
Pertanyaan Azzura membuat heran semua orang yang ada di ruangan itu. “Maksud anda Tuan Putri?” Anita menjadi bingung.
Azzura langsung tersadar. “Jangan ada yang memberi tahu Ratu apa yang terjadi pada Anita. Jika kalian ditanya bilang saja dia hanya kelelahan.” Ucap Azzura pada dua perawat.
“Dan sampaikan juga hal ini pada Lois?” Tambah Azzura.
“Baik,” para perawat mengerti dan memberi hormat. Mereka pergi meninggalkan ruangan itu hanya menyisakan Azzura, Anita dan Ana.
Ana sendiri langsung sibuk untuk membantu membersihkan badan Anita, sedangkan Azzura duduk dengan tidak melepaskan pandangan pada Anita.
“Tuan Putri, apa ada yang salah pada hamba.” Anita mulai tidak nyaman dengan pandangan Azzura.
“Ana jika sudah selesai tinggalkan aku dengan Anita berdua.” Perintah Azzura.
“Baik,” Ana dengan cekatan membersihkan Anita setelah selesai dia pergi meninggalkan mereka berdua.
Anita duduk di ranjang dengan menunduk sedangkan Azzura menatap tajam tepat kearah Anita.
“Tuan Putri, sebenarnya ada apa?” Anita semakin tidak nyaman.
“Siapa kau?” Azzura langsung tanpa basa basi.
“Hamba pelayan anda Anita.” Jawab Anita tegas.
“Kau terlalu berani, pintar dan pandai ilmu bela diri.”
Anita menjadi diam mendengar penuturan Azzura, tanpa menjawab dan tanpa berani menatap Azzura yang duduk tepat dihadapannya.
“Jawab!” Azzura sedikit menaikan nada bicaranya.
__ADS_1
Anita menghela nafas Panjang dan menatap balik Azzura. “Anda ingat tuan Daza?” Tanya Anita.
Azzura berfikir dan mencoba mengingat. “Bukan kah dia pengawal setia Kakek Ku?”
“Dia Ayah ku Tuan Putri,” Ucap Anita.
Azzura berdiri dan mendekati Anita untuk mendengar perkataannya dengan jelas. “Katakan sekali lagi?”
Anita menghela nafas lagi dan menatap Azzura dengan dalam. “Tuan Daza adalah Ayah kandung ku Tuan Putri.” Jelas Anita.
“Bagaimana mungkin dia Ayah mu, bukan kah Tuan Daza tidak pernah menikah.” Ucap Azzura curiga.
“Memang tidak menikah secara resmi, tapi ibuku di nikahinya secara adat oleh beliau di desa Fruta. Pada awalnya kami juga mengenalnya bukan dengan nama Daza, tapi Antonio.” Anita menceritakan kenangan tentang Ayahnya.
“Dia pulang hanya setahun sekali, dan mengatakan jika di kota dia bekerja sebagai pedagang. hingga pada satu saat aku menemukan lencana ini di lemari ibu ku setelah tiga bulan kematiannya karena sakit paru-paru. Aku tahu itu lencana kerajaan atau pejabat. Sedangkan Ayah ku hanya seorang pedagang.”
“Namun Ayah ku tidak pernah mengurangi kasih sayang dan seluruh kepintarannya pada ku, bahkan aku diajarkan beladiri olehnya. Sampai suatu hari beliau bilang saat akan meninggal, aku harus mencari anda dan menjadi pelayan atau pengawal setia anda Tuan Putri. Suatu hari aku mendengar bahwa anda mencari seorang pelayan maka langsung saja aku melamar dengan keterampilan yang aku miliki.”
Sepanjang Anita menceritakan kehidupannya Azzura juga mendengarkan dengan seksama dan tanpa menyela. Setelah selesai Azzura masih belum percaya begitu saja. Tapi Anita mengambil sesuatu dari balik bajunya. Kalung dengan bandul cincin bermata biru dan ada ukiran nama pemiliknya didalamnya.
“DAZ,” Itulah ukiran yang tertulis.
“Ini milik Ayah ku, dia memberikannya untuk berjaga-jaga jika suatu saat anda menanyakan status ku.” Anita menyerahkan cincin itu dan diperhatikan oleh Azzura dengan seksama.
Setelah yakin dengan cincin itu dia langsung menyerahkan lagi cincin tersebut. “Lekaslah pulih, kita akan berpergian jauh.” Ucap Azzura yang pergi meninggalkan Anita begitu saja tanpa berkata hal lain.
Anita menjadi heran dan sedikit bingung mengapa tidak ada tanggapan apapun tetapi dia tersenyum dan mengangguk. “Baik Tuan Putri."
__ADS_1
Azzura berjalan keluar dari ruang rawat seraya memikirkan sang Kakek, yang awalnya dia ingin menemui ibunya dia malah kembali ke kamar miliknya lalu dengan segera dia mencari buku lama milik sang Kakek.
Dia membuka bagian yang ada gambar Bunga Lily didalamnya. Dengan seksama memperhatikan gambar itu namun hanya melihat buket bunya Lily dan tidak ada yang lain, sampai dia membuka lembar berikutnya pun masih tidak ada yang muncul.
Azzura menghela nafas kesal, cincin milik Anita tadi terus membayangi dirinya. Dia seperti pernah melihat cincin itu namun dimana. Semakin dia mengingat semakin kesal karena tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. “Tuan Putri ini hamba Ana.” Karena sudah menjelang makan siang Ana mengingatkan Azzura untuk segera ke Ruang makan.
“Masuklah,” Ucap Azzura dengan malas.
Ana masuk dan memberi hormat. “Tuan Putri, Anda dipanggil yang mulia Ratu untuk makan Bersama diruang makan,” Ucap Ana.
“Aku malas, bawa saja makanannya kesini.” Keluh Azzura yang langsung berjalan keranjangnya dan merebahkan badan.
“Tapi, tamu dari kerajaan Frio sudah datang dan juga menunggu anda.” Ucap Ana lagi.
Azzura yang malas namun tetap bangun. “Hah! siapkan baju ku.” Perintahnya dan segera Ana berjalan menyiapkan baju milik Azzura.
Setelah Azzura salin dan siap untuk pergi tiba-tiba Fidel memanggil. "Tuan Putri tunggu,” Fidel mendekat dan memegang tangan Azzura.
“Ada apa Fidel,” Azzura berlutut untuk menyamakan tinggi dengan Fidel.
“Bisakah aku meminta beberapa Bunga Lily lagi, lalu beberapa karung tanah pupuk. Dan satu lagi, makanan burung ku sudah habis Tuan Putri.” Ucap Fidel dengan semangat.
“Tentu, semua kebutuhan mu akan aku siapkan. Tapi jangan terlalu Lelah. Kau masih terlalu kecil untuk bekerja berat. Lagi pula taman sudah rapih.” Azzura mengingatkan.
“Hm, baik. Aku akan selalu menjaga Kesehatan ku dan ikut berlatih dengan mu Tuan Putri.” Yakin Fidel dengan gaya anak kecilnya.
Azzura sering melakukan Latihan beladiri di halaman yang ada di tamannya dengan ditemani Fidel, Fidel juga sering mengikuti gaya bertarungnya. Bahkan Azzura mengajarkan beberapa jurus juga padanya. Meski hanya jurus-jurus yang sederhana.
__ADS_1