
Perjalanan Azzura dan rombongan ke Kerajaan Timur memakan waktu Dua hari satu malam, karena itu mereka sering beristirahat dan mencari penginapan terdekat untuk bermalam.
Azzura sangat menikmati perjalanan ini, status Putri Mahkota yang sekarang benar-benar dia rasakan sangat indah, sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang lain dulu dimana lebih banyak hal menyedihkan, penyiksaan dan penderitaan.
Azzura melamun di dalam kereta menyaksikan matahari terbenam, saat ini mereka sampai pada satu desa tepat Ketika malam sudah datang.
Teyo yang sudah terbiasa dengan perjalanan antar kerajaan seperti ini jadi sudah lebih paham penginapan mana yang nyaman dan baik untuk Azzura singgah.
Mereka memutuskan menginap di Penginapan yang sederhana namun nyaman dan makanan di sana juga enak-enak.
Tiba waktu makan malam Azzura dan rombongan menyantap dengan nikmat seraya berbincang santai, Azzura tidak mau ada perbedaan yang berlebihan antara dirinya dan para bawahan. Azzura lebih nyaman berbincang dengan mereka saat ini karena mereka juga tidak takut akan peraturan kerajaan.
Sampai waktu makan selesai Azzura yang berpikir untuk Kembali ke kamar melihat Teyo yang masih Menyusun barang-barang dan juga mengikat kuda-kuda dengan beberapa pengawal. Dia langsung berbalik arah menuju mereka.
“Anita, kita kesana dulu.” Azzura mengajaknya dengan tersenyum.
Sedangkan Anita hanya menurut dan mengikutinya saja.
“Apa kalian masih sibuk? Ini sudah larut.” Ucap Azzura membuat mereka semua sedikit terkejut.
“Yang Mulia.” Hormat pengawal dengan serempak.
Azzura mengangguk dan langsung melihat kearah Teyo yang juga memberi hormat. “Apa Kita bisa berbincang seraya meminum segelas teh Tuan Teyo.” Tanya Azzura dengan mengajak.
“Tentu Yang Mulia.” Mereka bertiga berjalan ke meja kecil yang ada dipojokan teras, seraya memandang langit malam yang sangat cerah dan bertabur bintang-bintang.
“Apakah kau akan diangkat menjadi Panglima perang untuk menggantikan Ayah mu?” Azzura membuka percakapan.
__ADS_1
“Benar, Tapi masih satu atau dua tahun lagi yang Mulia, Ayahku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum pensiun.” Jawab Teyo dengan lembut.
Azzura menyesap teh yang disediakan Pelayan. “Bagaimana pelatihan mu?”
“Hamba menyelesaikan pelatihan dengan waktu yang singkat dan dapat menyelesaikan semua ujian dengan baik.” Dengan tersenyum Teyo sedikit membanggakan diri.
Azzura tersenyum mendengarnya. “Apa kau pernah bertemu dengan Gadis yang seumuran ku bernama Lola? Dia memiliki tahi lalat dipelipis kirinya.”
“Memang siapa dia Tuan Putri?” Teyo merasa harus menanyakan ini dulu jika memang orang penting Azzura, maka dia akan mencoba mengingatnya.
“Dia pelayan setia ku, aku yang membawanya untuk mengikuti pelatihan sebagai pengawal pribadi ku.” Jawab Azzura dengan memandang jauh ke depan.
Teyo terdiam dan berfikir, mencoba mengingat siapa yang dimaksud Azzura. “Ah Gadis ceroboh itu.” Seraya tersenyum gembira.
“Ceroboh?” Heran Azzura dengan jawaban Teyo.
Teyo meletakkan teh nya lalu memndang langit mencoba mengingat. “Benar, aku memanggilnya Gadis ceroboh. Karena dia beberapa kali jatuh dari Kuda sebelum menunggangi kuda itu sendiri, jatuh dari pohon ketika mengambil bola latihan karena dia menendang terlalu tinggi, dan juga selalu saja tersandung.” Dengan tertawa kecil Teyo mengingat kelakuan Lola.
“Ada apa Tuan Putri?” Teyo seperti mendengar gumaman Azzura.
“Ah, tidak-tidak. Lalu bagaimana dengan sekarang? Dia sudah menjalani pelatihan hampir satu tahun.” Azzura sedikit khawatir karena mendengar ucapan Teyo, sepertinya Lola tidak ada kemajuan.
“Tuan Putri tenang saja, Pelayan anda sudah memiliki kemajuan yang pesat. Sepertinya ucapan dari ku benar-benar difikirkan olehnya.” Ucap Teyo dengan tersenyum.
“Ucapan apa?” Azzura penasaran setelah melihat senyum Teyo.
“Aku sempat menolongnya saat dia sedang diuji oleh pelatih untuk membawa air dari sumur ke Asrama. Ditengah jalan dia terjatuh dan kakinya terluka, awalnya aku tidak memperdulikan namun tiba-tiba dia menangis dengan keras seperti orang kesurupan.” Teyo menggeleng.
__ADS_1
“Aku langsung menghampiri karena ku kira dia mengalami cidera yang parah. Sampai aku mendekatinya dan menyapa dia ternyata dia sedang menangis.”
~Flash Back~
Lola terduduk dengan memegang lututnya seraya menangis berteriak. “Huaaaa… Huaaa…” Tangisan Lola terdengar oleh Teyo yang sedang lewat dan khawatir padanya.
Teyo mendekati Lola dan berlutut. “Nona kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka parah?” dengan nada yang agak bingung.
Lola melihat Teyo yang menghampirinya justru bertambah keras menangis. “Hei, tenang lah. Jangan seperti ini…” Teyo justru panik dan melihat sekeliling apakah ada orang lain yang melihat mereka.
“Nona tolong diam dulu dan jelaskan ada apa.” Dengan wajah sedikit kesal.
Lola mendengar perkataan Teyo mencoba mengatur emosinya dan duduk dengan bersila. Lola menarik nafas dalam lalu menghapus air matanya.
Teyo melihat itu langsung menghela nafas lega, dan ikut duduk bersila dihadapannya. Dia menyadari jika gadis dihadapannya ini adalah Gadis ceroboh yang sering sekali dia lihat karena melakukan kesalahan.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Teyo.
Lola mengangguk dengan perlahan. Lalu Teyo melihat ember yang berisi air dan sudah tumpah semua. “Apa kau terjatuh saat mengambil air?”
Lola Kembali mengangguk. “Apa kau Lelah?”
Sekali lagi Lola hanya mengangguk. "Apa kau ingin berhenti dari pelatihan?” pertanyaan Teyo kali ini tidak direspon oleh Lola dan dia hanya menunduk diam tanpa menjawab atau pun mengangguk lagi.
Teyo tersenyum. “Darimana asal mu?”
Lola mendengar pertanyaan Teyo jadi bingung, karena Azzura sudah berpesan jangan memberitahukan pada siapapun latar belakangnya, karena akan membuat banyak orang curiga jika seorang pelayan wanita justru mengikuti pelatihan pengawal.
__ADS_1
“Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab, tapi aku beberapa kali melihat mu yang melakukan kesalahan jadi sepertinya kau sudah menyerah dengan semua pelatihan ini benar? Jika iya aku bisa membantu mu mengatakannya pada pelatih senior.”
“Tidak-tidak, aku mohon jangan Tuan.” Lola membuka mulutnya karena panik mendengar tawaran Teyo tadi.