
Azzura berlari keluar kamar dan benar saja gatal di badannya hilang. “Ana cari wadah kaca yang tertutup cepat.” Teriaknya.
Ana segera berlari ke dapur dan mencari apa yang diminta Azzura, tidak lama dia datang dengan wadah yang diminta.
“Anita, ambil kantung itu lalu masukkan ke wadah itu,” Perintahnya lagi.
Dengan cepat Anita meloncat dan mengambil kantung tersebut dan langsung meletakkannya di wadah kaca. “Tutup!” Perintah Azzura lagi dengan sura keras.
Setelah wadah itu ditutup, benar saja ada sekelebat asap putih yang aneh keluar dari kantung tersebut. Anita dan Ana memandang wadah itu, Azzura langsung masuk dan menutup pintunya.
Dia duduk dan menatap wadah kaca itu juga, aroma yang tadi ia cium sudah hilang, Azzura berfikir. “Apakah ini sihir?”
“Anita, cari kantung yang sama persis seperti ini. Jika bisa besok pagi sudah terpasang ditempat yang sama.” Ucapnya, di balas anggukan Anita.
“Ana, panggil Paman Felix besok pagi dan singkirkan wadah ini taruh di belakang lemari buku,” Azzura memerintahkan pada semua pelayannya lalu menyuruh mengingat siapa saja yang masuk dan berjaga selama dia tidak ada di Kamar.
“Baik Tuan Putri,” Mereka menjalankan semua perintah Azzura.
Pagi hari saat Azzura bangun badannya terasa sangat sakit. “Aneh.” Pikirnya.
Kamarnya tiba-tiba diketuk. “Tuan Putri apa anda sudah bangun?” Tanya Anita.
“Masuk lah,” Jawab Azzura.
Anita membuka pintu dan masuk. “Hamba datang bersama Tuan Felix Putri,” Anita memberitahu Azzura supaya bersiap.
“Paman?”
“ya, Hamba Tuan Putri,” Felix menjawab.
“Tunggu aku di taman saja Paman,” karena Azzura baru bangun tidur jadi Felix langsung menuju taman kecil yang berada di belakang.
Azzura langsung membersihkan diri lalu menyalin pakaiannya, setelah selesai dia langsung bertemu dengan Pamannya.
“Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?” Tanya Azzura pada Anita.
“Sudah Tuan Putri, saat anda mandi aku sudah memasangnya,” Azzura keluar dari ruang salin dan melihat kantung yang di minta sudah tergantung ditempatnya.
“Bawa wadah itu ketaman, perlihatkan pada paman.” Perintahnya.
__ADS_1
Azzura berjalan menuju taman dan duduk disamping Felix yang sedang menyesap teh. Melihat Anita meletakkan wadah kaca dimeja Felix langsung merasa heran.
“Apa ini?” Tanya nya.
Anita pergi meninggalkan mereka berdua. “Apa kau melihat asap yang keluar dari kantung itu Paman?” Azzura bertanya.
Felix meletakkan cangkirnya dan menatap wadah kaca itu dengan seksama. “ini sihir?” Felix terkejut.
Azzura mengangguk dan menatap tanaman yang berjejer dia hadapannya. “Sepertinya mereka semakin yakin untuk membunuh ku secara perlahan.” Azzura tersenyum.
“Siapa mereka?” Felix heran.
“Siapa lagi jika bukan para pesaing yang merasa aku sebagai penghalang mereka,” Azzura membuat Felix semakin bingung.
“Apa Selir Luisa? Tapi kasus bibi Ula saja masih dalam persidangan, berani sekali dia masih menggunakan Sihir di Istana,” Felix heran.
“Sepertinya ada yang lain,” Azzura dengan santai menebak.
“Azzura ini sangat berbahaya, jika kali ini kau sadar dengan sihir itu tapi lain kali bagaimana?” Tanya Felix khawatir.
Mereka berdua terdiam tanpa berbicara lagi, sampai Felix menatap Azzura dengan seksama. “Ada apa?” Azzura merasa tidak nyaman.
“Entahlah Paman, saat aku masuk ke kamar aku mencium aroma yang sangat tidak sedap, sedangkan yang lain tidak mecium sama sekali. Saat aku mencari asal aroma itu dan menemukan kantung ini. Anehnya lagi tubuhku terasa gatal saat mendekatinya.” Azzura dengan gaya berfikir.
“Gatal?” Felix mencoba mengingat.
“Apa tubuhmu sekarang terasa sakit?” Tanya Felix lagi.
“Saat ini tidak, tapi saat baru bangun tidur tadi tubuh ku seperti habis di hantam balok, sakit semua. Setelah berendam air hangat semuanya kembali nyaman.”Jelas Azzura.
“Azzura, ini berbahaya.” Ucap Felix sedikit panik.
“Bahaya apa Paman?”
“Sihir ini adalah sihir pembunuh, awal gejalanya berbeda-beda dan juga bisa sangat lama,”
“Voodoo?” Azzura bertanya.
Felix terdiam dan menggeleng. “aku tidak bisa memastikan, semua sihir hitam memiliki kesamaan yaitu mencelakai korbannya.” Jelas Felix.
__ADS_1
“Paman, jangan beritahukan siapa pun masalah ini, dan tolong bawa benda ini keluar tanpa ada yang tahu.” Azzura berdiri.
“Kau mau kemana?” Felix bertanya.
“Ada urusan yang harus ku selesaikan.” Azzura pergi dan mencari Anita.
“Apa sudah mendapatkan kabar?” Tanya Azzura.
“Sudah Tuan Putri, dia pelayan bagian kebun belakang Istana. Kita tidak pernah bertemu dengan nya.” Ucap Anita.
“Kurung dan jangan sampai ada yang menemukannya,” Perintah Azzura dengan marah.
“Baik,” Anita pergi dengan satu pengawal.
Ana sedang memberesskan ranjang Azzura, dan menemukan kertas aneh. “Tuan Putri lihat ini,” Disaat bersamaan Felix akan keluar.
“Azzura, ini benar-benar rencana pembunuhan terhadap mu. Kau harus melaporkannya pada Raja.” Saran Felix.
“Tidak Paman, aku belum menemukan bukti siapa yang melakukannya. Jika bukti ku sudah kuat maka akan lebih mudah menghancurkan mereka.” Ucap Azzura sangat yakin.
“Kau yakin dengan keputusan mu?” Felix khawatir.
“Kau tenang saja Paman, aku mempunyai cara sendiri.” Azzura menatap Felix dengan tersenyum.
“Haah… terserah pada mu saja, jika ada yang kau butuhkan segera beritahu aku,” Felix pergi dari kamar Azzura.
“Tuan Putri, mau kita apakan benda ini?” Ana sangat ketakutan.
“Tenang saja, simpan dalam wadah kaca lainnya dan letakkan di taman dekat bunga-bunga itu.” Perintah Azzura dan langsung dilaksanakan Ana.
Azzura pergi ke Ruang makan sendiri, saat ini semua keluarga berkumpul jadi dia tidak mau melewatkan wajah terkejut mereka.
“Ibu, kau akan melihat sesuatu yang mengejutkan nanti,” Ucap Lily dengan senang.
“Ada apa?” Tanya Selir Inez bingung.
“Tenang saja nanti kau akan melihatnya.” Lily semakin senang.
Diruang makan semua orang sudah berkumpul, kecuali Azzura. Dia terlambat karena mengobrol dengan Felix namun itu menjadi hal berbeda buat Lalu dan yang lain.
__ADS_1