The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 79


__ADS_3

Malam terakhir Azzura berada di Kerajaan Timur Pangeran Andres datang ke Villa Azzura. Kebetulan Azzura sedang merapihkan pakaian nya Bersama Anita.


“Mengapa mereka banyak memberikan Oleh-Oleh,” Azzura merasa pusing dengan berbagai macam kotak bawaan yang disiapkan Ratu Reyna untuk dibawanya ke Kerajaan Barat.


“Tuan Putri sepertinya kita butuh satu Kereta tambahan,” Saran Anita karena barang-barang itu sudah bertumpuk dan banyak.


“Aku akan menyiapkannya,” Tiba-tiba Pangeran Andres datang dan berbicara.


“Pangeran,” Anita memberi hormat.


“Mengapa kau ada disini?” Azzura merasa heran.


Tapi Pangeran Andres justru tertawa. “Ibu ku membawakan beberapa kotak hadiah lagi.” Dengan menunjukan beberapa pelayan yang membawa beberapa kotak itu.


“Astaga.” Azzura menepuk jidatnya karena sudah bertambah banyak saja.


“Sepertinya aku harus cepat-cepat kembali sebelum Ratu memberikan kerajaan ini pada ku,” Selorohnya.


Semua orang tertawa kecil dengan ucapan Azzura. "Aku akan membantu mu merapihkan nya." Andres ikut turun tangan membawa kotak-kotak itu kedalam kereta kuda milik Azzura.


“Jadi kau akan kembali esok pagi?” Tanya Andres ditengah kesibukan mereka.


“Hem.. urusan ku sudah selesai. Tapii…” Azzura berhenti dan menatap Andres yang sedang membawa barang.


Andres menyadari tatapan itu dan berbalik. “Ada apa Tuan Putri?” Tanya Andres.


“Apa kita bisa bicara sebentar?” Ajak Azzura.


Andres meletakkan barang bawaannya karena merasa maksud Azzura sangat penting. “Ayo,” Mereka pergi ke bagian teras belakang Villa.


Mereka duduk dikursi dengan nyaman. “Ada apa?” Andres membuka pembicaraan.


“Aku dengar kerajaan kalian berhubungan baik dengan Selatan.” Ucap Azzura.


“Kami berhubungan baik dengan setiap Wilayah, karena itulah kami sangat menghindari perang.” Jawab Andres dengan yakin.


Azzura mengangguk dan Kembali bertanya. “Apa kalian di Barat mengalami kelangkaan Garam? karena banyak berita yang beredar karena Selatan mengalami Krisis.”


“Apa? Apa hubungannya Garam dengan Selatan?” Andres merasa heran.


“Benar apa hubungannya, Selatan mengalami masalah pangan yang menghawatirkan semenjak terjadinya badai beberapa bulan lalu, serta para nelayan yang tidak bisa berlayar, tapi apa hubungannya dengan Garam yang di Kelola Kerajaan Barat dan Timur?” Azzura heran.


“Tunggu, kau tahu jika Garam bukan dari selatan?” Andres merasa heran.

__ADS_1


“Tentu, Aku sudah mengetahui sejak lama jika Kerajaan Barat dan Timur mengelola secara Bersama Tambang garam yang ada di perbatasan,”


Andres semakin kagum dengan rasa ingin tahu Azzura dan pengetahuan nya yang juga luas. “Lalu apa yang ingin kau ketahui lagi jika sudah mengetahui lebih banyak.”


“Jadi siapa pihak ketiga yang mengelolanya? Kalian pasti menggunakan Pihak ketiga untuk menyebar luaskan ke seluruh penjuru bukan?” Pertanyaan Azzura membuat bingung Andres.


“Bukan kah jelas itu dikelola oleh keluarga Cartez, mengapa kau masih bertanya?” Heran Andres.


“Jadi benar dugaan ku ini ada hubungannya dengan Selir Luisa.” Batin Azzura.


“Apa kau bisa menemani ku ke Tambang Garam dan juga ke Selatan untuk memberikan bantuan?” Tanya Azzura yang sekaligus memaksanya untuk ikut.


"Tapi apa kau yakin ingin ke Tambang? di sana tidak seperti yang kau bayangkan Tuan Putri." ucap Andres.


"Sangat yakin, ini demi rakyat ku." tegas Azzura.


“Baiklah Yang Mulia, utusan ku akan membuat jadwal kita nanti.” Andres menerimanya dengan senang hati.


Keesokan paginya rombongan Azzura sudah siap untuk berangkat, Teyo yang sejak awal tidak pernah pergi dari sisi Azzura membuat Vargas merasa cemburu.


