
Sementara Vanesa yang kembali ke kamarnya dengan seorang pelayan membuang buku-buku yang ada dimeja dengan kasar.
“Kurang ajar sekali bocah itu, sekarang dia sudah berani menunjukan sifat aslinya pada ku. Baiklah aku tidak akan sungkan lagi padanya.” Kesal Vanesa.
Di Istana sendiri, Azzura yang sedang bersantai di taman mendapatkan kabar jika akan ada kunjungan dari Kerajaan Frio beberapa hati lagi. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama dari kerajaan lain ke Kerajaan Barat untuk meningkatkan hubungan bilateral antara kedua kerajaan.
Seingat Azzura Kerjaan Frio merupakan kerajaan yang dipimpin oleh Ayah Pangeran Chiko, dia langsung tersenyum mengingat rencananya untuk menyatukan Vanesa dan Chiko.
“Aku ingin keluar sebentar apa kau bisa menyiapkan segalanya Anita?” Tanya Azzura pada pelayan setianya itu.
“Tentu Tuan Putri,” Anita dengan cekatan menyiapkan segala sesuatu untuk menemani Azzura keluar Istana.
Saat Anita keluar kamar Azzura mengambil buku milik kakek nya dan membuka nya lagi, sudah cukup lama dia tidak melihat ada kejutan apa didalamnya.
Dari lembar ke lembar dia membuka dengan perlahan, meski hanya ada tulisan yang singkat namun dia tetap membacanya dengan perlahan sampai di lembar kosong berikutnya benar saja ada cahaya yang kembali muncul.
Itu adalah gambar buket bunga Lily. “Buket bunga?” Batinnya.
Tidak lama Anita kembali, Azzura langsung menutupnya dan membuka buku lain. Anita tidak memperhatikan pergerakan Azzura jadi dia dengan santai mengambil benda-benda yang diletakkan di meja dan memasukannya dalam bungkusan dengan rapih.
“Semua nya sudah siap Tuan Putri.” Ucap Anita.
Azzura menutup bukunya dan menyuruh Anita mencari Selir Maya untuk menemaninya keluar karena menurutnya dia lebih mengenal area kota dari pada dirinya.
Anita menuruti dan mencari Selir Maya, dengan segera Azzura meletakan buku itu dikotak khusus miliknya untuk kembali disimpan saat Anita sudah keluar kamar.
Tidak lama dia juga keluar kamar dengan mengenakan gaun merah maroon yang sangat indah dengan hiasan jepit rambut yang membuatnya sangat manis dan cantik sederhana.
__ADS_1
Dia hanya melihat Anita yang menunggu diluar kamarnya. “Dimana Selir Maya?” Tanya Azzura.
“Selir sedang bersiap Tuan Putri, karena ini mendadak jadi dia cukup kerepotan.” Ucap Anita.
“Ayo kita tunggu dia didekat Gerbang utama saja,” Ajak Azzura.
“Baik,” Anita mengikuti Azzura dari belakang.
Tidak lama Selir Maya dan pelayannya datang. “Tuan Putri, mengapa mendadak sekali ingin keluar?” Selir Maya sedikit kelelahan.
“Maafkan aku Ibu Selir, tiba-tiba saja aku ingin berjalan-jalan keluar Istana dan aku teringat dengan mu yang sudah hafal kondisi luar kerajaan.” Dengan ramah Azzura berbicara.
“Dengan senang hati aku akan menemani mu, hanya saja terlalu mendadak.” Selir Maya tersenyum.
Azzura hanya membalas senyuman Selir Maya dan menunggu nafasnya kembali tenang.
“Apakah kita pergi sekarang?” Azzura bertanya pada semua orang.
Mereka berjalan keluar Istana dengan prosedur biasa, dan hanya membawa dua orang penjaga. Azzura, Selir Maya dan dua orang pelayannya masuk dalam satu kereta kuda yang sama dan langsung melaju pergi ke pusat Kota untuk melihat-lihat.
Ratu Elena mendapat kabar jika Azzura pergi keluar istana untuk melihat keadaan rakyat dan mengecek harga-harga pasar.
“Anak itu terlalu bekerja keras, kadang aku menjadi sedikit khawatir.” Guman Ratu Elena yang sedang membaca buku.
“Dia persis seperti Yang Mulia Raja ,” Ucap Pelayan pribadi Ratu Elena dengan tersenyum.
“Kau benar, bahkan terlalu mirip.” Ratu Elena menghela nafas.
__ADS_1
“Bukankah itu bagus Yang Mulia Ratu, suatu saat dia bisa menggantikan paduka Raja.” Ucap Pelayan paruh baya itu dengan lembut.
“Itulah yang aku khawatirkan, jika dia menggantikan Ayahnya akan banyak perdebatan dan konflik karena dia seorang wanita.” Dengan menunduk Ratu memangku kepalanya dengan tangan.
“Yang Mulia, anda jangan terlalu berfikir terlalu keras. Hamba yakin Tuan Putri memiliki takdirnya sendiri.” Jawaban bijak sang pelayan.
Ratu Elena menegakkan badan dan menatap pelayannya, lalu memegang tangan pelayan itu. “Kata-kata mu sungguh menenangkan ku.” Ratu Elena tersenyum dibalas senyuman oleh pelayan nya.
Pelayan Ratu Elena bernama Clara, dia merupakan wanita paruh baya yang sejak muda sudah menjadi pelayan setia Ratu sebelum dia menikah dengan Raja Cariann.
Azzura saat ini asik melihat pemandangan kota Barat yang ramai dengan aktifitas orang-orang, meski mereka belum sampai ke pusat Kota. Tapi jalan Raya kerajaan sudah terlihat sangat sibuk.
“Komoditas utama kita adalah ladang Gandum, tapi mengapa orang-orang terlihat sibuk di Pusat Kota bukannya di ladang?” Tanya nya pada Selir Maya.
Selir Maya tersenyum. “Rakyat kita bukan hanya sibuk di ladang saja Putri, Kerajaan kita termasuk kerajaan yang besar. Hampir semua kebutuhan ada disini.” Jelas Selir Maya.
“Contohnya?” Azzura menatap kearah Selir Maya.
“Masyarakat kita juga banyak yang memiliki peternakan Domba, ada yang berdagang macam-macam, dan yang paling mencolok serta membuat banyak peminat yaitu jual beli antar kerajaan,” ucapnya dengan semangat.
Azzura terkejut mendengarnya. “Maksud anda bagaimana?” Azzura masih belum memahami.
“Masyarakat kita melakukan perdagangan, dan juga barter barang-barang atau makanan. Mereka melakukannya karena barang yang didapat dari kerajaan lain memiliki nilai harga yang cukup tinggi jika dijual didalam kerajaan masing-masing.” Selir Maya masih bersemangat.
“Tapi apa itu tidak merusak nilai barang kita sendiri? Lagi pula bisa saja mereka tertipu atau juga mengalami perampokan dijalan,” Kesal Azzura.
Selir Maya tersenyum cerah. “Sepertinya kau harus benar-benar berkeliling Tuan Putri.” Saran Selir Maya.
__ADS_1
Azzura hanya diam dan Kembali menatap keluar jendela memperhatikan kesibukan orang-orang diluar. Semakin mereka mendekati pusat Kota, semakin ramai orang-orang yang berlalu Lalang.
Azzura sengaja tidak menggunakan kereta kerajaan karena tidak mau terlalu mencolok, dia hanya menggunakan kereta bangsawan biasa agar bisa sedikit ikut membaur dengan rakyatnya.