
“Lily, coba ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya?“ Ratu Elena beralih bertanya pada Lily.
Dengan ekspresi kesusahan dia berkata pelan. “Aku hanya ingin menyapa para pelayan yang sedang memetik bunga di taman belakang bersama seorang pengawal, namun tiba-tiba Kak Azzura datang dan menampar ku berkali-kali.” Lily berhenti dan merintih kesakitan.
“Sayang sudah jangan bicara lagi, nanti wajah mu bertambah bengkak,“ Selir Inez menghampiri Lily yang sudah duduk diranjang.
“Yang mulia Ratu bisa memanggil mereka sebagai saksi," Lanjut Lily.
Ratu Elena beralih lagi menatap Azzura seperti meminta penjelasan. Sedangkan Azzura hanya tersenyum. “ Benar Ibu anda bisa memanggil mereka untuk menjadi saksi,” Azzura mengiyakan dengan santai.
“Baiklah, panggil pelayan dan pengawal yang memetik bunga di taman Kerajaan tadi siang,” Perintah Ratu Elena.
Tidak lama Anita dan Seorang pengawal datang dan duduk bersimpuh di hadapan Ratu Elena.
“Siapa nama kalian,“ Tanya Ratu Elena kepada mereka berdua.
“Hamba Anita Yang mulia Ratu, “
“Hamba Pedro yang mulia Ratu, “ jawab mereka masing-masing.
“Apa benar kalian melihat jika Putri Mahkota memukuli Nona Lily berkali-kali hingga bengkak? “ Ratu Elena langsung bertanya ke intinya.
Anita dan pengawal itu saling melirik, sebenarnya Azzura tidak meminta pembelaan apapun pada mereka. Karena itu dia menyuruh Anita menceritakan apa yang dia lihat saja. Jika mereka berdua berkata melihat Azzura menampar Lily sekali berarti mereka jujur. Dan itu bisa menjadi penilaian tersendiri untuk Azzura.
Namun jika mereka melebih-lebihkan supaya mendapatkan simpati Selir Inez dan Lily. Dia akan langsung membuang Anita dan menjauhi pengawal tersebut.
Meski nanti Azzura terbukti memukuli Lily, dia tidak takut untuk dihukum, karena dia sangat yakin jika sang Ibu tidak akan menghukumnya dengan berat. Tapi pastinya akan ada peringatan keras untuk dirinya.
Tanpa diduga dua orang itu menggeleng secara bersamaan, membuat semua orang terkejut. “Apa maksud kalian?“ Ratu Elena heran.
“Maaf yang mulia Ratu, memang benar Nona Lily mendatangi kami saat sedang mengambil tanaman untuk Tuan Putri Azzura, namun jika masalah Nona Lily yang dipukul Oleh Tuan Putri kami tidak tahu sama sekali.” Ucap Anita dengan menunduk dan meyakin kan.
__ADS_1
Mendengar itu Lily sangat tidak Terima, jelas-jelas saat ditampar pertama kali oleh Azzura mereka masih ada disana dan menyaksikannya. “Pembohong, itu karena kau pelayan Azzura pasti tidak akan mengaku. Hei kau pengawal katakan yang sebenarnya!” Lily terlihat sangat marah.
Pengawal itu menjadi gugup dan gemetaran, meski Azzura melihat ke khawatiran pengawal itu dia masih tetap tenang.
“Hamba...hamba sama yang Mulia Ratu, tidak melihat Tuan Putri memukuli Nona Lily... Tapi... “ pengawal itu berhenti bicara dan mencengkram celananya.
“Ada apa?“ Ratu Elena bertanya karena melihat pengawal itu langsung terdiam.
“Sebaliknya Yang Mulia Ratu, Nona Lily malah menginjak-ijak bunga yang susah payah sudah kami gali,“ lantang Anita.
Selir Inez dan Lily terkejut dengan perkataan pelayan itu. Lily langsung berdiri dan berjalan mendekati Anita untuk menedangnya namun dihalangi pelayan Pribadi Ratu Elena.
“Beraninya kau berlaku seperti itu di hadapan ku Lily, “ bentak Ratu Elena yang melihat tindakan kasar Lily.
