The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 65


__ADS_3

Mereka berpisah dengan orang tua masing-masing dan menuju taman terbuka yang berada disamping kerajaan untuk mengobrol.


Taman ini cukup luas, sering dipakai untuk beberapa acara kecil kerajaan terutama para Putri dan Selir. Karena tempatnya nyaman dan juga tidak terlalu terlihat dari luar.


Azzura mengajak Pangeran Vargas mengobrol disana, sesampainya dikursi taman Azzura yang ditemani Anita dan beberapa pelayan lainnya menyuruh mereka agak menjauh agar Pangeran Vargas merasa nyaman jika ada yang ingin dia sampaikan.


“Aku ucapkan terima kasih kepada anda atas kunjungan keluarga anda Pangeran, ” Sopan Azzura dan juga membuka pembicaraan.


Vargas hanya tersenyum dan menatap langit malam yang dipenuhi bintang. “Apa kau tidak menyukai ku Tuan Putri?” Tanya Vargas dengan terus terang.


Azzura tersenyum. “Kau tampan dan juga baik Pangeran, mana berani aku menolak mu.” Jelas Azzura.


“Lalu mengapa kau mengajukan syarat untuk menikahi mu?” Vargas merasa penasaran.


“Apa kau sangat menyukai ku Pangeran?” Azzura menatap Pangeran Vargas dengan serius.


“Tentu saja, jika tidak mana mungkin aku dengan yakin melamar mu.”


“Jika kau sangat menyukai ku berarti kau siap berjuang untuk ku.” Ucap Azzura, yang membuat Vargas terkejut.


Melihat Vargas hanya terdiam Azzura mengalihkan pandangannya. “Apa aku tidak layak untuk diperjuangkan Pangeran?" Azzura merasa sedih.


“Ah, maaf. Bukan seperti itu. Hanya saja aku tidak pernah mencoba memperjuangkan sesuatu. Selama ini semua yang ku inginkan selalu ku dapatkan dengan mudah.” Jujur Pangeran Vargas yang langsung tertunduk.


“Lalu jika aku sudah memperjuangkan mu namun aku tidak bisa mendapatkan mu bagaimana?” Tanya Vargas lagi.


“Pangeran, sesuatu yang kau perjuangkan tidak harus kau dapatkan. Pasti akan ada jawabannya mengapa kau tidak bisa mendapatkannya dan akan membuat mu berfikir untuk menerima jika hal itu memang bukan milik mu. Tapi jika apa yang kau perjuangkan bisa kau dapatkan, maka kau akan lebih menghargai hal itu karena kau mengingat susahnya perjuangan mu untuk mendapatkannya.” Azzura menjelaskannya dengan perlahan dan dengan nada yang lembut.


Vargas mendengarkan dengan seksama dan terpesona dengan suara Azzura yang enak didengar. “Aku tidak salah menyukainya.” Batin Vargas.


“Bagaiman Pangeran?” Azzura membuyarkan lamunan Vargas.


“Ah, aku mengerti. Kau sudah membuka pikiran ku Putri.” Vargas tersenyum.

__ADS_1


“Karena aku menghargai diriku sendiri Pangeran.” Ucap Azzura.


“Maksud mu?” Vargas heran dengan perkataan Azzura.


“Di Zaman ini, sangat sedikit Wanita yang dihargai, itu membuat mereka tidak menghargai diri mereka sendiri. Dan aku ingin merubah pemikiran dan perlakuan itu.” Lanjut Azzura.


Vargas terdiam dan tidak mengatakan apapun, dia melihat Azzura yang berfikiran jauh ke depan sangat mempesona dan membuatnya semakin kagum. Sementara dirinya yang berstatus Pangeran tapi tidak bisa memberikan contoh yang baik malah suka seenaknya menjadi malu.


“Terima kasih Putri,” Ucap Vargas lagi membuyarkan lamunan mereka masing-masing.


“Mengapa berterima kasih pada ku Pangeran?” Azzura heran.


