
Perjalanan yang singkat namun cukup membuat Chiko merasa aneh dengan sikap Istrinya itu. ‘Apa kau salah makan?” Tanya Chiko seraya membersihkan pedangnya.
Vanesa tersenyum. “Apa ada yang aneh dari ku?” Jawabnya.
“Tidak,” Singkat Chiko.
Sesampainya si tempat tujuan Chiko mengulurkan tangan untuk membantu Vanesa turun. Meski tahu akan di acuhkan setidaknya citra dia sebagai pangeran baik hati dan sayang dengan Istrinya tetap terjaga di depan Umum.
Namun tanpa diduga Vanesa menyambut uluran tangannya dan membuat Chiko sedikit terkejut. “Baru kali ini dia menyambut dengan senyuman pada ku,” Batin Chiko senang.
Mereka berjalan bersama lalu di sambut oleh Tuan pemilik Penginapan. “Terima Kasih Pangeran dan Putri mahkota menyempatkan hadir di pembukaan Penginapan ku ini.” Ucap Pemilik Penginapan.
“Jangan sungkan Tuan, Penginapan mu akan menjadi awal yang baru untuk perkembangan ekonomi kerajaan Frio.” Jawab Chiko dengan sopan.
“Tentu, tentu yang mulia. Mari masuk.” Ajak Pemilik Penginapan.
"Fasilitas apa saja yang Anda siapkan disini Tuan?" Tanya Vanesa seraya berjalan masuk.
“Ah, selain kamar-kamar yang mewah. Kami juga membuka pemandian air panas secara alami sendiri. Lalu kami memiliki restoran yang cukup besar daaann…” Kepala pelayan menaikan kedua alisnya pada Pangeran Chiko yang membuat mereka langsung memahami maksudnya.
Sedangkan Vanesa hanya diam karena tidak memahaminya. “Ah, mari…mari aku sudah menyiapkan perjamuan makan untuk yang Anda berdua mulia.” Mereka digiring masuk ke sebuah Aula besar tempat pusat acara.
Acara peresmian Penginapan dengan berbagai fasilitas itu terlaksana dengan baik dan juga meriah. Setelah selesai Chiko dan Vanesa langsung kembali ke Istana.
Saat sampai di depan kamar mereka Chiko langsung terus berjalan menuju kamar lain. Sejak pertama kali mereka sampai diistana Chiko tidak pernah lagi tidur satu kamar dengan Vanesa.
Namun tiba-tiba Vanesa menarik tangan Chiko. “Istirahat lah didalam.” Ajaknya dengan menunduk dan langsung masuk terlebih dahulu.
Chiko masih terkejut dengan perubahan sikap Vanesa yang menjadi lebih lembut bahkan mengajaknya satu ruangan yang mana selama ini jangankan berdekatan dengannya, sedikit saja menyentuh Vanesa mereka akan ribut besar bahkan Chiko tidak segan-segan menampar dan mendorong Vanesa.
“Ada apa dengan Wanita ini?" batin Chiko namun dia tetap masuk ke kamar mereka yang semestinya ditinggali Bersama.
__ADS_1
Vanesa duduk dengan santai seraya menyeruput teh yang telah disediakan, Chiko melihat itu dan ikut duduk dihadapan Vanesa.
“Ada apa? Ada yang ingin kau sampaikan?” Tanya nya seperti memahami jika Vanesa menginginkan sesuatu.
“Tidak, mengapa kau berfikir seperti itu?” Jawab Vanesa dengan sikap yang bingung.
Chiko terdiam dan hanya menghela nafas. “Maaf jika aku sering memukuli mu dan terkesan tidak perduli pada mu.” Ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.
“Aku mengerti, aku juga bersikap tidak baik pada mu, dan kau tahu apa alasannya.” Jawab Vanesa dengan masih santai.
“Ya, ini semua salah ku.”
Mereka berdua berbincang dengan santai hingga menghabiskan malam Bersama dan hanya tetap didalam kamar. Kabar mereka berdua yang berbaikan menjadi bahan perbincangan utama di Istana.
“Apa benar Tuan Putri dan Pangeran sudah berbaikan?” Tanya salah satu pelayan.
“Hem, bahkan mereka tidak keluar dari kamar sejak kemarin siang sampai pagi tadi.” Senang yang lainnya.
“Huh, jaga ucapan mu.” Sela salah satunya.
Para pelayan senang jika Vanesa dan Chiko berbaikan, mereka adalah calon Raja dan Ratu Kerajaan Frio. Jika mereka tidak terlihat harmonis bagaimana dengan kerajaan mereka kedepannya.
Namun kabar itu tidak menyenangkan bagi Wanita-wanita bawaan yang dihamili Chiko.
“Apanya yang bagus? Status kita saja sampai sekarang belum di perjelas.”Oceh salah satu dari mereka yang perutnya sudah semakin besar.
“Aku tidak tahu bagaimana nasib kita kedepannya.” Ucap salah satunya lagi.
Tiba-tiba salah satu dari empat Wanita itu meringis kesakitan.” Tolong, sakit… perut ku sakit.” Rintihnya dengan terduduk.
“Hei kau kenapa? Apa sudah waktunya untuk melahirkan?” Teriak salah satunya lagi.
__ADS_1
“Cepat panggil pelayan.”
Pelayan tiba dan Wanita itu di bawa ke ruang bersalin kerajaan dengan cepat.
“Salah satu dari mereka sudah akan melahirkan Pangeran,” Ucap Bibi Kepala Pelayan.
Chiko terdiam dan menatap Vanesa. “Pergilah, bagaimana pun itu anak mu.” Bijak Vanesa.
Chiko mengangguk dan mencium kening Vanesa. “Aku pergi.” Seraya berjalan menjauh.
Akhirnya anak itu lahir dan ini menjadi kabar tertutup di kerajaan. Status ibu bayi tidak akan diungkap dan hanya anaknya saja yang akan diambil Kerajaan.
Setelah melahirkan Vanesa mendatangi Ibu Bayi itu yang sedang memeluk anaknya yang baru dilahirkan.
“Tuan Putri,” Wanita itu tersenyum setelah melihat Vanesa menengoknya.
“Bibi ambil anak itu,” Perintah Vanesa.
Dan Bibi pelayan mengambil Bayi yang masih merah itu menjauhi Ibu kandungnya. “Tuan Putri, mau kau apakan Bayi ku?” Khawatir Wanita tadi.
Vanesa maju dan menatap tajam Ibu bayi itu. “Aku akan membuat mu terbebas dari semua penderitaan ini.” Bisik Vanesa dengan menyuntikkan sesuatu pada Si Ibu Bayi.
Tiba-tiba Ibu bayi itu kejang dan mengalami pendarahan yang hebat lalu pingsan. Vanesa mengangguk pada Bibi Pelayan yang menggendong Bayi tersebut.
Semua panik dan memberikan pertolongan pada Ibu bayi tersebut namun terlambat, dia sudah meninggal saat itu juga.
Kabar meninggalnya Ibu si Bayi disembunyikan dan hanya para Dokter perawat dan Anggota Kerajaan saja yang mengetahui hal ini.
“Urus Bayi itu, dan berikan tempat tinggal khusus.” Perintah Vanesa.
“Baik Tuan Putri,” Bibi Pelayan pergi dengan Bayi merah yang masih di gendongannya.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan terlalu banyak penghalang dalam tujuan ku,” Dia tersenyum sinis dan menatap jauh kedepan.