
“Lalu mengapa sekarang kau menangis dengan berteriak seperti anak kecil ditempat yang sepi ini?” Teyo menekan Lola.
“Aku, aku…” Lola bingung ingin menjawab apa dan akhirnya dia menarik nafasnya.
“Benar aku sudah Lelah, Lelah karena semua yang ku lakukan selalu salah dan selalu saja gagal. Sedangkan ada orang yang sangat mengharapkan keberhasilan ku di pelatihan ini.” Lola menjelaskan dengan Kembali meneteskan air matanya.
“Apa orang ini sangat berarti bagimu?” Teyo penasaran karena sikap Lola yang tiba-tiba berubah.
“Hemm… dia lebih berarti dari pada nyawa ku.” Lola menjawab dengan lembut.
Teyo yang mendengarnya hanya menghela nafas entah mengapa dia sedikit kesal dengan ucapan Lola tadi.
“Dengar, jika kau memiliki tujuan yang kuat maka semua ujian ini tidak berarti bagimu. Bahkan pedang tajam pun tidak akan bisa menghunus jantung mu dan ribuan pengawal tidak bisa menghalangimu.” Dengan berwibawa Teyo memberi pencerahan pada Lola.
Lola menatap Teyo dengan dalam. “Siapa anda, mengapa aku sepertinya pernah melihat anda tapi dimana ya?” Lola mencoba mengingatnya.
“Apa benar?” Teyo sedikit meledek.
Saat ini Teyo juga sedang mengikuti pelatihan tetapi sebagai panglima perang, semua siswa pelatihan memakai baju yang hampir sama dan juga tidak membawa gelar apapun disana jadi mereka juga kadang tidak bisa mengenali satu sama lain saat berada di Camp pelatihan.
“Hem.. Coba ku ingat-ingat lagi.” Lola memegang dagunya dengan gaya berfikir.
Teyo merasa tingkah Lola sangat lucu. “Sudah lah, kau hanya perlu mengingat kata-kata ku untuk memotivasi mu. Jika kau berhasil aku akan menemui diluar sana.” Teyo bangkit dan meninggalkan Lola begitu saja.
Lola melihat kepergian Teyo dan mengingat kata-katanya. “Benar, jika aku memiliki tujuan yang kuat maka halangan apapun tidak akan bisa menjatuhkan ku. Nona tunggu aku, aku akan belajar dan berlatih dengan giat tanpa menyerah dan aku akan menjaga diri mu dengan segenap nyawa ku.” Lola langsung bangkit dan kembali mengambil ember yang bergelinding untuk melanjutkan mengangkut air.
__ADS_1
Tanpa disadari Teyo melihat nya dari kejauhan. “Bagus, teruslah semangat.” Gumamnya dengan tersenyum tipis.
~Flash Back Selesai~
“Ah begitu…” Azzura mengangguk-angguk mendengar cerita Teyo.
Namun bukan ceritanya yang membuat paham, mimic wajah Teyo yang saat menceritakan Lola terlihat bersinar dan selalu tersenyum, membuat hati Azzura sedikit perih.
“Ada apa ini?” Batinnya.
Azzura langsung berdiri. “Aku sangat Lelah, sepertinya perbincangan kita sampai disini dulu Tuan Teyo.” Azzura pergi tanpa melihat Teyo dan menjawab perkataannya.
Teyo yang melihat Azzura terburu-buru menjadi sedikit bingung. “Apa dia sangat menghawatirkan pelayannya?” Batin Teyo melihat sikap Azzura yang aneh.
Azzura sampai dikamarnya dan langsung duduk diranjang dengan wajah cemas. “Apa aku cemburu pada Lola?” Batinnya gelisah.
“Nona, apa mau kusiapkan air hangat.” Anita datang karena melihat Azzura yang sudah memasuki kamar.
“Tidak, aku ingin langsung tidur. Kau juga istirahat lah.” Perintahnya dan dibalas anggukan oleh Anita.
Anita sendiri tidur dikursi Panjang yang ada dikamar Azzura, dia tidak mau berjauhan dengan Putri Mahkota. Tepat di tengah malam ada seseorang dengan jubah hitam menyelinap masuk kedalam penginapan.
Dia dengan lincahnya mengendap-endap menuju kamar Azzura. Dengan telaten dia menyelinap tanpa ada orang yang menyadari dan mengetahui dia masuk. Karena sudah larut penginapan juga sudah sepi dari lalu Lalang orang.
Sebelum masuk menyelinap, penyusup itu sudah diberitahu jika Azzura menginap dikamar yang sudah mereka tandai dengan Pot bunga kaktus didepan kamarnya, jadi bisa dengan mudah dia menemukan target yang dicari.
__ADS_1
Ketika sampai di depan pintu kamar Azzura dia mencari celah sedikit dan memasukkan sedotan bambu kecil kedalam celah tersebut lalu meniupkan asap bius kedalam kamar Azzura.
Tanpa dia sadari Azzura yang sudah terlatih dan menyadari ada yang tidak beres langsung terbangun.
Begitu dia melihat ada sesuatu yang keluar dari celah ventilasi kamarnya, Azzura langsung mengetahui. "Asap Bius,” Batinnya dan langsung membangunkan Anita.
Dia menggoyang Anita, Anita terbangun namun langsung ditutup mulutnya oleh Azzura. Mereka bertatapan dan Azzura menunjuk kearah Ventilasi membuat Anita membelalakkan mata.
Azzura memberi tanda untuk jangan bersuara dan juga bersembunyi namun sebelumnya dia memberikan sapu tangan basah untuk menutupi hidung mereka supaya tetap sadar dan Ketika penyusup itu masuk mereka bisa langsung menangkapnya.
Benar saja dalam waktu lima belas menit setelah asap bius dihembuskan kedalam kamar penyusup itu masuk dan mencari mereka namun tidak menemukan siapapun dikamar itu. Dengan bingung dan sedikit panik dia bergumam.
“Apa aku salah kamar?” Batinnya dan berfikir untuk Kembali keluar kamar.
Saat hendak berbalik Azzura langsung berada tepat dibelakangnya. “Siapa kau?” Azzura tiba-tiba menaikan nada bicaranya.
Penyusup heran. “mengapa dia masih sadar?” Bingungnya, jelas-jelas dia sudah meniupkan asap bius itu.
Karena sangat panik dan terkejut, penyusup itu mencoba menyerang Azzura dengan pisau kecil miliknya yang telah dia siapkan. Dia menyerang dengan cepat namun Azzura tidak kalah cepat dari nya.
Azzura langsung menangkap tangan penyusup itu, menekannya dan memelintir kebelakang lalu mengambil pisau kecil milik penyusup itu dan menusukkan di punggungnya lalu mendorong penyusup itu hingga jatuh tersungkur kelantai.
Penyusup itu dengan cepat berdiri meski menahan sakit pada punggungnya yang ditusuk oleh Azzura dan tangannya yang dipelintir.
Sekali lagi dia mencoba menyerang namun Azzura menghindar lalu menendang penyusup itu dan dengan cepat berputar lalu menendang tepat kearah kepalanya sampai penutup wajah penyusup itu terbuka.
__ADS_1
Karena pencahayaan kamar remang jadi Azzura sedikit kesulitan melihat wajah penyusup itu apalagi dengan cepat dan terburu-buru dia menutup wajahnya.