The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 103


__ADS_3

Mereka berbincang dengan santai, sementara Azzura mengatur pikirannya mencoba untuk lebih tenang. Jika Ayah Ibunya tidak mengalami hal aneh, sudah dapat dipastikan sasaran mereka hanya dirinya dan itu menjadi lebih mudah bagi Azzura.


“Ah, sudah sore. Aku rasa sudah waktunya aku Kembali yang Mulia.” Ucap Istri Bangsawan tersebut.


“Terima Kasih kau sudah mengunjungi dan menemani ku mengobrol,” Lembut Ratu Elena.


“Aku yang berterima kasih, meski anda sudah menjadi Ratu tetapi tetap memiliki sifat dan kerendahan hati yang sama.” Istri Bangsawan itu terharu.


“Ah, kau terlalu memuji.” Mereka berdua berpelukan dan tidak lama berpisah.


Azzura merasa Suasana penuh mellow drama para Wanita ini membuatnya ingin tertawa. Setelah mengantar Istri Bangsawan tersebut, Ratu Elena Kembali menemui Putrinya.


“Ada apa Azzura?” Ratu Elena memasang wajah serius.


“Bisa kita berbicara hanya berdua bu?” Ajak Azzura.


“Kita ke kamar ku,” Mereka berdua pergi ke kamar Sang Ratu dan mulai berbincang.


“Ada apa?” Saat ini mereka hanya berdua.


“Terjadi sesuatu yang mengerikan di tempat pengungsian malam sebelum aku Kembali.” Ucap Azzura dengan marah.


“Apa itu?”


“Ada sosok yang menyerupai ku memberikan racun pada para warga. Terlihat sangat jelas tujuannya ingin memfitnah ku. Andrea juga mencium ada aroma Sihir.” Ucap Azzura yakin.


“Bagaiman kau bisa menyimpulkan hal itu?”


“Aku sendiri yang melihat anggur itu memiliki racun dan sosok yang menyerupai ku menghilang begitu saja.” Jawabnya.


“Ibu ingat Bibi Ula suruhan Selir Luisa?” tanya Azzura.


“Bukan kah dia dipenjara saat ini?” Yakin Sang Ratu.


“Ya, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang lain atau orang yang sama memerintahkan untuk membunuh ku atau menghancurkan ku lagi.” Tegas Azzura.


Ratu Elena membelalakkan mata karena Manahan amarah. “Siapa yang berani ingin membunuh mu?” Geramnya.


“Aku harap Ibu bisa merahasiakan ini semua dari orang lain bahkan Ayah.” Pinta Azzura.

__ADS_1


“Mengapa? Bukankah semua ini harus diberitahukan Ayah mu Azzura.” Tegas Sang Ibu.


“Tidak bu, jangan dulu. Aku harus mencari bukti yang kuat untuk menjatuhkan mereka semua.” Pikir Azzura.


Mereka terdiam dan saling bergulat di pikiran masing-masing. “Lalu apa rencana mu?” Tanya Ratu Elena.


“Waktu selesai acara malam pesta lajang Vanesa, ada yang meletakkan kantung dengan bubuk sihir di kamar ku.” Ucap Azzura mengingat.


“Apa? Bagaimana kau tahu itu kantung sihir?”


“Aku sudah memastikannya pada Paman Felix, karena saat aku mendekati kantung itu, aku mencium aroma busuk dan tubuhku terasa gatal. Serta Ana menemukan lembaran kertas dengan tulisan aneh di bawah Kasur ku.” Jelas Azzura.


“Azzura ini sudah kelewatan, kita harus menangkap mereka semua.” Marah sang Ratu.


“Tenang bu, aku memiliki rencana yang lebih bagus.” Azzura terdiam dan juga tersenyum sinis.


Azzura keluar dari kamar Ibunya dengan keadaan lebih tenang dan tersenyum pada pelayan yang berbaris diluar.


Anita dan Lola juga sudah berdiri di sana. “Ayo Kembali ke kamar,” Ajak Azzura pada mereka.


“Baik,” Mereka bertiga berjalan pergi menuju Kamar Azzura.


“Kita lihat saja, sampai kapan kau akan bertahan dengan semua ini.” Gumamnya senang.


Lily Kembali menemui Ibunya yang sedang bersantai. “Apa ibu tidak ada pekerjaan?” Tanya melihat sang Ibu masih duduk meminum teh.


“Aku sangat berterima kasih pada Vanesa,” Ucap Sang Ibu.


“Mengapa?”


“Karena pernikahannya, hukuman kita jadi di ringankan. Meski kita masih diawasi dan juga masih belajar tapi setidaknya sudah Kembali ke Istana.” Selir Inez merasa sangat senang.


“Apa benda itu sudah di letakkan dengan baik?” Gumam Lily.


“Ada apa?” Selir Inez seperti mendengar Putrinya berbisik.


“Ah, tidak bu.” Tidak lama pelayan datang.


“Selir, ada masalah di dapur.” Ucapnya.

__ADS_1


“Aahh.. mengapa aku tidak bisa tenang sedikit pun. Bukankah Selir Maya sudah Kembali?” Kesal Selir Inez karena semua pekerjaan jadi di kerjakan dia sendiri.


“Selir Maya masih tinggal di Selatan untuk membantu Orang Tuannya.” Jawab Pelayan tadi.


“Apa? Bagaimana mungkin dia tidak Kembali ke Istana.” Marahnya.


“Aku akan laporkan ini pada Raja,” ini kesempatannya untuk sedikit menyingkirkan Selir Maya dari Istana pikir Selir Inez.


Dia langsung pergi dengan yakin ke Ruang Kerja sang Raja. Sesampainya di Ruang Raja Cariann dia dihentikan pengawal.


“Aku ingin bertemu Yang Mulia, menyingkir kalian.” Ucap Selir Inez dengan kesal.


“Maaf Selir, di dalam sedang ada yang Mulia Ratu.” Jawab Pengawal itu.


“Apa?” Dia sedikit heran, Ratu sangat aktif menempel pada Yang Mulia Raja sekarang, tidak seperti saat masih Di Mansion.


“Aku harus tetap masuk,” Dia bersikeras.


“Maaf Selir tidak bisa,” Pengawal masih menghalangi.


“Kau berani?” Kesal Selir Inez.


Karena ada suara berisik, Raja membuka pintu Ruan kerjanya. “Ada apa ini, kalian tahu ini dimana?” Semua menunduk Ketika Raja dengan suara baritonnya berbicara.


“Maaf yang Mulia Selir…” Selir Inez langsung maju dan mengoceh.


“Yang Mulia aku mau mengadukan sesuatu, ini hal sangat penting tapi mereka menghalangi ku.” Rengek Selir Inez.


Raja Cariann hanya menggeleng dan sedikit kesal. “Masuklah dan berhenti membuat keributan.” Ucapnya.


Selir Inez hanya terdiam kesal dengan ucapan Suaminya itu. Mereka masuk dan Selir Inez melihat Ratu Elena sudah duduk santai memegang sebuah buku bacaan.


“Yang Mulia Ratu,” Hormatnya.


Ratu Elena hanya mengangguk sesaat dan Kembali membaca Buku. Selir Inez menggenggam tangannya kesal karena merasa diacuhkan.


“Ada apa? Pastikan Itu hal yang sangat penting.” Tegas Raja Cariann.


Selir Inez tersenyum. “Ini masalah Selir Maya Yang Mulia.” Mereka semua terdiam dan Ratu elena yang mendengarnya hanya menggeleng heran seraya membuang nafas.

__ADS_1


__ADS_2