
“Bagaimana hubungan mu dengan Cariann?” Tanya Tuan Cartez tiba-tiba.
“Hah, jangan Ayah tanyakan lagi, aku malas membahasnya.” Selir Luisa mengambilkan the untuk Ayahnya.
“Apa maksud mu?”
“Semenjak dia menjadi Raja, sangat jarang mengunjungi kami para Selir. Apalagi aku selama beberapa bulan ini di hukum pendidikan olehnya.” Kesal Selir Luisa.
“Tidak, kau harus kembali dekat dengannya. Kita tidak ada cara lain.” Ucap Tuan Cartez.
“Ayah, bagaimana aku mendekatinya sedangkan Ratu selalu menempel pada nya.” Selir Luisa semakin kesal.
“Ajak kerjasama Selir Inez atau maya.” Saran Tuan Cartez.
“Apalagi mereka, Inez sudah menjauh dan menghina diri ku semenjak kejadian di malam pernikahan Vanesa, Selir Maya semakin dekat dengan Azzura bahkan saat ini dia ikut ke Selatan dengannya.”
Ah, mengapa kau tidak bisa ku andalkan sama sekali? Percuma kau menjadi putri ku!” Tuan Cartez marah dan kesal.
“Ayah, memang tidak ada cara lain? Kita langsung saja bunuh Azzura bukan kah dia saat ini sedang di Selatan?” Saran Selir Luisa dengan bangga.
“Kau pikir aku marah dengan Taigo karena apa?” Pembunuh bayar paling hebat saja dapat dikalahkan olehnya,”
“Apa?”
"Ayah, sepertinya kita tidak ada cara lain lagi selain kembali menggunakan Sihir dan mengguna-gunanya.” Saran Selir Luisa dengan pasti.
Tuan Cartez terdiam dan tidak mengatakan setuju atau tidak tapi mencoba berfikir dengan baik. “Bagaimana sidang Bibi Ula?” Tanya Tuan Cartez.
“Entah lah, mereka tidak membuat sidang terbuka dan sepertinya dia sudah diputuskan hukumannya.” Jawab acuh Selir Luisa.
“Aku akan memikirkannya lagi, kau kembalilah ke Istana.” Perintah Tuan Cartez.
“Aku masih ingin bersama mu Ayah, aku khawatir dengan mu.” Rayu Selir Luisa.
“Aku tidak mau berselisih dengan suami mu lagi,” Tuan Cartez pergi meninggalkan Selir Luisa yang masih enggan untuk pergi.
Di Selatan Azzura sudah sampai dan disambut dengan pemandangan yang miris, panas teriknya matahari menyengat dan langsung menusuk mata mereka.
“Dimana tempat para pengungsi?” Tanya Azzura pada Teyo.
“Mari, sepertinya pengungsi juga bertambah banyak karena dari pulau lain ikut bergabung.” Jelas Teyo di perjalanan berpasir.
__ADS_1
Rombongan kerajaan Barat melewati pantai yang luas dan puing-puing perahu serta Rumah-rumah yang masih berserakan. Meski bencana sudah hampir satu bulan lebih namun pemulihan tempat kejadian masih belum ada perubahan.
“Apakah sangat parah kondisi mereka?” Azzura khawatir.
“Sekarang tidak terlalu karena sudah banyak bantuan yang datang,” Jelas Teyo.
Anita dan Lola yang ikut mendampingi Azzura juga merasa miris dengan keadaan Selatan yang porak poranda.
“Apakah orang Tua ku akan baik-baik saja?” Tanya Selir Maya dengan khawatir membuat semua orang terdiam.
Sampai di tengah hutan pinggir pantai mereka melihat banyak sekali orang yang lalu lalang. Utusan Timur segera menghampiri Rombongan Azzura.
“Tuan Putri,” Orang Itu memberi hormat.
“Ikuti saya,” Ajak Pengawal tersebut.
“Kemana para Pangeran?” Tanya Azzura heran karena tidak melihat sosok mereka.
“Ada kejadian mendesak Tuan Putri, karena itu mereka tidak bisa menyambut anda,” Jawab Pengawal tersebut.
