
Semua berkumpul di Ruang pertemuan Hareem, Ratu Elena sendiri tidak melepaskan pandangannya pada Selir Maya seperti menagih penjelasan. Perasaannya campur aduk dan banyak pertanyaan dibenaknya sendiri.
“Ceritakan apa yang terjadi dan apa yang kalian lakukan sebenarnya?” Cecar Ratu Elena.
Setelah minum segelas Air Selir Maya menghela nafas panjang dan mulai menatap Ratu Elena.
“Ratu, kami hanya berjalan-jalan saja, Anita kelelahan karena di Pusat Kota sangat ramai sekali.” Jelasnya.
“Azzura mengatakan tentang mabuk keramaian, apa itu? Apa kalian minum-minum?” Kesal sang Ratu.
Selir Maya mendengar perkataan sang Ratu langsung panik. “Bukan, bukan seperti itu Yang Mulia.” Bantah nya.
Ratu Elena menambah tatapan nya yang semakin tajam pada Selir Maya. “Jelaskan.”
“Ini hanya istilah saja yang mulia, biasanya orang yang tidak terbiasa dengan keramaian dia akan merasakan pusing, sesak dan ingin muntah. Bisa jadi karena aroma orang-orang yang bercampur, panas terik matahari ditengah himpitan orang-orang. Atau bisa juga karena desakan orang-orang.” Dengan perlahan dan tenang Selir Maya menjelaskan.
Semua orang mendengarkan dengan baik, ini dapat diterima, karena Azzura dan para pelayan mereka jarang sekali keluar Istana. bahkan saat masih tinggal di mansion mereka juga sama sekali tidak keluar.
Semua mengangguk tanda memahami penjelasan Selir Maya. Selir Maya sendiri melihat orang-orang yang paham dengan penjelasannya menjadi lebih tenang.
“Lalu apa yang kalian dapatkan dari pelesiran itu?” Ratu Elena Kembali bertanya.
"Aku hanya mengajaknya ke Toko pemasok bahan baku Kerajaan, dan berjalan-jalan sebentar Yang Mulia." dengan tersenyum Selir Mayan memberitahu.
Dia tidak menceritakan masalah kelangkaan bahan baku karena takut salah bicara atau salah paham jika dikatakan langsung.
Ratu Elena tersenyum. “Syukurlah jika kalian baik-baik saja dan mendapatnya banyak hal baik.”
“Lebih baik kau beristirahat lah Selir, jika lapar biar pelayan yang mengantar makan ke kamar kalian masing-masing.” Perintah Ratu Elena.
“Baik,” Selir Maya menjawab dengan memberi hormat.
tidak lama Azzura datang disaat Ratu Elena hendak pergi.
"Ibu sudah mau pergi?" tanya Azzura yang berpapasan.
"Hm, istirahat lah." ucap Ratu dan berlalu pergi.
Azzura langsung menghampiri Selir Maya. "Apa kau memberitahu ibu tentang semua nya?" cecar Azzura.
__ADS_1
"Tidak, aku takut ada salah paham nantinya." Jawab Selir Maya.
"Bagus, lebih baik Ibu tidak tahu apa-apa." Ucap Azzura.
“Apa kau yakin Tuan Putri?” Selir Maya sedikit khawatir.
“Apa kau bisa ku percaya Selir?” Azzura balik bertanya.
“Tentu,.” Selir Luisa meyakinkan.
Tidak lama Mereka kembali kekamar masing-masing. Ana membantu Azzura untuk salin. “Kau bias mengecek kondisi Anita lebih dulu?” Tanya Azzura.
“Baik Tuan Putri.” Ana langsung pergi meninggalkan kamar Azzura. .
Azzura duduk disofa dan berfikir. “Bagaimana aku bisa memulai mencari tahu tentang masalah ini.”
Malam berlalu, keesokannya dipagi hari yang cerah. Azzura sudah bangun dan melihat Taman belakang kamarnya sudah dibuka. Kemungkinan Fidel sudah membersihkan taman miliknya itu.
Azzura menatap taman dibelakang kamarnya seraya melihat Fidel yang sedang menanam Bunga Lily, dia langsung berdiri dan mendekati Fidel.
“Darimana kau mendapatkan Bunga ini Fidel?” Tanya Azzura dari belakang.
“Aku mendapatkan bunga ini dari pelayan yang membawa barang-barang pemberian Kerajaan Timur kemarin, ternyata banyak tanaman dari sana.” Ucap Fidel dengan senang.
“Kerajaan Timur?’ Azzura berguman dengan memandang Bunga itu.
“Benar,” Dia langsung tersenyum dan pergi mencari Ibunya.
Fidel yang ditinggalkan begitu saja oleh Azzura hanya bisa menatap kepergian sang Putri begitu saja.
Azzura berjalan dengan cepat untuk mencari Sang Ratu. Sesampainya di ruang kerja beliau dia melihat penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan akhirnya bertanya.
“Apa Yang Mulia Ratu ada?” Tanya Azzura.
“Tidak Tuan Putri, baru saja beliau pergi.” Ucap salah satu pengawal.
‘Kemana?”
“Setahu kami menemui Yang Mulia Raja.”
__ADS_1
Azzura terdiam dan berfikir, tidak mungkin dia membahas Kerajaan Timur didepan Ayahnya. Jadi dia memutuskan untuk menunggu Ibunya dikamar Sang Ratu.
“Baiklah aku pergi,” Azzura pergi dan para pengawal itu memberi hormat.
Dijalan dia melihat Ana yang membawa sebaskom air dan handuk. “Untuk siapa ini?” Tiba-tiba Azzura menghampiri dan membuat terkejut Ana.
“Tuan Putri anda mengejut kan ku.” Ana berhenti dan menghela nafas.
“Ini untuk Anita Tuan Putri, dia sudah sadar. Tadi hamba kekamar anda untuk memberitahukannya tapi anda tidak ada.” Jelas Ana.
“Aku akan menengoknya,” Azzura pergi Bersama Ana yang mengikuti dari belakang.
Sesampainya diruang rawat, Anita masih terbaring lemas. "Apa kau baik-baik saja Anita?” Tiba-tiba Azzura masuk lalu mendekati Anita membuat perawat terkejut.
“Tuan Putri,” Semua orang memberi hormat.
“Bagaimana keadaan mu? Mengapa kau bisa pingsan sangat lama?” Tanya Azzura heran.
“Anita seperti terkena racun Tuan Putri,” Jawab seorang perawat.
“Apa?” Azzura terkejut.
“Lebih tepatnya bubuk bius Tuan putri,” Anita menyela.
“Bubuk bius?” Azzura semakin heran.
“Mereka perampok yang sudah berpengalaman, kemungkinan mereka biasa menggunakan bubuk bius untuk melumpuhkan targetnya supaya bisa dengan leluasa menjarah semua harta korbannya.” Anita semakin menjelaskan dengan terperinci.
“Apa pengamanan Kota tidak bisa diandalkan?” Azzura menjadi kesal.
"Apa anda ingat dimana kita hampir dirampok?” Tanya Anita mencoba membuat Azzura mengerti.
“Lorong?”
“Benar, Tempat itu termasuk jauh dari pengamanan para pengawal, ditambah tempat yang ramai orang mengalihkan perhatian para pengawal kerajaan.” Ucap Anita dengan yakin.
Azzura memperhatikan Anita yang menjelaskan hal itu dengan baik dan cerdas tanpa ketakutan dan keraguan. “Anita siapa kau sebenarnya?”
Pertanyaan Azzura membuat semua orang terdiam termasuk Anita yang ditanya langsung.
__ADS_1