
Vanesa yang meringis kesakitan masuk ke dalam Istana, dan langsung disambut oleh pelayan. “Nona ada apa?” tanya pelayan tersebut.
“Cepat obati kening Nona Vanesa yang terluka,” Perintah Chiko.
“Baik,” Pelayan itu segera memanggil perawat istana untuk mengobatinya.
“Sepertinya kita sudah sepakat.” Ucap Raja Cariann.
“Benar, aku senang Raja sangat menyambut kami seperti ini,” Mereka semua tertawa disela-sela perbincangan.
Tidak lama Chiko masuk keruangan. “Dimana Vanesa,” Tanya Ratu Elena.
“Ah itu, tadi saat kami sedang berbincang di taman ada Tupai yang loncat lalu melukai kening Vanesa,” Jelas Chiko.
“Astaga, lalu dimana dia sekarang?” Selir Luisa terkejut.
“Dia dibawa pelayan untuk mengobati lukanya,” Chiko memberi tahu lagi.
Tanpa aba-aba, Selir Luisa langsung pergi mencari Vanesa. “Maaf Yang mulia Raja aku lalai menjaga Nona Vanesa,” Sesal Chiko.
“Tidak-tidak, ini kecelakaan. Memang kadang saat malam masih banyak tupai yang berkeliaran di Taman.” Bijak Raja Cariann.
“Aku akan melihat Vanesa dulu,” Ratu Elena berdiri.
“Aku ikut,” Ratu Frio juga ikut berdiri karena merasa tidak enak.
“Mari,” Ajak Ratu Elena untuk berjalan Bersama.
Azzura yang sudah sampai kamar masih tertawa mengingat wajah Vanesa saat ditabrak Tupai tadi. “Aduh ini benar-benar kenangan yang menggelikan,” ucap Azzura.
“Tuan Putri ada apa?” Tanya Ana yang sedang membawa baskom untuk mencuci kaki Azzura nanti.
Azzura terkejut dengan kedatangan Ana yang tiba-tiba. Karena pakaian Azzura saat ini tidak seperti biasanya.
“Ana, kau disini?” Tanya Azzura gelagapan.
“Tentu Tuan Putri, hamba tadi di kamar mandi menyiapkan air panas untuk anda.” Ana meletakkan baskomnya dibawah.
“Apa anda ingin berganti pakaian dahulu?” Tawar Ana karena melihat pakaian hitam yang Azzura pakai kotor.
“Ah, tidak, aku akan langsung mandi.” Azzura bingung karena Ana tidak menunjukan ekspresi terkejut saat melihat dirinya berpakaian layaknya seorang penyusup.
“Baik.”
Ana mencari dan menyiapkan baju untuk dipakai Azzura, lalu dengan cekatan membantu Azzura melepaskan pakaiannya..
__ADS_1
Sebelum Azzura masuk ke kamar mandi dia Kembali menatap Ana. “Apa kau tidak mau bertanya apa-apa?” ucap Azzura.
“Tidak Tuan Putri,” jawab Ana.
Kiiara
“Kau tidak heran dengan pakaian ku?” tanyanya Azzura lagi.
“Aku pikir itu memang hobi anda,”
“Hobi?”
“Ya, aku sering melihat anda berlatih beladiri sendirian, dan itu sangat indah. Anda juga sering mengajari Fidel.” Ana tersenyum.
“Kau memperhatikan ku?”
“tentu Tuan Putri, aku selalu Bersama anda. Melayani dan mengikuti anda jika Anita melakukan tugas lain. Jadi aku selalu memperhatikan semua kegiatan anda. Apa ada yang salah Tuan Putri?” Ana bertanya dengan bingung.
"Tidak,” Azzura langsung menggeleng dan pergi untuk mandi.
Selesai berendam Azzura dibantu Ana untuk memakai pakaiannya.” Apa ada yang datang?” Tanyanya.
“Ada Tuan Putri,” Ana mengambil beberapa buku baru.
“Pelayan Nona Lily datang dan memberikan buku-buku baru ini untuk anda,” Ana menunjukan beberapa buku itu.
Dia tersenyum dan melihat kantung yang masih tergantung.” Bagus. Apa ada lagi?”
“Tidak Tuan Putri, hamba didalam selama anda pergi,” Jawab Ana dengan membantu Azzura mengikat tidurnya.