“Teman, apa Status mu saat ini?” Tanya Vargas tiba-tiba saat Teyo sedang berkemas.


“Maksud Pangeran?”


“Ah, sepertinya berita yang tersebar sudah sangat besar.” Ucap Teyo dengan tersenyum.


“Jelas saja, kau tampan, Gagah, pintar dan juga baik kepada setiap Wanita.” Dengan sedikit berbisik Vargas menggodanya.


Teyo menghindar dan menyeringit kan kening mendengar bisikan Vargas. “Anda berlebihan Pangeran.”


Teyo memilih menghindari Vargas namun dia tetap menempel padanya. “Jadi apa status mu di Kerajaan Barat saat ini?” Vargas masih penasaran.


“Aku ditugaskan sebagai Kepala pengawal serta sebagai salah satu Pelatih Kuda kerajaan Pangeran.” Jawab Teyo sedikit menjelaskan.


Vargas mengangguk-angguk saja. “Apa kau menyukai Putri Mahkota?” Vargas langsung pada intinya.


Teyo sedikit terkejut dengan pertanyaan Vargas, namun dia menghela nafas mencoba bersabar dengan Pangeran satu ini.


“Itu terlalu berlebihan Pangeran, aku hanya sebatas Pengawal saja tidak mungkin untuk mengharapkan hal yang lebih.” Jawab Teyo.


“Lagi Pula jika saningan ku adalah anda, jelas aku sudah kalah telak.” Tegas Teyo namun membuat Vargas tersenyum.


“Bagus, kau memang sangat bijak, cocok untuk menjadi Panglima Perang. Aku akan mendukung mu.” Setelah mengoceh Vargas pergi meninggalkan Teyo dengan wajah Bahagia.

__ADS_1


Teyo melihat tingkah Vargas itu hanya menggeleng. Setelah semua persiapan selesai Azzura dan rombongan siap berangkat setelah sarapan pagi.


Semua orang mengantar Azzura dan Rombongannya sampai Gerbang Istana. “Berhati-hatilah, kirimi kami kabar jika kau sudah sampai.” Ucap Ratu reyna dengan lembut.


“Baik Bibi,” Jawab Azzura dengan tersenyum.


“Sampaikan salam ku pada Ayah dan Ibu mu, lain kali kami akan berkunjung lagi.” Dengan senang Raja Alanzo berkata.


“Baik Paman, Ah iya ada yang ingin ku sampai kan pada paman.” Ucap Azzura.


“Ada apa Tuan Putri,” Azzura menarik Raja Alanzo menjauh dari orang-orang supaya ucapannya tidak didengar.


“Ada apa ini?” heran Raja Alanzo.


“Maaf Paman, hanya saja aku tidak ingin orang lain mendengar percakapan kita.” Ucap Azzura.


“Apakah ada hal penting? Mengapa baru sekarang?”


“Paman apakah anda sangat mencinta Bibi?” Tanya Azzura.


“Tentu saja, mengapa kau bertanya seperti itu?"


“Aku hanya memberi saran, sejak tertangkapnya ahli Sihir di kerajaan kami aku diam-diam membaca tentang sihir, dan ku dengar perantara sihir yang paling cepat adalah Hewan meski dia sudah menjadi bangkai.” Ucap Azzura mengejutkan Raja Alanzo.


Lalu sang Raja menatap Ratu Reyna yang kebingungan beserta yang lain. “Lalu aku harus apa?”


“Kau harus menghilangkan perantara itu.” Ucap Azzura lagi dengan tersenyum.


Raja Alanzo menghela nafas Panjang seperti mengerti maksud Azzura dan arah bicaranya, lalu tidak lama mereka Kembali pada rombongan.


“Apa yang kalian bicarakan?” Ratu reyna bertanya.


“Hanya ucapan perpisahan saja Bibi,” Dengan tersenyum.


“Baiklah kami akan langsung berangkat takut kemalaman sampai penginapan nanti.” Ucap Azzura.


Dia memeluk Ratu Reyna dan berbisik. “Aku akan menagih janji mu nanti Bibi.” Bisik Azzura membuat Reyna termenung.


Azzura naik kekeretanya dan rombongan itu menghilang dengan cepat dari kerajaan Timur.


Raja dan Ratu masuk kedalam Istana, namun Raja Alanzo beralih ke ruang pertemuan.


Dia berdiri di tengah-tengah Aula dan menatap koleksi kepala binatangnya. Ratu Reyna yang bingung dengan sikap suaminya langsung menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa suami ku?" tanya Ratu.


__ADS_2