak, jika Raja Tahu maka matilah kita,” Selir Inez merasa takut.
“Tenang saja, aku sudah memikirkannya. Kau tidak perlu Khawatir.” Selir Luisa meyakinkan mereka semua.
Tidak lama Azzura yang baru saja ketaman dengan Ana melihat Selir Maya berjalan dengan teko emas Selir Luisa Bersama dengan pelayan.
“Aku tidak berharap kau terlibat Selir,” guman Azzura langsung berjalan menghampirinya.
“Selir, kau mau kemana?” Azzura menghadang Selir Maya dan membuatnya terkejut.
Selir Maya kebingungan dan menatap pelayannya dengan gugup. “Aku… aku ingin menemui Raja Putri,” Ucapnya tergagap.
“Apakah Ayah sudah datang?” Tanya Azzura ceria.
“Aku dengar seperti itu,”
Azzura menengok kearah Teko yang dibawa pelayan. “Apa kau ingin menyajikan teh untuknya?” tanya Azzura.
Selir Maya langsung ketakutan dan malah tidak menjawab Azzura sama sekali. Azzura yang melihat Selir Maya ketakutan langsung maju dan berbisik disampingnya.
“Aku tidak berharap kau berpihak pada ku, hanya saja jika kau terlibat dengan mereka maka aku tidak akan segan-segan Selir.”Ucapnya lembut namun menusuk. Azzura mundur dan Kembali menatap Selir Maya dengan tersenyum dan pergi meninggalkannya.
Selir Maya semakin ketakutan dan tangannya berkeringat. "Ayo Kembali kekamar.” Dia berbalik dengan terburu-buru.
Selir Maya masuk kekamarnya dengan pelayan itu dan menyuruh meninggalkan dia sendiri. Dengan tangan gemetaran dan berkeringan Selir Maya bingung.
“Apa yang harus kulakukan.” Bisiknya.
Ucapan Azzura mengandung banyak makna. “Apakah dia mengetahui rencana Selir Luisa?” Batinnya.
__ADS_1