
Raja Cariann sudah mencoba menggunakan Bahasa yang tegas tapi tidak menyinggung mereka. Dia tidak hentinya menatap tajam para orang Tua itu, dengan maksud jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Tapi maksud Raja disalah artikan oleh para tuan-tuan besar tersebut, mereka merasa semenjak menjadi Raja Negara Barat, Cariann semakin seenaknya dan bahkan sok berkuasa.
“Raja, jangan asal menuduh, Putri ku tidak mungkin berhubungan dengan seorang Ahli Sihir. Selama hidupnya dia hanya dihabiskan waktu di kediaman Chale, meski pernah menikah dia tidak pernah keluar dari Rumah.” Ucap Ayah Selir Inez.
“Tapi memang, semenjak masuk ke Keluarga Cariann dan mengenal Selir lain dia semakin berani, kemungkinan ada pengaruh lain.” Dengan melirik tajam Tuan Cartez.
Lirikan dan sendirian itu sangat menyinggung Tuan Cartez. “Apa maksud mu?” dengan nada tinggi.
Tuan Chale tersenyum. “Bukan kah yang memiliki pergaulan luas itu sudah jelas siapa Yang Mulia?” ucapnya lagi.
Tuan Cartez menggebrak kursi. “Kurang ajar, apa kau menuduh putri ku?” dengan berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah Tuan Chale, Tuan Cartez marah.
Raja Cariann yang melihat perdebatan itu langsung berteriak. “Cukup!”
Semua orang diam dan suasana menjadi memanas . Raja Cariann memijat-mijat pelipisnya karena lelah melihat perdebatan mereka.
“Aku harap kalian bisa kembali ke kediaman masing-masing tanpa ada keributan lagi. Masalah Putri kalian itu sudah tanggung jawab ku. Jika memang terbukti ada hubungannya mereka dengan Ahli Sihir yang tertangkap, maka aku akan menyampaikan secara pribadi pada kalian.” Setelah berbicara Raja Cariann berdiri dan pergi dari singgasananya di balai pertemuan.
Semua orang memberi hormat. Namun berbeda dengan dua orang tua itu, mereka merasa sikap Raja sangat tidak menghormati mereka sebagai mertua.
Tanpa aba-aba mereka langsung pergi dari balai pertemuan. “Aku sungguh tidak percaya jika Cariann menghina ku seperti ini.” Kesal Tuan Cartez.
Berbeda dengan Tuan Chale yang langsung pergi ke Kereta kudanya.
"Cari tahu siapa Ahli Sihir yang ditangkap, dan usut lebih dulu sebelum Raja." perintahnya pada pengawal kepercayaannya.
Hari berlalu setelah kedatangan dua orang bangsawan yang berpengaruh tersebut, tidak ada kejadian yang mengejutkan lagi. Azzura merasa sangat tenang, tamannya sudah selesai dirapihkan dan sangat asri.
__ADS_1
Meski masih banyak yang harus diperbaiki, namun sudah bisa untuknya bersantai dan berlatih. Tiba-tiba dia terfikir kan Teyo. “Semenjak malam itu aku tidak pernah melihatnya,” Azzura teringat jika dulu juga dia bertemu Teyo pertama kali dimedan perang.
Azzura memanggil Ana dan Anita. “Apa kalian bisa mencari informasi tentang Teyo?” ucapnya.
Anita heran. “Maksud anda Tuan Teyo calon Panglima?” tanya Anita.
Azzura heran. “Calon panglima?” tanyanya kembali.
“Benar Putri, sepengetahuan hamba Tuan Teyo sedang mempersiapkan diri untuk menggantikan Ayahnya sebagai Panglima Perang.” Ucap Anita.
Azzura terdiam, benar tidak lama setelah ini Ayah Teyo digantikan olehnya, karena itulah dia bisa bertemu Teyo di medan Perang.
“Apakah, dia sedang di Asrama pelatihan?” tanya Azzura.
“Hampa tidak tahu pasti Tuan Putri,” Ucap Anita lagi.
Azzura menengok dan menatap Ana. “Apa itu?”
“Pangeran dari timur dan Raja akan datang dua hari lagi, dan anda harus mempersiapkan diri untuk makan malam bersama.” Jelas Ana.
Azzura bingung, bukan kah Andres baru saja dari sini, mengapa kesini lagi dan mengapa membawa orang tua nya juga?” batinnya.
“Yasudah, kembalilah ke pekerjaan kalian masing-masing,” dua pelayan itu mundur dari kamar Azzura.
Fidel sendiri tidak pernah meninggalkan kamar Azzura, dia dibuatkan pondok kecil ditaman itu dan tinggal disana, Ratu juga sudah mengetahui hal ini dan memperbolehkannya. Karena Fidel juga masih anak-anak.
Jika mempekerjakan anak-anak dalam istana bersama para pelayan, mereka bisa terkena sanksi sosial yang berat.
Sementara di Kerajaan Timur, Pangeran Andres yang baru pulang semalam langsung dihampiri oleh Sang Adik, Pangeran Vargas.
__ADS_1
“Aku dengar kau baru saja kembali dari Kerajaan Barat Kak,” ucapnya mencoba tenang.
Pangeran Andres yang sedang bersiap untuk kembali beraktifitas sebagai Pangeran Mahkota Kerajaan Timur hanya tersenyum dan menoleh sesaat.
“Apa ada yang ingin kau sampaikan adik?” tanyanya.
“Tidak, aku hanya heran saja kau menjadi lebih sibuk bolak-balik semenjak Raja baru Kerajaan Barat diangkat.” Ada maksud sindiran dalam ucapan Vargas.
Andres berbalik dan menatap penuh Adiknya itu. “Bukankah hal wajar jika kita ingin meningkatkan hubungan bilateral antar negara, apalagi Raja mereka baru?”
Vargas tersenyum sinis pada kakaknya. “Bukan ada maksud lain?” Vargas menyelidik.
Andres menggelengkan kepala, dia tahu maksud adiknya itu. “Aku hanya fokus pada tugasku sebagai Putra Mahkota. Untuk yang lain aku serahkan pada Ayah.” Ucapnya lagi.
Vargas menghela nafas lega.”Bagus lah jika begtu,”
“Oh ya, lusa Aku, Ayah dan Ibu akan pergi Ke Kerajaan Barat, sepertinya mereka setuju jika aku menikah dengan Putri Mahkota, Benar kan kak?” lanjutnya dengan senang.
“Bagus lah jika seperti itu, aku hanya ingatkan jika kau sudah menikah bersikaplah lebih dewasa kelak.” Nasihat Sang Kakak.
Vargas hanya tersenyum dan pergi dari kamar kakaknya dengan riang gembira. Saat ini diFikiran Vargas hanya wajah Azzura. Dia benar-benar jatuh cinta pada Putri Mahkota Kerajaan Barat itu.
Andres menatap langit dari jendela kamarnya dengan sendu. “Ku harap kau bisa bahagia.” Batinnya Lirih.
Karena Semua orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka, Azzura mulai mempelajari kasus Bibi Ula. Dia sangat penasaran mengapa mereka tidak bisa menggelar pengadilan dengan cepat.
Dia pergi keperpustakaan Kerajaan mencoba memahami ilmu hukum dinegaranya. Dikehidupan yang lain Azzura, hukum kerajaannya sangat lemah, ditambah Sang Ayah yang seperti dikendalikan oleh orang lain.
__ADS_1