
Setelah sampai diruang Kerja Ratu, dia masuk dan diikuti oleh yang lain.
Ratu Elena sendiri langsung duduk kursi Sofa yang ada diruangan itu, sementara Azzura dengan santai mengikutinya. Ratu memberi istarat kepada pelayan untuk meninggalkan mereka berdua saja.
Setelah semua orang pergi Ratu Elena langsung memulai percakapan. “Apa yang kau lakukan dikamar Selir Luisa tadi? “ Tanpa basa-basi.
Azzura tersenyum. “Memang apa yang aku lakukan Ibu, aku hanya penasaran.“ Jawabnya santai.
“Azzura jaga bermain-main pada ku, aku tahu jika kau mencurigai tabib Selir Luisa itu bukan? “ Tekan Ratu Elena.
Azzura masih menanggapinya dengan santai. “Bukan kah aneh bu, seorang Selir kerajaan yang sakit bukannya memanggil dokter tapi malah mendatangkan tabib dari tempat yang sangat jauh.“ ucapnya.
“Lagi pula sejak kapan Selir Luisa sakit dan tabib itu ada di Kerajaan? Aku hanya merasa aneh saja.“ Azzura melirik ke Ibunya yang sedang berfikir.
Azzura tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya untuk memancing sangat Ibu. “Bu, aku mendengar Ratu kerajaan Timur terkena Sihir Voodoo yang membuatnya sakit selama bertahun-tahun. Jadi aku sedikit lebih waspada dengan orang luar yang belum jelas asal usulnya.“ seakan-akan Azzura menghawatirkan Selir Luisa.
“Kau benar, apalagi ayah mu sangat membenci apapun itu jika mengenai Sihir.“ ucap sang Ibu.
Azzura mengangguk setuju. “Kita harus lebih waspada pada siapapun yang masuk ke Istana ini bu,“ Azzura menambahi.
“Apa kau tahu bagaimana Ratu Kerajaan Timur sembuh? “ tanya Ratu Elena.
“Jika masalah itu kita tanyakan pada Pangeran Andres saja bu,“ ucapnya.
“Apa dia ada disini? “
“Ya, aku dan Paman Felix merencanakan untuk merekrut pelatih kuda dari Timur, karena itu dia datang. “ ucap Azzura.
“Pelatih kuda dari Timur? Memang mengapa dengan pelatih kuda dari kerajaan kita?“ tanya Ratu Elena merasa aneh.
“Saat kalian sibuk kemarin, kami berbincang mengenai pelatih kuda kerajaan. Banyak yang belum terlalu mahir dan juga jumlahnya terlalu sedikit. Pangeran Andres menawarkan bantuan kerjasama itu. Tadinya aku ingin membicarakan langsung pada Ayah. Tapi dia jarang sekali diIstana. “ Azzura menunduk lesu.
__ADS_1
“Haah... Benar, semenjak jadi Raja Ayahmu sangat sibuk. Belum lagi perang diperbatasan oleh pemberontak.“ lemas Sang Ratu.
Azzura mendekati Ibunya dan memegang tangannya. “Bu, kita bisa menyelesaikan urusan Istana tanpa melibatkan Ayah. Aku yakin itu. “ Azzura tersenyum.
Ratu Elena membalas senyuman Azzura, sebenarnya dia cukup lelah menjalani peran sebagai Ratu ini. Namun jika melihat Azzura yang sudah lebih dewasa seperti ini dia yakin bisa melaluinya.
“Apa Pangeran Andres harus ku panggil sekarang?“ tanya Azzura.
“Ajak dia makan malam bersama,“ ucap Ratu Elena.
“Baik,“ Azzura berdiri dan pamit pergi.
Sementara Lily yang sedang pusing karena tidak boleh keluar oleh para penjaga. Karena dia merasa sangat bosan diIstana, dulu saat di mansion dia bisa dengan bebas keluar masuk, namun sekarang dia seperti dipenjara.