Lily langsung bersujud dan memohon keadilan. “Ibu Ratu hamba tidak pernah bertindak seperti itu, mereka sudah memfitnah ku." dia memohon dengan tangisan.
“Beraninya kalian memfitnah Putri ku!“ ujar Selir Inez yang juga marah mendengar perkataan pelayan tersebut.
“Kami tidak memfitnah sama sekali yang Mulia Ratu, jika tidak percaya. Sisa bunga yang hancur masih ada di taman. Hamba tidak membawanya karena sudah tidak bisa ditanam lagi.” Jelas Anita tanpa ragu.
“Bisa dilihat juga dari sepatu Nona Lily yang dipakainya sekarang, jika ada bekas gesekan tanaman yangtelah dia injak maka perkataan kami adalah kebenaran.” Lanjut Anita.
Azzura benar-benar kagum dengan kepintaran Anita, Ini diluar pemikirannya. “Siapa kau Anita?” Pikirnya yang terus memperhatikan Anita.
Gadis itu menjelaskan semuanya dengan tenang, bahkan tidak ada ketakutan sama sekali diwajahnya. Selama ini dia memang tidak terlalu akrab dengannya. Namun Anita juga tidak pernah melawan, membantah bahkan menentang Azzura.
Ratu Elena langsung menyuruh pelayannya mengambil sepatu Lily yang ada didekat ranjang. Melihat itu Lily menjadi panik dan langsung mengambil sepatunya lebih dulu.
“Lily berikan sepatu mu,” ucap Ratu Elena yang melihat Lily memeluk sepatu lnya sendiri.
Lily hanya menggeleng ketakutan. “Lily sayang berikan saja, kita buktikan bahwa mereka sudah memfitnah dirimu. Dan biarkan Ratu menghukum mati mereka.” Ucap Selir Inez dan menatap tajam kearah dua pelayan itu serta Azzura. dia sangat bahwa Putrinya tidak bersalah.
__ADS_1
Namun Lily justru terus mendekap sepatunya dan menunjukan wajah ketakutannya.
“Lily!!" Bentak Ratu Elena.
Pelayan Ratu langsung memaksa untuk merebut sepatu tersebut dari tangan pemiliknya. Saat dibalik sepatu tersebut, benar saja ada bekas gesekan berwarna warna merah dan hijau, serta masih ada tanah yang tersisa.
Pelayan itu menujukan pada Ratu dibagian bawah sepatu tersebut dan melihatnya. Dia hanya memejamkan mata dan menghela nafas.
“Jadi kalian berdua tidak melihat Lily dipukuli oleh Putri Mahkota?” tanya Ratu Elena sekali lagi.
Dengan kompak mereka menjawab. “Tidak yang mulia Ratu,”
Sekali lagi Ratu Elena mencoba mengatur emosinya. “Kalian boleh pergi,” dua orang itu pergi meninggalkan Kamar Selir Inez.
Saat Anita berpapasan dengan Azzura dia hanya memberi hormat dan dibalas anggukan oleh Azzura lalu lanjut berjalan keluar kamar tersebut.
Ratu Elena menatap Lily yang masih terduduk dilantai yang terlihat matanya menatap kebawah seperti orang bingung. Niat hati ingin menghancurkan Azzura, namun kenapa dia yang kena batunya.
Selir Inez pun tidak berani membela Lily lagi hanya bisa berdiri disampingnya dalam diam dan kebingungan.
“Lily, apa maksud semua ini?” Ucap Ratu Elena tenang.
Lily hanya diam dan kebingungan. “Tidak, Tidak Ibu Ratu, aku benar-benar dipukuli oleh oleh Azzura, dia sudah menghajar ku. Aku berkata jujur.” Lily mulai menangis dan tatapannya beralih ke arah Azzura.
“Kau, kau pasti sudah membayar para pelayan mu untuk berbalik memfitnah ku. Benar bukan!” teriaknya dengan kemarahan yang memuncak.
Sedangkan Azzura masih tetap diam tanpa menjawab apapun.
__ADS_1