“Istirahat lah, dan katakan pada penjaga untuk jangan ada yang menggangu ku selain Ayah dan Ibu.” Perintah Azzura lagi.
“Baik,” Ana pergi dari kamar Azzura dengan membawa beberapa pakaian kotor.
Azzura membuka pintu taman dan melihat tamanan yang baru di tanam Fidel. “Anak ini mau memenuhi taman ku dengan semua bunga atau bagaimana,” Azzura berlutut dengan tersenyum dan memegang bunga yang masih sangat segar.
“Sepertinya dendam ku akan cepat terbalaskan,” dengan menatap langit malam yang bertabur bintang.
Vanesa yang masih di rawat oleh dokter terlihat meringis kesakitan.
"Bagaimana dengan Vanesa Loiz?" tiba-tiba Selir Luisa datang.
Loiz berbalik. "Nona baik-baik saja Selir, hanya luka kecil." jawabnya.
"Kecil? jika nanti luka ini berbekas bagaimana? sebentar lagi pernikahan ku." kesal Vanesa.
__ADS_1
Loiz menggeleng mendengar rengekan Vanesa. "Aku sudah memberikan cream khusus untuk luka di wajah, jadi tidak akan berbekas Nona, asal kau memakainya dengan rutin," jelas Loiz menenangkan.
"Apa kau yakin?" Khawatir Selir Luisa.
"Tentu, aku pamit dulu," Loiz pergi dengan perawat yang menemaninya.
"Bu, bagaimana ini, perih sekali." Vanesa masih merengek.
"Sudah tenang saja, gunakan terus Cream ini, " ucapnya sesuai saran Loiz.
" Vanesa terdiam."
Tibalah hari pernikahan Vanesa dan Chiko, sejak beberapa hari yang lalu tamu tamu kerajaan sudah banyak yang datang untuk hadir dalam pernikahan kerajaan pertama yang dipimpin Raja Cariann ini.
Meski bukan pernikahan Putri Mahkota, namun acara di buat semeriah mungkin. Karena ini termasuk permintaan Keluarga Selir Luisa itu sendiri.
Vanesa yang sedang bersiap terlihat sangat gugup dan hampir tidak bisa bernafas dengan gaun pernikahannya.
“Bu, tolong aku…” Ucapnya dengan gemetar.
“Astaga, kau kenapa Vanesa?" Sang Ibu panik dan segera memanggil perawat.
Setelah di periksa oleh dokter. “Nona Vanesa mengalami ketakutan dan sangat gugup Selir,” Ucap Loiz.
“Lalu harus bagaimana?” Selir Luisa terlihat bingung.
“Bawa dia untuk menghirup udara segar terlebih dahulu dan biarkan dia bersantai sejenak sebelum acara pemberkatan,” Saran Loiz.
Selir Luisa langsung memerintahkan membuka balkon kamar dan membawa Vanesa duduk di sana supaya bisa menghirup udara segar., sesuai saran Loiz tadi.
“Bagaimana perasaan mu saat ini sayang?” Tanya selir Luisa khawatir.
Vanesa menarik nafas Panjang dengan memejamkan matanya. “Aku sudah lebih baik bu,” jawabnya dengan lebih tenang.
“Hah, syukurlah…” Selir Luisa duduk disamping dengan memegang tangan putrinya.
“Apa kau gugup?” Tanya Sang Ibu.
“Ya, banyak yang kubayangkan dan justru membuat ku semakin takut,” Jawab Vanesa.
“Sudah, tenanglah. Jika kau ingin membayangkan, bayangkan saja nanti setelah kau menikah. Kau bisa duduk di singgasana besar milik mu sebagai seorang Ratu dan juga kau bisa menghancurkan musuh-musuh mu dengan mudah,” Selir Luisa menyemangati Putrinya dengan ambisi yang besar.
“Kau benar bu,” Senyum di bibir Vanesa terukir.
Tidak lama pelayan datang dan memberitahu pemberkatan akan segera dimulai. “Ayo,” Selir Luisa menarik perlahan tangan Putrinya.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar kamar menuju Kereta kuda di Luar Istana. Gereja Istana masih berada didalam komplek Kerajaan tetapi cukup jauh dari kediaman Istana para Selir jadi tetap harus menggunakan Kereta Kuda.