
Haaaiii Azzura kembali...
Selamat membaca semuanya..
tetap semangat dan ceria..
Azzura kembali ke kamar, hari ini dia dengan lesu dan merasa sangat lelah ingin secepatnya merebahkan badannya supaya lebih rileks.
“Ana, bawakan aku air dingin dan siapkan air hangat dengan aroma terapi.” Perintah Azzura.
“Baik Tuan Putri.” Ana pergi untuk menyiapkan semuanya.
Azzura menatap langit-langit kamarnya dengan memikirkan banyak hal, sampai tidak sadar dia tertidur.
Azzura membuka matanya dan sudah ada di tengah lapangan luas yang ditumbuhi ilalang. Merasa bingung mengapa dia bisa berada disini. Berjalan maju dengan melihat sekeliling namun tidak ada orang satu pun.
Sampai dengan samar dia melihat dari kejauhan seseorang sedang duduk di kursi kayu, dari pakaiannya yang diperhatikan Azzura itu adalah seorang laki-laki. Bertekad Azzura perlahan mendekat ternyata laki-laki itu menengok kebelakang.
“Kakek,” Gumam Azzura.
Saat memastikan itu benar-benar kakeknya Azzura Kembali berteriak. “Kakek!” Dengan berlari sangat kencang Azzura menghampiri Kakeknya.
“Hoho, pelan-pelan saja sayang,” Kakek Azzura tertawa dengan mengulurkan tangan supaya disambut Azzura.
Azzura juga menyambut tangan kakeknya dan tanpa sadar dia menangis. “Kakek,” Dengan tersedu Azzura berlutut dipangkuan sang Kakek.
Kakek Azzura mengelus puncak kepala Azzura dengan lembut. “Sudah-sudah, kau sudah berada ditempat yang benar sayang,” Ucap Sang Kakek.
Azzura mengangkat kepalanya dan menatap wajah keriput sang kakek, persis seperti yang terakhir dia lihat. Karena sebelum kematian Kakeknya, dia tidak diperbolehkan bertemu. Ayahnya berkata kakeknya ingin sendiri.
“Kek, mengapa aku tidak boleh melihat mu untuk terakhir kalinya,” Rengek Azzura.
__ADS_1
“Untuk apa? Bukankan aku sudah mengatakan jika kau hanya akan mengingat aku yang sedang berkeliling dunia, bukan yang lain.” Kakeknya menjawab.
“Tapi Ayah mengatakan kau teah meninggal di pondok Gunung Sant Jeroni, dan kami tidak boleh melihat kepergian mu.” Azzura tambah menangis sesenggukan seperti anak kecil.
Dia marah, kecewa dan juga kesal dengan keluarganya yang tidak memperbolehkan melihat sang kakek untuk terakhir kalinya.
“Gadis bodoh, bukan kah sekarang aku ada dihadapan mu.” Dengan mencubit hidung Azzura Kakeknya berkata.
Azzura dengan cepat menghapus air matanya dan menatap sang Kakek lagi. “Apakah Kakek akan terus muncul di mimpi ku?” Ucapnya.
Sang Kakek hanya tersenyum dan memandang alam yang luas dihadapannya. “Kau tahu sayang mengapa kau bisa Kembali?” Tanya kakeknya.
“Ah? Kakek tahu aku Kembali ke masa lalu?” Tanya Azzura heran.
Sang Kakek tersenyum tanpa menjawab Azzura, Azzura memperhatikan kakeknya dan melihat rambutnya yang putih bersinar, janggutnya lalu Pundak nya yang meski sudah tua tetapi masih sangat gagah. Lalu dia melihat jari-jari tangannya dan tersemat cincin bermata biru.
“Ini?” Dia langsung ingat cincin yang ditunjukan Anita.
“Apakah kakek tahu anak dari Paman Daz menjadi pelayan ku?” Azzura bertanya.
Tidak lama Azzura dengan sendirinya seperti menjauh dari sang kakek lalu. “Kakek!” Teriaknya dan langsung tersadar.
Azzura bangun dari tidurnya, ternyata mimpi yang dialami sangat nyata sehingga dia tidak sadar jika Anita dan Ana sedang menunggunya bangun dengan membereskan barang-barang.
Ketika mendengar teriakan Azzura mereka terkejut dan menghampirinya. “Tuan Putri, anda baik-baik saja?” Khawatir mereka.
Azzura tersengal-sengal dan nafasnya semakin cepat. Ana mengambilkan air dan langsung diminum Azzura.
“Anita, lihat cincin milik mu.” Pinta Azzura.
Dengan cepat Anita mengeluarkan cincin Ayahnya dan menyerahkannya pada Azzura. Azzura memperhatikan cincin itu dengan seksama, dan benar saja sama seperti yang ada dijari kakeknya didalam mimpi Azzura tadi.
__ADS_1
“Apa kau pernah bertemu Kekek ku?” tanyanya.
Anita menggeleng. “Tidak Tuan Putri.” Yakinnya.
Azzura semakin kesal dan memijat kepalanya karena terasa sakit. “Mimpi ini apa maksudnya.” Batin Azzura.
Beberapa hari berlalu, Azzura sudah mendapatkan Izin untuk pergi ke kerajaan Timur dengan Teyo dan beberapa pelayan, dan Kerajaan Timur pun akan menyambut kedatangannya dengan senang hati.
Meski Azzura sudah memberi tahu kan jika kedatangannya hanya untuk masalah Kerajaan bukan yang lain. Tapi tetap saja penyambutannya dibuat sangat mewah dan megah, bahkan yang mulia Raja menyiapkan pesta untuknya.
“Mengapa mereka berlebihan sekali.” Batin Azzura kesal.
“Jika bukan karena ingin mengetahui masalah kerajaan Selatan aku malas berkunjung seperti ini.” Keluhnya lagi.
“Nona, kereta sudah siap.” Ucap Anita yang mendampingi.
Ana dan Fidel tidak ikut karena diperintahkan Azzura untuk menjaga dan memberitahukannya apapun yang terjadi di istana Ketika dia pergi.
Semua persiapan telah selesai, Raja yang sedang pergi tidak bisa mengantarkan Azzura. Namun Ratu Elena merasa khawatir dengan kepergiannya.
“Azzura, apa kau yakin ingin pergi sendiri? Jika hanya ingin meminta bunga saja bukan kah bisa menyuruh utusan saja?” Kesal Ibunya.
Alasan Azzura pergi ke kerajaan Timur karena ingin melihat cara kerajaan itu menanam dan membuat tanaman-tamanan menjadi bisa layak jual dan juga bisa menjadi sangat indah.
Timur memiliki ladang bunga yang terkenal, bahkan dari bunga-bunga itu ada yang bisa menjadi obat dan itu diproduksi langsung oleh mereka.
“Bu, aku sudah menjelaskannya berkali-kali. Aku juga harus menambah pengetahuan ku langsung dengan terjun ke lokasi pengolahan bunga-bunga itu bukan,” Azzura tersenyum sementara ibunya hanya menghela nafas kesal dan merasa kalah berdebat dengan putrinya.
“Baiklah, hati-hati dijalan. Segera pulang jika urusan mu sudah selesai.” Ingat sang Ibunda.
“Baik, aku pergi.” Azzura memeluk ibunya dan langsung menaiki kereta.
__ADS_1
“Jalan,” perintahnya.
Sedangkan Teyo berjalan dengan menunggangi kuda mengikuti dan mengawalnya langsung.