“Kau menyadarkan ku banyak hal, hanya dengan pembicaraan singkat ini aku jadi banyak memahami semuanya.” Dengan tersenyum dia langsung berdiri dan memberi hormat.


“Aku harap kau bisa menunggu ku nanti dan aku bisa membuktikan jika aku layak untuk menjadi suami mu Putri.” Pangeran Vargas yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Azzura.


Azzura bingung dengan perubahan sikap Pangeran Vargas itu. “Memang aku melakukan hal apa?” Dia memiringkan kepalanya heran.


“Aku masih ingin berbincang dengan mu Reyna,” Keluh Ratu Elena.


“Lain kali kita harus meluangkan banyak waktu lagi,” Ratu Reyna tersenyum.


“Azzura terima kasih,” Ucap Ratu Reyna yang memandang Azzura.


“Tidak perlu sungkan Yang Mulia Ratu,” Dengan memberi hormat Azzura menjawab.


“Kami pergi dulu, kalian semua sehat-sehat lah.” Pamit Raja Alanzo.


“Berhati-hati lah,” jawab Raja Cariann.


Pangeran Vargas juga memberi hormat dan tersenyum pada mereka semua, lalu mengangguk pada Azzura yang dibalas senyuman.


Akhirnya rombongan itu pergi meninggalkan Kerajaan Barat. Raja dan Ratu kembali masuk kedalam Kastil sedangkan Azzura masih ada dihalaman kerajaan. Dia memandang keluar saat melihat seseorang yang diam berdiri diluar Gerbang.

__ADS_1


“Mengapa aku seperti mengenal orang itu?” Batinnya.


“Tuan Putri, diluar sudah dingin. Mari masuk.” Ajak Anita.


Azzura melihat Anita dan kembali melihat sosok itu yang sudah menghilang. “Baiklah ayo,” Ajaknya.


“Aku cukup khawatir tadinya dengan kedatang mereka ini,” Ucap Raja Cariann saat sudah sampai diruang kerjanya kepada Ratu Elena.


“Aku pun sama yang mulia, tapi Azzura bisa membuat mereka mengerti dengan baik.” Ratu Elena menjawab.


“Ah, benar. Mengapa akhir-akhir ini aku memperhatikan Azzura menjadi lebih sangat dewasa.” Raja Cariann duduk di kursinya dan langsung berfikir.


“Bukankah itu bagus sayang, dia bisa memposisikan diri dengan baik sebagai Putri Mahkota. Bahkan bisa menyelesaikan beberapa masalah dengan sangat bijak.” Jelas Ratu Elena yang ikut duduk di kursi Sofa.


“Kau benar, aku hanya sedikit terkejut. Bayi mungil yang dulu sering ku gendong menjadi sangat berbeda dalam waktu singkat.” Raja Cariann tertawa bangga.


“Usianya sudah enam belas tahun sayang,” Ingat Ratu Elena.


“Ya, ya.. kau benar. Dia sudah dewasa.” Raja Cariann termenung.


“Apalagi yang kau pikirkan?” Ratu Elena memperhatikan suaminya seperti ada yang mengganjal.


“Bagaiman dengan para Selir dan Putri mereka?” tanya Raja Cariann.


“Mereka mengikuti pembelajaran dengan sangat baik, ada apa?” Ratu Elena membaca ada yang difikirkan suaminya.


“Entahlah, semenjak kedatangan Para Orang tua itu aku menjadi lebih banyak was-was dan khawatir.” Raja Cariann tahu jika tuan Cartez dan Chale tidak akan berdiam diri jika posisi anak-anak mereka terancam.


“Ah, bagaiman sidang Ahli SIhir yang tertangkap?” Tanya Raja pada Istrinya.


“Sepertinya kau harus menanyakan hal itu pada penasehat mu sayang.” Saran Ratu Elena.


Raja Cariann tertawa. “Kau benar, aku terlalu focus pada mu sekarang.” Ucapnya membuat Ratu Elena tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2