
“Apa kau baik-baik saja Azzura,” Khawatir Andres yang melihat Azzura sudah pucat.
“Aku harus cepat-cepat kembali ke kerajaan,” Jawab Azzura yang langsung berbalik.
“Tunggu,” Andres menarik Azzura yang panik.
“Ada apa? Tenangkan diri mu dahulu.” Karena terlihat Azzura sudah sangat buru-buru.
“Jika mereka berani menggunakan Sihir pada orang lain, mereka pasti melakukan hal yang sama pada Ayah dan Ibu ku.” Azzura berkata dan terlihat panik.
Andres memegang Pundak Azzura dan menatapnya. “Azzura lihat aku.” Perintah Andres yang mencoba menenangkan Azzura.
Tapi Azzura tidak mendengarkan dan ingin melepaskan pegangan tangan Andres di lengannya. “Azzura hentikan!” Dengan nada yang agak keras.
Azzura terdiam dan berhenti memberontak lalu menatap ke tanah dan menangis. “Hei tenanglah.” Andres merangkul Azzura yang mulai terduduk di tanah.
Andres mengarahkan Azzura supaya duduk di kursi dekat api unggun. “Azzura,” panggil Andres.
Azzura mendengar panggilan itu dan mencoba kembali untuk tenang, dia sadar akan rangkulan Andres dan langsung melepaskannya dengan sedikit menjauh.
“Ah, maaf.” Ucap Andres tidak enak.
“Tidak apa-apa, maafkan aku yang terbawa emosi.” Ucap Azzura.
“Ada apa sebenarnya, siapa mereka yang kau maksud?” Tanya Andres penasaran.
“Aku harus segera kembali ke Istana,” tanpa menjawab pertanyaan Andres, Azzura berdiri meninggalkannya.
Dia pergi ke tendanya dan membangunkan Anita serta Lola.
“Ada apa Tuan Putri?” Tanya Anita.
“Segera rapihkan barang-barang. Kita berangkat saat matahari terbit.” Tanpa menjawab justru Azzura memberi perintah dan terburu buru.
Semua tidak ada yang berani bertanya lagi melihat sikap dan mimik wajah Azzura yang tegang. Mereka semua berkemas dan merapihkan barang-barang bawaan.
__ADS_1
Ketika matahari mulai naik kereta kuda sudah siap, Karena saat ini barang bawaan tidak terlalu banyak jadi ada beberapa kereta kuda di tinggalkan.
“Semua sudah Siap Tuan Putri,” Teyo memberi tahu.
“Kita berangkat,” Jawab Azzura.
Semua orang mengantar kepergian Azzura yang terlihat terburu-buru. Sedangkan Pangeran Andres dan Vargas memilih untuk tetap tinggal di pengungsian sampai kondisi mereka benar-benar stabil.
“Apa Tuan Putri ada masalah Kak?” Tanya Vargas.
Mereka semua tidak berani bertanya bahkan mengusik Azzura yang terlihat terburu-buru dan panik.
“Entahlah, sepertinya ini sangat gawat.” Perkiraan Andres karena kejadian semalam benar-benar mengejutkan.
Perjalanan mereka memakan waktu tiga hari dua malam, Azzura mempersempit waktu beristirahat mereka.
Sesampainya di Istana Azzura langsung melompat dari kereta kuda dan berlari menemui Ayah dan Ibunya, semua pelayan dan pengawal terkejut dengan tindakan Azzura.
“Itu tadi?” Tanya Anita dan Lola saling memandang.
Azzura berlari tanpa memperdulikan semua orang gaun yang dikenakan pun tertiup angin dan mengibas memperindah langkah Azzura. Bahkan dia berpapasan dengan Pamannya dan tidak menyapa sama sekali.
“Dimana Ayah dan Ibu?” Dengan nafas tersengal-sengal dia bertanya pada Pengawal yang berjaga di Pintu Ruang kerja sang Raja.
“Raja ada di Dalam Tuan Putri, tapi..” Belum selesai dia menjawab Azzura sudah menerobos masuk.
“Azzura sayang,” Raja Cariann terkejut dengan kedatangan Putrinya.
Azzura berlari mendekati sang Ayah dan menatapnya tajam. Mengendus jika ada Aroma aneh. Sang Raja bingung dengan kelakuan Putrinya itu.
“Azzura apa yang kau lakukan?” Tanya Raja Cariann.
“Apa Ayah mengingat ku?” Azzura bertanya dengan tergesa-gesa.
“Tentu, ada apa dengan mu ini?” Kesal Sang Raja.
__ADS_1
Azzura menghela nafas lega. “Dimana Ibu?” Tanya lagi.
“Mungkin di kamarnya atau di Perpustakaan...” Belum selesai lagi Raja berkata Azzura sudah berbalik dan mencari sang Ibu.
Sampai dia di depan kamar ibunya, tanpa bertanya pada pengawal yang berjaga dia langsung menerobos masuk, Namun dihadang oleh Pengawal.
“Tuan Putri maaf Ratu tidak ada.” Ucap Pengawal yang tahu jika Azzura mencari Ibunya.
“Dimana dia?”
"Kemungkinan di taman perpustakaan karena sedang …” Belum lagi selesai kembali Azzura berbalik dan pergi.
Azzura dengan masih terburu-buru langsung menuju Perpustakaan kerajaan, di sana bukan hanya ada rak rak buku. Tapi disediakan juga bangku-bangku dan memiliki taman belakang yang nyaman untuk berbincang.
Azzura memburu semua tempat sesampainya di perpustakaan, semua pelayan yang melihat langsung memberi hormat namun diabaikan Azzura.
Ketika sampai di pintu taman belakang dia melihat Ibunya sedang berbincang santai dengan seorang Istri bangsawan.
Dengan cepat Azzura mendekati Ibunya dan memanggil. “Ibu,” Dengan nafas tersengal-sengal.
Sang Ratu bingung dengan kedatangan Azzura yang mendadak. “Putri Mahkota, kau sudah tiba?” Ratu Elena bangkit dan langsung dipeluk Azzura.
“Azzura ada apa ini?” Sang Ibu bingung dan tidak enak dengan Istri bangsawan tersebut.
“Azzura hentikan tingkah aneh mu, Ibu sedang ada tamu,” Bisik Ratu Elena.
Azzura langsung menyadarinya dan melepaskan pelukan itu dengan perlahan. Dia mengatur emosi dan nafasnya.
“Maaf kan aku yang tidak sopan, aku hanya sedikit merindukan Ibu.” Jelas Azzura supaya tidak membuat kesalahan pahaman.
“Oh, tidak apa-apa Tuan Putri, itu hal wajar jika kau lama berjauhan dengan Ibu mu,” IStri bangsawan itu tersenyum lembut.
“Sungguh Tuan putri anak yang berbakti, benar rumor yang beredar.” Ucapnya memuji.
Ratu Elena hanya tersenyum kecil. “Memang ada rumor apa tentang Putri ku Nyonya?” Ratu Elena mencoba menelisik.
__ADS_1
Azzura dipersilahkan duduk disamping sang Ibu. “Yang Mulia, anda memiliki keberuntungan yang besar. Kehidupan rumah tangga yang tentram, Putri-putri yang cantik dan baik. Terutama Putri Mahkota.” Ucapnya dengan memandang Azzura yang sedang menyesap teh hangat.
Ratu Elena memandang Putrinya. “Putri Azzura benar-benar diluar dugaan ku, dia jauh lebih cantik dari yang orang bicarakan. Bahkan dia sangat menyayangi dan menghormati Ibunya.” Puji Istri Bangsawan itu lagi.