“Ini tenda dan lokasi untuk para Rombongan anda,” Pengawal itu memberi tahu.
“Apa masih ada yang kehilangan keluarga?” Batin Azzura yang merasa bencana ini sudah cukup lama tapi mengapa masih kacau.
Dimasa lalu Azzura dulu dia memang mengetahui bencana ini namun tidak terjun dan mendatangi lokasi kejadian karena sibuk dengan Istana yang juga sangat kacau semenjak kematian ibunya.
“Teyo, aku akan mencari Pangeran Andres terlebih dahulu.” Ucap Azzura.
“Apa perlu aku temani Tuan Putri?” Tawar Teyo.
“Tidak, aku akan ditemani Anita saja.” JAwab Azzura lagi.
“Baik,”
“Lola, kau bantu yang lain untuk mengatur tenda ku,” Perintah Azzura.
“Baik Tuan Putri,” Lola langsung mengambil dan membantu pelayan lain memindahkan barang dan menyerahkan barang-barang bantuan mereka.
“Aku ikut dengan mu,” Potong Selir Maya.
__ADS_1
Azzura dan yang lain bejalan berkeliling dan menyaksikan penderitaan mereka semua. “Apa sejak awal bantuan tidak ada yang datang?” Tanya Selir Maya yang heran dengan kondisi kekacauan ini.
Terdengar dari kejauhan teriakan laki-laki seraya menangis dan berlutut, mereka mendekati kerumunan dan sumber teriakan itu.
Di Sana juga terdapat Pangeran Andres dan Vargas yang berdiri terdiam di depan tenda milik pengungsi.
Azzura mendekati Andres. “Tuan Putri, “ sambutnya yang terkejut Azzura sudah sampai dan sekarang ada dihadapan mereka.
“Ada apa? Mengapa Pria ini menangis?” tang Azzura penasaran.
“Istrinya melahirkan dan tidak tertolong, dokter kandungan dan bidan sudah berusaha namun pendarahan sang Istri terlalu hebat dan akhirnya tidak terselamatkan.” Jelas Andres dengan sedih.
Azzura masuk ke tenda dan semua dokter mengenalinya. “Boleh aku menggendong Bayi itu?’ Pinta Azzura.
Perawat langsung menyerahkan Bayi itu dan disambut Azzura. Azzura menatap betapa putih, bersih, cantik dan juga lucu.
"Sungguh indah ciptaannya, " Puji Azzura.
Dia keluar dan menghampiri laki-laki yang masih berteriak seraya menangis menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang dialaminya.
“Tuan,” Sapa Azzura pelan dengan bayi di gendongannya.
“Siapa kau? Apa kau mau menasehati ku lagi hah?” bentaknya dengan kasar dan langsung berdiri.
Anita ingin menghalangi namun ditahan Azzura semua orang khawatir, melihat laki-laki bertubuh besar itu dengan marah dan akan mengamuk kepada Azzura.
“Apa kau sudah melihat Putri mu?” Tanya Azzura tiba-tiba dengan lembut.
Laki-laki tyang masih memendam amarah di dada tadi membusung karena nafas tersengal-sengal.
“Aku tidak butuh Bayi itu, dia yang menyebabkan Istri ku meninggal,” Bentak laki-laki itu lagi.
“Apa kau yakin? Dia mirip sekali dengan Ibunya dan nada tanda lahir ditangannya sama seperti mu.” Azzura memperhatikan tahi lalat besar ditangan laki-laki itu.
Lelaki itu terdiam dan melihat lengan Putrinya yang keluar dari kain gendongan. Dengan mencoba mendekat perlahan dia menatap Bayinya.
Azzura mengeluarkan wajah Bayi itu dan menunjukannya pada sang Ayah bayi. Laki-laki itu melihat wajah cantik Putrinya dan mulai menangis.
“Di,dia Putri ku..” Dengan sedihnya laki-laki itu menyambut Bayi dari tangan Azzura.
“Ini bayi ku, anak ku…” Laki-laki tadi mulai menangis sedih.
__ADS_1
“Tuan, apakah kau masih ingin menyalahkan Tuhan?” Azzura menepuk pundak laki-laki tadi.