The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 56


__ADS_3

“Apakah itu yang kau lihat pada diri ku Selir?” Azzura membalas tatapan Selir Inez.


“Heh, aku ingin tahu. Jika aku mengadukan semua kelakuan mu ketika Raja tidak ada, apakah kau masih bisa bersikap seperti itu.” Dengan gaya sombong Selir Inez berbalik dan hendak pergi.


“Apa kau tidak merasa curiga mengapa Lily bersikap menjadi lebih berani?” Seketika Selir Inez berhenti.


“Apa kau mencoba menghasut ku Azzura? Tapi sayang aku tidak tertarik dengan ucapan mu.” Selir Inez mengacuhkan.


“Terserah saja, tapi kau yang lebih mengetahui jika ada yang aneh padanya.” Ucap Azzura lagi.


Selir Inez kembali berhenti dan berfikir, melihat itu Azzura tersenyum. Dia berjalan menghampiri Selir Inez dan berdiri disampingnya.


“Selir, apa kau pikir jika masih ada orang diistana ini yang dapat dipercaya?” mereka saling bertatapan, lalu Azzura menyerahkan lembaran kertas.


Selir Inez menerimanya lalu membuka kertas itu. “Aku mendapatkan gambar ini dari pangeran Andres, dia mengatakan pada ku harus berhati-hati jika melihat benda seperti ini karena itu adalah bejana dupa Sihir.” Azzura mengucapkan kata terakhir dengan bisikan.


Kata- kata itu membuat Selir Inez membelangakkan mata karena terkejut dan menatap Azzura. “Kau ingin mengadu domba ku Azzura,” dia meremas kertas tersebut.


Azzura melihatnya dan kembali tersenyum. “Sudah ku bilang, itu urusan mu Selir.“ Azzura pergi meninggalkan Selir Inez yang melamun.


Sedangkan Selir Maya yang melihat Azzura pergi, dia juga ikut pergi seraya menyuruh para pelayan bubar.


“Selir Luisa,” batin Selir Inez dengan marah.


Dia berbalik dan langsung menuju kamarnya untuk memastikan maksud dari ucapan Azzura. Sesampainya dikamar dia langsung mencari benda itu, dan benar saja bentuk bejana tersebut sama dengan yang diberikan Selir Luisa untuknya.


“Kurang ajar!” dia membanting bejana yang menurut Selir Luisa ini untuk wewangian terapi.


Dia langsung berjalan cepat ke Kamar Selir Luisa. Sesampainya didepan kamar dia dihadang oleh dua pelayan. “Maaf Selir, anda tidak boleh masuk.” Ucap pelayan itu.

__ADS_1


“Mengapa?” herannya.


“Selir Luisa sedang ada tamu.” Ucap pelayan itu lagi.


Selir Inez menjadi marah dan curiga, maka dia berteriak-teriak dan mencoba menerobos masuk dengan menyuruh Pelayannya untuk mendorong dua pelayan Selir Luisa.


Keributan pun tidak terelakan, Vanesa langsung keluar dan menghentikan keributan tersebut. “Hentikan, kalian tidak ada sopan santunnya!” Ucap Vanesa yang marah karena melihat Selir Inez dan para pelayan yang saling dorong.


“Bibi, mengapa kau membuat keributan didepan kamar Ibu?” tanya Vanesa melihat Selir Inez sedang melipat tangannya didada.


Tanpa menjawab pertanyaan Vanesa, Selir Inez langsung berjalan menabrak dan mendorongnya. Venesa yang terdorong langsung menjerit. “Akhh!!“


Melihat Selir Luisa sedang duduk di kursi sofa dengan Bibi Ula, maka dia langsung melempar bejada Dupa ke lantai di hadapan mereka.


Selir Luisa merasa kesal dan langsung berdiri. “Apa-apa kau ini?” ucapnya.


Selir Inez tersenyum sinis. “Tidak usah pura-pura bodoh Selir, seharusnya aku yang bertanya. Apa maksudmu memberikan ku dupa Sihir ini?” dengan marah dia berkata.


