
Azzura tersenyum penuh arti. “Bekerja samalah dengan ku,” Ucapnya tanpa basa-basi.
Selir Maya menghela nafas. “Sudahlah, lupakan hal itu, kau masih terlalu kecil. Mereka bukan lawan yang bisa kau remehkan Azzura.” Ucapnya seraya melanjutkan pekerjaannya.
Azzura berdiri. “Terserah pada mu saja jika begitu, jangan sampai kau menyesal.” Tiba-tiba dia melihat Fidel yang sedang berjalan bersama seekor Anjing.
Selir Maya hanya terdiam dan tidak menatap Azzura. “Aku pergi Selir,” Azzura memberi hormat dan pergi meninggalkan Selir Maya seperti orang yang sedang berfikir.
Selir Maya melihat Azzura dan seorang anak pelayan yang terlihat akrab, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Mengapa jadi begini,” Bisiknya.
Azzura yang menemukan Fidel langsung senang dan segera membawa Fidel ketaman pribadi miliknya.
“Ayo ikut aku,” Ajaknya dengan memegang tangan Fidel. Mereka berdua berjalan seraya tersenyum senang.
“Kita mau kemana Putri?” Tanya Fidel penasaran.
“Kau akan tinggal bersama ku mulai saat ini,” Ucapnya.
Fidel berhenti dan menarik tangan Azzura. “Maksud anda?”
Azzura tersenyum dan duduk bersimpuh dihadapan Fidel untuk menyamakan tinggi mereka. “Dengar, aku menyuruh mu datang ke Istana untuk tinggal disampingku dan mengurus taman kesayangan ku,” ucapnya dengan lembut.
“Apa benar?” Azzura mengangguk.
Fidel sangat senang dan berteriak, lalu memeluk Azzura. Perlakuan itu dilihat oleh Bibi Leya yang langsung menegur Fidel.
“Apa yang kau lakukan?” Ucapnya dengan nada tegas membuat Fidel terkejut dan langsung melepaskan pelukannya pada Azzura.
“Aku, aku…” Fidel tergagap.
Azzura berdiri didepan Fidel dan tersenyum pada Bibi Leya. “Sudah lah, aku yang membawanya kesini secara pribadi,” Ucap Azzura lembut.
Bibi Leya menunduk. “Tapi tidak seharusnya seorang pelayan berprilaku tidak sopan pada Anda Tuan Putri,” Ucap Bibi Leya yang tadi melihat Fidel memeluk Azzura.
“Dia hanya anak kecil, maafkan saja. Aku juga tidak mempermasalahkannya.” Azzura mengajak Fidel pergi dan meninggalkan Bibi Leya.
Bibi Leya hanya menghela Nafas dan menggelengkan kepala. “Aku bingung dengan Sikapnya,” Lalu kembali dengan kegiatannya.
Azzura berjalan dengan masih menggandeng tangan Fidel dari kejauhan Lily melihat keakraban mereka dan menghampirinya. “Kalian mau kemana?” Tanya Lily dengan berlagak ceria.
__ADS_1
Azzura berhenti karena tiba-tiba Lily berdiri didepannya, lalu tersenyum. “Bukan urusan mu Lily,” Azzura menarik tangan Fidel lagi untuk terus berjalan.
“Kakak tunggu, aku ingin ikut,” Dengan banyak maksud Lily mencoba mendekati Azzura kembali.
Azzura berbalik dan melipat tangannya didada. “Bukankah kau bisa pergi kemana saja dengan Vanesa?” Tanya Azzura.
“Ah itu, kak Vanesa tidak seru. Kau tahu… wajah nya terlalu serius, sangat berbeda dengan mu kak,” Lily merayu dan memegang tangan Azzura.
Tapi Azzura tidak senang dan melepaskan pegangan Lily dengan kasar.
Azzura tersenyum sinis, dia benar-benar salut dengan Lily yang bisa dengan mudahnya berganti haluan jika ada yang tidak menguntungkan.
“Aku rasa kami tidak butuh anggota tambahan. Permisi.” Azzura mengajak Fidel berjalan lagi dan meninggalkan Lily yang melamun kesal.
Lily yang diacuhkan hanya mengepalkan tangan dan pergi kekamar Ibunya. Namun dia tidak melihat sang Ibu dan bertanya pada Pelayan ternyata Ibunya sedang minum teh dengan Selir Luisa dan Vanesa.
Dengan cepat dia pergi menemui mereka. Lily yang datang langsung merajuk pada Ibunya didepan semua orang.
“Ibu aku sangat membenci Azzura,” Ucapnya dengan wajah sedih.
