
~Flash Back~
“Bibi mengapa ada pohon bambu di ujung-ujung lahan taman bunga Lily ini?” Azzura penasaran, karena pohon-pohon bambu itu terlalu mencolok.
“Ini sudah menjadi kebiasaan kami setiap menanam Bunga Khusunya Bunga Lily,” Jawab Ratu Reyna.
“Maksud anda?”
“Sejak dulu jika kami ingin menanam tanaman yang cantik berwarna dan memiliki aroma yang wangi harus menanam bambu disekelilingnya untuk menangkal hal buruk.” Jelas Sang Ratu.
“Apa termasuk gangguan Sihir? Apa hubungannya dengan Bunga?” Azzura penasaran.
“Benar, Sihir hitam tidak menyukai aroma wangi dan warna yang mencolok, Bunga Lily memiliki Aroma yang khas, unik dan juga manis. Sedangkan Sihir tidak menyukainya. Kau tahu mengapa orang menikah suka sekali memegang buket Bunga Lily?” Tanya Ratu.
Azzura menggeleng. “Karena mereka berharap dalam pernikahannya tidak ada gangguan dan juga selama hidup berumah tangga selalu banyak hal manis dan indah seperti luasnya lembah yang hijau.” Jelas Ratu Reyna lagi seraya tersenyum.
“Ah, ini hanya mitos, tapi menjadi kebiasaan yang baik. ” Ratu Reyna menutupnya dengan berjalan menyusuri taman bunga.
~Flash Back Selesai~
“Itu dia,” pikir Azzura mengingat perkataan Ratu Reyna.
Tidak lama Fidel kembali dan memberi hormat pada Azzura.
“Tuan Putri,” Ucap Fidel.
“Fidel, mengapa Lily menjadi layu?” Tanya Azzura langsung.
“Entahlah yang mulia, aku sudah menambahkan pupuk, merawat dengan lembut dan juga selalu memberikan yang terbaik tapi tetap saja layu.” Fidel lesu.
“Apa kau tahu dimana kita bisa mendapatkan bambu kuning?” Tanya Azzura.
“Bambu Kuning?” Ana dan Fidel saling menatap dan menggeleng.
Azzura memerintahkan memanggil Anita dan Lola, tidak lama mereka semua berkumpul. “Aku tahu ada tabib China yang tinggal di pinggir kota, rumahnya memiliki lahan yang sangat luas dan dia juga menjual obat-obat tradisionalnya di sana.” Ucap Lola dengan sedikit berfikir.
__ADS_1
“Ah, Tabib Ling,” Ucap Anita.
“Kau kenal?” tanya Azzura.
“Putrinya Bernama Shiao Ling adalah teman ku dulu tapi karena Ibunya sakit dia kembali ke China dan tidak pernah kembali lagi kesini. Aku tahu rumahnya.” Ucap Anita.
“Apakah dia memiliki bambu Kuning?” Azzura ragu.
“Setahu ku bambu kuning hanya dimiliki orang bermarga China mungkin dia memilikinya.” Jawab Anita lagi.
“Kalian kesana dan jangan sampai ada yang mengetahuinya, jika dia memilikinya beli dengan harga berapa pun sebisa mungkin bambu itu tertanam ditanah bukan dalam pot” Azzura memberi perintah dan Anita serta Lola langsung pergi.
“Yang Mulia sebenarnya ada apa?” Ana penasaran.
“Kau bilang tidak ada yang datang selama aku pergi?” tanya Azzura.
“Ku pastikan tidak ada, aku pergi meninggalkan kamar anda hanya untuk makan dan berganti pakaian saja, bahkan tidur pun aku disini bersama Fidel.” Fidel mengiyakan dan ikut meyakinkan.
Azzura Kembali menatap Bunga Lily ditaman kecilnya itu. “Jika dugaan ku benar, kamar ini semuanya sudah tersihir.” Batin Azzura dengan menatap seluruh ruangannya.
“Apa kau sudah membakar kertas waktu iti?” Azzura kembali bertanya.
Mereka semua terdiam karena Azzura hanya menatap buku milik kakek nya dan meraba gambar Bunga Lily itu.
Fidel sedikit mengintip. “Lily Lembah.” Ucapnya dan membuat Azzura menengok.
“Kau tahu Bunga ini?” Tanya nya.
“Iya, itu Lily Lembah, agak sulit menanamnya.” Jawab Fidel.
“Apakah berbeda dengan Lily yang kau tanam?” Azzura melanjutkan.
“Hem, Lily yang kita tanam sejenis Easter, bisa juga ditanam pada Pot yang berisi Air bisa juga di tanah, aku mengetahuinya ketika membaca di perpustakaan bersama Pama Felix.” Jawab Fidel.
Azzura kagum dengan pemahaman dan ingatan Fidel, dia sungguh cerdas bahkan umurnya yang masih 12 tahun.
__ADS_1
“Hanya saja aku juga bingung mengapa sulit sekali dia tumbuh segar, aku sudah membaca banyak kemungkinan. Yang terakhir hanya kemungkinan dari tanahnya.” Jelas Fidel.
“Tanah?” Azzura langsung berfikir.
“Mengapa tangan mu?” Tanya Azzura melihat perban pada tangan Fidel.
“Ah ini entahlah Yang Mulia, dua hari yang lalu tangan ku gatal dan menjadi luka. Tapi sudah diobati Dokter Loiz.” Jawab Fidel.
“Biar kulihat.” Ucapnya.
“Tidak tuan Putri, ini luka tidak pantas anda lihat.” Larang Fidel karena takut Azzura merasa Jijik dengan Aromanya.
Azzura langsung menarik dan memaksa Fidel untuk mendekat, Ketika dibuka perbannya benar saja.
“Ini luka yang besar, tidak terlihat akan sembuh karena masih mengeluarkan bau busuk dan berdarah.”Batin Azzura.
“Kapan kau mengalaminya?” Tanya nya dengan menatap tajam Fidel.
“Malam hari saat aku tidur di ranjang anda,” Ucapnya dengan takut.
Azzura langsung berlari dan membuka selimut tempat tidurnya namun tidak ada apa-apa. Dia menyuruh Ana mengangkat Kasur untuk melihat di bawahnya.
Tetap saja tidak ada apa-apa. “Panggil pengawal dan angkat semua ranjang ini,” Perintah Azzura.
Pengawal dan beberapa pelayan mulai mengangkat ranjang itu Azzura langsung berjongkok. Kalungnya mulai menyala lagi dan melihat di bawah ranjang ada potongan kain.
“Ana ambil benda itu,” Perintah Azzura.
Karena badannya sedikit gemuk dia agak kesulitan mengambilnya namun akhirnya berhasil. “Bawa ketaman.” Azzura memerintahkan lagi dan ranjang diturunkan.
“Semua boleh keluar dan jangan katakan pada siapapun apa yang kulakukan.” Tegasnya dengan tatapan tajam lalu semua mengangguk dan keluar dari kamar Azzura.
Azzura mendekati potongan kain itu yang seperti menjadi pembungkus. “Tuan Putri, itu bukannya Kain mandi anda,” Ucap Ana.
“Apa kau yakin?” Azzura memastikan.
__ADS_1
“Hem, karena sudah rusak aku membuang dan meletakkannya di Gudang seperti biasa.” Jawab yakin Ana.
“Aku ingat sekali jenis kainnya karena aku yang mencuci dan merawatnya,” Lanjutnya.