“Kau lihat saja wadah itu,” Selir Inez beralih menatap Bibi Ula dengan sinis.


Bibi Ula yang ditatap langsung menyadari kebencian itu dan ikut berdiri. Pelayan mengambil wadah dupa itu dan diberikan kepada Selir Luisa.


Mereka berdua menatap wadah dupa itu, tidak lama dengan kesal Vanesa ikut bergabung. Dia melihat wadah dupa itu juga, karena tidak terlalu paham dan mengerti dia memilih berdiri dibelakang sang Ibu.


“Ada apa dengan wadah dupa ini Selir,” ucap Bibi Ula lembut.


Selir Inez langsung memberikan kertas bergambar kepada mereka.


“Ini gambar yang dibuat langsung oleh Pangeran Andres, dia sedang memberi pengetahuan mengenai wadah dupa Sihir pada Azzura, lalu dia memberikannya kepada ku karena merasa mirip dengan milik ku.” Jelasnya dengan masih kesal.

__ADS_1


Bibi Ula tersenyum. “Sepertinya Tuan Putri sangat ingin mengadu domba kita Selir.” Ucapnya santai.


“Apa maksud mu?” tanya Selir Inez.


“Penjelasannya tidak sesederhana itu Selir, memang ini adalah wadah wewangian khas Kerajaan Timur, namun jika wadah Dupa untuk Sihir harus ada kain khusus didalamnya, serta dupa yang didalamnya juga khusus dan harus diberi mantra Sihir,” Jelas Bibi Ula.


“Maksud mu, seperti wadah Dupa yang kau berikan pada ku dulu?” ucap Selir Luisa.


Dia pernah diberikan wadah dupa namun tidak pernah dia pakai, Bibi Ula mengatakan siapa pun yang menghirup asap dupa itu maka akan menuruti semua perintahnya.


“Benar Selir,” Bibi Ula mengangguk.


"Jadi, ini bukan wadah Dupa Sihir seperti yang ku berikan waktu itu," Bibi Ula kembali tersenyum.


Tiba-tiba dari pintu kamar terdengar suara tepuk tangan. Mereka semua mengengok secara bersamaan, lalu terkejut melihat sosok Azzura dan Ratu.


“Benar dugaan ku, kau adalah seorang Ahli Sihir.” Ucap Azzura.


Mereka semua langsung panik dan mimik wajah semua orang seketika berubah merah padam. Bibi Ula seperti tertangkap basah saat ini, dia bingung harus berbuat apa.


Ratu berjalan mendekati mereka bertiga. “Tak ku sangka, ada yang sedang merencanakan pengkhianatan.” Ucapnya. 


Selir Luisa dan Inez serta Vanesa langsung berlutut. “Yang Mulia Ratu,” Dengan takut dan berdebar mereka bertiga tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Bibi Ula terpojok dan ingin mengeluarkan bubuk sihirnya namun dengan cepat Pangeran Andres memukul tangannya dan menendang kaki Bibi Ula, sehingga dia terjatuh ke lantai dan membentur meja.


Bibi Ula seketika pingsan ditempat. Ratu hanya memperhatikannya dengan sinis. “Bawa orang ini kepenjara dan tinggalkan disana sampai mendapatkan keputusan hukuman dari Raja.!Perintahnya kepada pengawal yang dibawa.


Dengan cepat Pengawal membawa Bibi Ula ke penjara dengan bukti bubuk Sihir, meninggalkan mereka bertiga yang sedang berlutut.

__ADS_1


Mereka bertiga ketakutan. Selir Inez maju dan langsung memohon. “Yang Mulia Ratu ampuni aku, aku tidak terlibat dengan mereka. Justru aku ingin mencari kebenaran disini.” Ucapnya gemetaran.


Selir Luisa dan Lily saling memandang dan ikut memohon. “Yang Mulia, aku juga tidak tahu jika dia seorang Ahli Sihir, yang aku ketahui dia hanyalah seorang tabib.” Ucapnya mencoba tenang, meski dada mereka bertiga berdegub kencang tidak karuan.


__ADS_2