Sang Ibu meletakkan cangkir teh nya. “Ada apa lagi?” Tanya Selir Inez yang melihat putirnya sangat kesal.
“Aku heran, akhir-akhir ini Azzura berubah drastis menjadi lebih berani. Apa yang terjadi pada dirinya?” Tanya Selir Inez dengan menatap Selir Luisa.
Selir Luisa mencoba berfikir. “Apa dia mengetahui semua rencana kita?” ucap Vanesa tiba-tiba.
Selir Luisa tetap diam dengan mencoba mengingat semua kejadian bersama Azzura. “Dia seperti memutar balikkan keadaan yang mana dia sudah tahu apa yang akan terjadi.” Ucap Selir Luisa.
Mereka semua diam dan memikirkan apa yang dikatakan Selir Luisa. “Apa pesan ku sudah disampaikan?” Tanya Selir Luisa pada pelayan pribadinya.
“Sudah Selir, mereka sedang menjemputnya, mungkin saat ini sedang diperjalanan.” Icap pelayan itu.
“Kita tunggu Bibi Ula, dan biarkan dia yang mencari tahu apa yang terjadi pada Azzura,” Ucap Selir Luisa.
Mereka semua sangat menunggu kedatangan Bibi Ula, dimana Bibi Ula adalah ahli Sihir dari Timur yang tidak diketahui banyak orang. Jika ada yang ingin memakai jasanya maka orang itu pasti mempunyai jabatan tinggi atau bangsawan kaya raya.
Mereka akan memasukan Bibi Ula sebagai Tabib pribadi Selir Luisa. Dengan alasan Selir Luisa sering merasa tidak enak badan dan sudah berlangganan dengan pengobatan Bibi Ula.
“Bibi, apa kau yakin dengan hal ini?” Tanya Lily yang sangat khawatir kepada Selir Luisa.
__ADS_1
Peraturan kerajaan sangan ketat kepada siapa saja yang menggunakan sihir dilingkungan kerajaan, Itu bisa membuat mereka semua dalam ancaman.
“Aku sudah memikirkannya. Bibi Ula mempunyai Sihir yang dapat merubah wajah, lagi pula aku sudah menyiapkan pakaian khusus untuknya nanti. Sebelum masuk keistana Bibi Ula harus dirubah dari wajah hingga penampilannya dulu,” Selir Luisa menjelaskan.
Mereka hanya mengangguk seperti paham dengan apa yang dijelaskan Selir Luisa.
Ditempat lain Azzura sedang sibuk dengan tamannya bersama Fidel dan Ana. Lalu Anita datang memberitahunya jika Tuan Felix ingin bertemu.
“Aku segera kesana, siapkan air mandi untuk ku Anita,” Azzura sudah sangat kotor dan berkeringat jadi dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu.
Menjelang sore Azzura baru bertemu dengan Pamannya di pinggir lapangan Kuda. Karena merasa tempat ini yang paling aman untuk mengobrol.
“Paman, “ Panggil Azzura yang melihat Felix sedang duduk bersantai dibawah Pohon dekat lapangan Kuda.
“Kau sudah datang?” dia menengok sebentar.
Azzura duduk dikursi yang telah disipkan oleh pelayan. “Apa ada kabar terbaru?” Tanya Azzura.
“Kau tahu Azzura mengapa aku belum menikah?” Tanya nya tiba-tiba membuat Azzura menyeringitkan dahi.
“Mengapa Paman bertanya seperti itu, tentu karena kau belum menemukan orang yang tepat.” Jawab Azzura.
Felix tersenyum dan kembali menyesap teh dari cangkir dan meletakkannya dimeja kecil ditengah-tengah mereka.
“Ayah ku yaitu Kakek mu si tua Bangka itu mendesak aku untuk terus menjadi pelindung keluarga mu. dia berkata Cariann akan menjadi seorang Raja.” Ucapnya dengan tersenyum.
“Dan kau tahu aku menjawab apa waktu itu?” tanya Felix tiba-tiba.
“Aku bilang, jika Kakak menjadi Raja maka aku yang akan menjadi jendral perangnya dan melindungi kalian semua dengan nyawa ku.” Felix tiba-tiba meneteskan air mata.
Azzura menjadi khawatir dengan ekspresi Pamannya itu. “Paman ada apa dengan mu,” tanya Azzura.
AZZURA KEMBALI..
AUTHOR AKAN TERUS BERUSAHA SUPAYA PARA PEMBACA SETIA TIDAK KECEWA..
TERIMA KASIH.. 😍
__ADS_1