
“Ana ambilkan Air panas,” Perintah Azzura.
Ana langsung pergi dan mengambil Air panas untuk Azzura. Setelah agak lama dia Kembali dengan air panas ditangannya.
Azzura langsung meletakkan kalung milik nya di air itu dan menyiramkan ke kain tersebut, benar saja kain itu langsung terbakar dan luka di tangan Fidel menjadi perih.
“Tuan Putri, aduh perih…”
“Tahan Fidel, ini hanya sementara.” Ucap Azzura.
Benar saja setelah api padam kain hilang dan perih di luka Fidel juga hilang, meski lukanya masih ada namun sudah tidak sakit lagi.
“Tuan Putri ini benda apa sebenarnya, “Ana penasaran.
“Ada yang ingin mencelakai ku,” ucap Azzura dan berdiri.
“Apa?” Kompak mereka, meski Fidel masih merasakan sedikit perih dan sakit pada lukanya namun ini sudah jauh lebih nyaman.
“Tapi aku yakin tidak ada yang masuk selain kami berdua selama anda pergi Tuan Putri,” Ana masih meyakinkan.
Azzura menatap Ana dan Fidel, dia berfikir bagaimana cara mereka memasukkan benda-benda ini. Azzura melihat sekeliling Taman yang dia buat.
Menelisik setiap sudut dan semua jenis tanaman dengan seksama. “Aku yakin mereka memakai Sihir yang tidak biasa, “ Batinnya.
Ketika Azzura maju dan menginjak rumput ternyata sedikit lembut, Azzura mengangkat kakinya dari rumput tersebut dan duduk untuk menekannya.
Benar saja rumput itu seperti habis digali. “Fidel kemari.” Panggil Azzura.
“Iya Tuan Putri,” Fidel mendekat.
“Apa tanah ini habis digali?” Tanya Azzura dan Fidel menekannya.
“Benar, tapi bukan aku yang menggali, karena aku sudah tidak mengurusi tanaman rumput yang sudah rapih.” Jelas Fidel.
“Aku mengerti, buka rumput itu kita lihat isi didalamnya.” Perintah Azzura.
Dengan cekatan Fidel mengambil cangkul kecil dan menggalinya, Fidel sendiri heran karena tanah itu sangat lembut dan memang seperti habis digali.
Tidak lama cangkulnya ter bentur sesuatu, Fidel dengan cepat menggali dan menemukan Guci Kramik saat diangkat ukurannya hanya se telapak tangan.
__ADS_1
Azzura mendekat dan melihat Guci tersebut. “Buka,” Perintahnya.
Ketika di buka di dalamnya berisi tanah dan sepotong kain. Ana yang melihat terkejut. “Itu kain anda juga.” Azzura menatap Ana yang terkejut dan melihat kembali.
“Panggil Paman Felix dan jangan membuat orang lain curiga.” Perintahnya pada Ana.
Ana pergi dengan mengatur nafas dan mencoba untuk tenang. “Mau kita apakan benda ini Tuan Putri?” Tanya Fidel.
“Kembalikan kepada pemiliknya.” Dengan tatapan tajam.
Tidak lama Felix datang. “Ada apa Tuan Putri?” Paniknya.
“Lihat Paman?” Dengan menunjukan Guci yang ada dibawah.
Felix berjongkok dan memperhatikan Guci itu. “Ini?” terkejutnya.
“Apa pendapat mu?” Azzura berjalan dan duduk di kursi taman.
“Siapa yang melakukan ini Azzura? Ini benar-benar berniat untuk membunuh mu.” Marahnya.
“Jika dari orang-orang yang diperintahnya aku sudah mengetahui siapa, tapi yang ingin ku tanyakan jika aku kembalikan pada orang tersebut apa ada efeknya?” Tanya Azzura Panjang lebar.
