
“Tapi Raja,” Ragu salah satu yang di pegang pundaknya tiba-tiba oleh Raja Cariann.
“Tenanglah, aku bukan Raja yang angkuh dan sombong seperti bayangan kalian. Kalian bisa menceritakan semua masalah kalian pada ku.” Yakinnya dan mengajak mereka untuk duduk Bersama di bawah pohon yang rindang di pinggir jalan.
Meski begitu semua pengawal dan penjaga tetap waspada dengan orang-orang tersebut.
“Bagaimana?” Raja Cariann memulai percakapan setela mereka duduk semua.
“Maafkan kami Yang Mulia jika kami menghadang Kereta anda dengan cara tidak sopan seperti ini.” Ucap salah satu nya.
“Tidak-tidak. Aku akan melayani kalian selama itu benar-benar menyangkut kehidupan kalian semua.” Jawab Raja dengan bijak.
“Ayo ceritakan keluhan kalian dan mengapa kalian meminta ku untuk Turun tahta?” Raja mulai menekan mereka.
“Raja, sebenarnya kami mengalami kebangkrutan setelah tambang Garam di atur ulang oleh Tuan Putri, dan pemasukan kami berkurang drastis” Ucap salah satunya.
“Oh, kalian adalah pekerja tambang?”
“Benar, tuan Putri memberhentikan kami karena kami yang memegang keuangan tambang dan melakukan pemeriksaan tambang, kami dikatakan ikut bertanggung jawab karena korupsi yang dilakukan Tuan Cartez dan keluarganya." Jelas mereka dengan sedih.
Raja Cariann mengangguk-angguk, dia tidak menyangka jika Azzura benar-benar menyapu bersih para orang-orang Cartez dengan tanpa ampun.
“Jadi kalian mau nya bagaimana? Secara hukum seharusnya kalian semua di hukum penjara, tapi Putri hanya membekukan keuangan kalian saja itu sudah suatu kebaikan.” Ucap Raja dengan tetap melembut pada mereka.
“Benar yang mulia, tapi itu membuat kami tidak bisa menjalani kehidupan masyarakat dengan baik, serta semua pekerjaan yang kami lakukan gagal karena kurangnya pengalaman dan modal.” Jawab mereka dengan saling mendukung.
“Kalian ada beberapa orang?” Tanya Tuan Cariann.
“Ada sekitar lima belas orang Yang Mulia,” jawab salah satunya.
Raja Cariann tersenyum. “ Kirimi aku data-data kalian dan akan ku cek nanti kalian harus seperti apa dan bagaimana,” Jelas Raja Cariann.
__ADS_1
“Tapi apakah kami bisa mempercayai anda?” Ragu salah satunya.
“Itu terserah kalian, aku tidak bisa memaksa untuk mempercayai ku atau tidak, tapi aku tidak akan dengan mudah kalian lengserkan dari Tahta hanya karena keluhan beberapa orang seperti kalian.” Dengan wibawanya Raja Cariann berdiri dan menghela nafas lega.
Raja hendak pergi namun di halangi oleh salah satu lagi. “Raja Tunggu,” ucapnya.
Raja Cariann berbalik, dan menatap orang itu. “Apa anda tidak khawatir jika akan ada yang menyerang anda," Tanya mereka.
"Aku percaya pada rakyat ku karena mereka pasti melindungi ku juga.” Dengan tersenyum Raja pergi menjauhi mereka dengan keretanya mereka hanya terdiam dengan jawaban Raja Cariann.
“Aku benar-benar telah salah menilai Raja kita,” Ucap salah satunya.
Iringan Raja Cariann pergi dan mereka semua memberi hormat. “Bagaimana jika Nona Vanesa meminta hasilnya nanti?” Tanya mereka takut.
“Ah, aku sebenarnya juga ragu mengikuti rencana Nona Vanesa, karena dia terlihat sombong dan angkuh, aku juga menurutinya dengan terpaksa dan di ancam.” Kesal salah salah satunya.
Semua rencana Vanesa sudah di susun dengan rapih olehnya, semua pejabat yang ditemui setuju dengan kudeta yang akan dilakukan, besok Chiko akan datang, saat itulah mereka akan melakukan protes untuk menurunkan Tahta Raja Cariann.
Sepanjang hari Vanesa tersenyum sampai suatu pagi Raja dan Ratu memanggilnya. “Ada apa mereka memanggil ku?” batin Vanesa sedikit ragu.
“Sepertinya begitu Tuan Putri, jika anda tidak datang aku takut Yang Mulia akan curiga dengan anda dan marah.” Saran Pelayan setianya.
Dengan ragu Vanesa pergi menemui Ratu dan Raja. “Sudahlah, besok Chiko akan datang dan mendukung semua rencana ku." Ucap Vanesa mencoba menenangkan diri.
Sesampainya dihadapan Raja dan Ratu, Vanesa memberi hormat. “Yang Mulia Raja, Ibu Ratu.” Hormat Vanesa.
“Duduklah Vanesa,” Lembut Ratu Elena.
“Vanesa boleh aku bertanya?” Ratu memulai pembicaraan.
“Tentu Ibu Ratu,” Jawab Vanesa.
“Apa kau tidak ingin kembali ke Kerajaan Frio?”
__ADS_1
“Mengapa aku harus Kembali?” Heran Vanesa.
Ratu Elena menatap Suaminya dengan bingung mengapa Vanesa berkata demikian dan membuat seperti mereka mengusirnya.
“Vanesa, kau harus sadar status mu sekarang,” Raja Cariann membuka pembicaraannya dan mulai tegas..
“Maksud Ayah?” Vanesa masih menyangkal.
“Vanesa, kau Istri seseorang, apalagi suami mu adalah Pangeran Mahkota tidak sepatutnya kau berada berjauhan dengan suami terlalu lama, di tambah kau sedang mengandung.” Jelas Ratu Elena dengan perlahan dan lembut.
“Ibu, aku juga Putri kalian, mengapa seakan-akan kalian mengusir ku. Ibu kandung ku sedang sakit kalian juga tidak memperhatikannya.” Dengan tegas vanesa membantah Ratu Elena.
“Vanesa!!” Kesal Raja Cariann dengan berteriak.
“Jaga sopan santun mu di hadapan kami. Kau tidak pantas berkata seperti itu.” Kesal Raja Cariann lagi.
“Tidak pantas? Kalian memperlakukan keluarga ku seperti hewan peliharaan dan tidak bisa berhubungan dengan dunia luar, apakah itu pantas?” kesal Vanesa yang masih berkata kasar.
“Vanesa!” Kali ini Raja Cariann benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
Tiba-tiba Vanesa memegang perutnya dan merasakan sakit. “Aduh, perut ku…” Dia merintih kesakitan.
Ratu Elena dengan panik memegang tubuh Vanesa dan memanggil pelayan dan dokter, tidak lama Vanesa di periksa di ruangan itu.
“Nona Vanesa mengalami kram perut karena kandungannya, kemungkinan dia stress Yang Mulia," Ucap Dokter Loiz.
“Hah, bawa dia kembali ke kamarnya.” Kesal Raja Karena tidak bisa melampiaskan amarahnya ke[ada Vanesa.
Vanesa melirik sebentar Ke Raja Cariann dan tersenyum puas, karena Raja tidak bisa memarahinya lagi dan menghawatirkan kandungannya.
Vanesa langsung di tandu untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Visual Lily
__ADS_1