Saat sedang duduk di taman kerajaan dia melihat pelayan Azzura sedang mengambil beberapa tanaman dibantu oleh pengawal. Lily berinisiatif menghampirinya, jika itu masalah Azzura dia sangat penasaran dan ingin tahu.
“Apa yang kalian lakukan? “ Tiba-tiba Lily sudah ada dibelakang Anita.
Anita berbalik dan memberi hormat. “Kami sedang mengambil beberapa tanaman Nona,“ ucap Anita sopan.
“Putri Mahkota sedang membuat taman dibelakang kamarnya Nona,“ Anita masih menjawab, sedangkan pengawal masih sibuk menggali.
Lily mengangguk-angguk saja sementara Anita melanjutkan kesibukannya.
Saat melihat kebawah banyak yang sudah digali oleh pengawal itu. Lily langsung berfikir untuk mengerjai mereka. Dia berbalik dan dengan sengaja menginjak tanaman yang berserakan.
“Ah maaf, aku tidak sengaja menginjaknya. “ dengan menekan-nekan kakinya ke tanaman itu.
Anita berbalik dan terkejut melihat taman yang diinjak Lily sudah hancur. “Nona hentikan dan menyingkirlah dari tanaman itu,“ kesal Anita dan mendorong kaki Lily.
“Hei tangan mu kotor,“ Lily marah dan kesal bajunya terkena tanah yang ada ditangan Anita.
__ADS_1
Sedangkan Anita sibuk membereskan tanaman yang sudah berserakan. Pengawal yang membantunya hanya menghela nafas kecewa tapi tidak berani melawan Lily.
“Lihat, baju ku jadi kotor karena ulah mu, kurang ajar kau!“ Lily yang marah hendak menendang Anita yang sedang berjongkok membereskan tanaman.
“Hentikan! “ teriak Azzura dari kejauhan.
Lily langsung menurunkan kakinya dan berbalik melihat kearah suara. Azzura yang sudah selesai berbincang dengan ibunya tadi langsung menuju Taman untuk melihat pekerjaan Anita.
Namun dari kejauhan dia sudah melihat sosok Lily dan memperhatikannya, saat melihat Lily menginjak injak taman hasil galian Anita dia sudah kesal dan berjalan untuk menghampiri. Namun Lily ingin bertindak lebih dan itu membuat Azzura semakin marah.
“Kakak, “ Lily langsung kelabakan dan panik. Dia tidak menyangka Azzura akan datang saat ini.
“Apa yang kau lakukan Lily? “ Azzura sudah meninggikan suaranya dengan nada marah.
“Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja.“ jawab Lily yang merasa tidak bersalah.
“Nona Lily sengaja menginjak-injak tanaman yang sudah kami gali Tuan Putri,“ dengan lantang Anita menjelaskan.
“Bohong, aku tidak sengaja kak. Justru pelayan ini yang mengotori baju ku.“ Lily membela diri.
“Cukup, aku sudah melihat semuanya.” Azzura mendekati Lily.
“Sekali lagi ku ingatkan pada mu, jaga sikap dan tata bicara mu. Aku bukan lagi Kakak mu seperti yang dulu.” Azzura menatap Lily dengan tajam yang sudah hampir menangis.
“Kak, kau jahat sekali, teganya bicara seperti itu pada ku. “ Lily mulai menangis.
“Ckck... Aku sudah berkali-kali juga mengatakan jangan kau panggil aku dengan sebutan seperti itu, jika tidak aku bisa menghukum mu Lily. “ Azzura melipat tangannya didada.
“Anita, sudahi pekerjaan mu. Dan kembalilah untuk membersihkan diri. Kau juga pengawal. “ perintahnya pada mereka dan semua langsung meninggalkan Azzura dan Lily.
Tinggal tersisa mereka berdua jadi tidak ada penghalang Azzura untuk mengerjai Lily. Tiba-tiba “Plak!!” Azzura menampar Lily.
__ADS_1
Lily terkejut dan hampir terjatuh ke tanah, tangannya langsung memegang Pipinya yang ditampar Azzura dengan rasa sakit yang amat terasa.
“Kau?” Lily menatap Azzura yang berjalan semakin mendekat.