Azzura hanya tersenyum dan berdiri. “Nanti kau akan tahu Paman, sekarang aku hanya membutuhkan mu untuk melakukan sesuatu.” Pinta Azzura.
Lily berada dikamar Ibunya, dan sedang menunggu Adana. “Mengapa kau ada disini?” Tanya Sang Ibu.
“Aku menunggu Adana bu,” Jawabnya.
Lily melihat sang Ibu membawa beberapa buku tebal ke kamar.” Apa itu?” Tanya nya penasaran.
“Hah, gara-gara Selir Maya tidak kembali, aku dan Selir Luisa membagi Tugas Rumah tangga.” Keluhnya.
“Lalu tugas Ibu apa?”
“Memeriksa seluruh data pelayan dan pengawal, dan kembali melakukan perekrutan karena banyak kekurangan.” Dengan membuka beberapa buku.
“Aku hanya bisa berdoa semoga kau sehat bu,” Dengan berbisik Lily hanya tersenyum kecil pada ibunya.
__ADS_1
Sedangkan Selir Inez menghela nafas karena kesal. “Mengapa kau tidak mengurus urusanmu di Kamar mu saja.” Kesalnya karena sang Putri selalu bermain di kamarnya.
“Kamar ibu lebih luas dari kamar ku, dan juga memiliki taman untuk aku bermain.” Jawabnya santai.
“Jika Raja mengetahuinya maka kau akan dihukum lagi.” Jawab sang Ibu.
“Ah Ibu, mengapa sepertinya kau ingin sekali mengusir ku,” Kesal Lily mendengar perkataan Ibunya.
Tidak lama Adana masuk dan memberi hormat. “Hormat hamba Selir, Nona Lily.”
“Adana, mengapa aku belum mendapatkan kabar?” Tanya Lily tidak sabaran.
“Ah itu, aku juga heran, seharusnya sudah ada efeknya sekarang.” Bingung Adana.
“Kau ini bagaimana, kan sudah kau sendiri yang meletakkan benda itu.” Kesal Lily namun Adana hanya diam dan tidak menjawab.
“Aku akan memeriksanya sendiri.” Adana pamit dan memberi hormat.
“Ada apa? Ada yang tidak sesuai dengan keinginan mu?” Tanya Selir Inez melihat wajah masam Putrinya.
“Tidak,” Kesal Lily.
Malam selanjutnya Azzura sengaja mengatakan akan pergi ke sesuatu tempat dan menginap semalam.
Ini kesempatan Adana untuk menyelinap, Adana ternyata memiliki Ilmu bela diri yang cukup tinggi. Dia juga bisa menyusup dengan baik.
“Sepertinya tidak akan ada orang,” Batin Adana yang dengan leluasanya menyelinap masuk ke kamar Azzura.
Saat akan mengecek Guci yang dia tanam tepat dari belakang ada yang memukulnya dan membuat Adana pingsan seketika.
Lily menunggu di kamarnya dengan gelisah. “Mengapa Adana belum Kembali,” Dia terus menggigit kukunya dengan khawatir.
Malam belum larut namun Lily sudah sangat mengantuk, akhirnya dia memilih untuk tidur dan menunggu kabar Adana besok pagi.
Sementara kekacauan di Kerajaan Frio semakin besar, Vanesa menolak semua perintah dan peraturan Kerajaan.
Raja Frio menjadi kesal karena ulah Vanesa. “Aku sudah tidak tahan lagi dengan Istri mu yang manja itu.” Kesal Sang Raja.
“Ayah, aku akan mendidiknya untuk lebih baik lagi.” Chiko mencoba menenangkan Ayahnya.
__ADS_1
“Chiko, kau adalah seorang Putra Mahkota. Jika rakyat tahu kelakuan Istri mu, itu bisa mengancam Status mu.” Kesal sang Ibu yang ikut menyalahkan Chiko.
Chiko hanya terdiam menahan amarahnya. Vanesa semakin melawan dan semakin membuatnya kesal.