The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 99


__ADS_3

Laki-laki tadi terdiam dan tidak menjawab. Azzura duduk berjongkok dihadapannya. “Tuhan memberikan hadiah terindah pada mu yang harus kau jaga dengan kasih sayang dan juga nyawa mu,” Azzura tersenyum.


Kecantikan Putri Mahkota itu membuat hati sang lelaki paruh baya itu luluh dan semakin menangis sedih.


“Maaf, maafkan Ayah nak,” dengan memeluk erat bayinya lelaki tadi menyesali segala tindakan dan umpatan karena mengetahui istrinya meninggal.


“Relakan Istrimu, dia telah berjuang untuk anak kalian, hargai usahanya dan urus pemakaman yang layak untuk nya,” Ucap Azzura kembali berdiri.


Lelaki tadi dibantu warga yang lain serta para pengawal untuk mengurus pemakaman Istrinya.


Saat akan pergi lelaki itu berbalik dan menatap Azzura, dia menunduk memberi hormat.


"Terima Kasih. " Ucapnya tulus dan dibalas senyuman oleh Azzura.


Andres dan Vargas menghampiri Azzura. “Kau memang bidadari yang turun dari langit untuk melindungi dan menolong kami semua Tuan Putri,” Puji Vargas dengan tiba-tiba.


Azzura hanya tersenyum tipis. “Apakah kekacauan ini sangat parah dari sebelumnya?”


“Tidak, sebelum badai kedua datang satu minggu yang lalu.” Jawab Andres dengan sedih.


“Apa? Ada badai lagi?” Azzura terkejut.


“Benar. Sehari sebelum kami tiba, sebelumnya lebih parah dari ini.” Jelas Andres lagi.


“Aku ingin bicara dengan kalian semua, apakah ada tempat yang sedikit nyaman untuk mengobrol?” Tanya Azzura.


“Tentu, kami biasa mendiskusikan segala hal di bawah Pohon besar itu.” Jawab Vargas dengan menunjuk Pohon rindang di belakang mereka.


Mereka semua berjalan menuju Pohon besar tadi, disana sudah ada bangku Panjang dan meja darurat yang dibuat Pengawal Timur beberapa hari yang lalu.


“Kita harus membenahi semuanya Pangeran,” Ucap Azzura dengan khawatir dan membuka perbincangan.


“Maksud anda?”


“Jika ada badai kedua, kemungkinan akan anda badai susulan lagi. Kita tidak bisa lagi mendirikan tenda disini, ini terlalu dekat dengan pantai.”


Mereka semua berfikir. “Aku pernah melihat lapangan yang cukup luas di tengah hutan, kemungkinan cukup untuk para pengungsi,” Jawab Teyo yang sudah sering berkeliling setiap daerah.

__ADS_1


“Aku tahu tempat itu, kita bisa mengecek dahulu dan melihat layak atau tidak untuk dijadikan tempat para pengungsi.” Setuju Andres.


Setelah berdiskusi mereka semua sepakat dan kembali pada kesibukan masing-masing. Azzura juga kembali pada rombongannya.


Selama perjalanan dia banyak melihat anak kecil berkeliaran dan ada beberapa orang tua yang juga terluka.


“Keadaan disini sungguh mengerikan, kita harus kembali memulihkan mereka secepatnya.” Pikir Azzura.


Setelah pengecekan tempat baru, Andres dan Teyo kembali lalu memberi tahu Azzura bahwa tempat sudah layak tinggal.


Semua orang dikumpulkan dan di koordinir untuk memindahkan para pengungsi dan barang-barang. “ Aku meminta perhatian kalian semua. Kita akan memindahkan tempat pengungsian ke bagian dalam hutan yang lebih aman.” Ucap Azzura.


“Aku harap kalian bisa mengikuti arahan para Pangeran dan yang lain.” Ucap Azzura.


“Siapa anda?” Tanya salah satu dari mereka yang tidak mengenali Azzura.


“Maaf kalian mungkin tudak mengenali ku, perkenalkan aku Putri dari Raja Barat yaitu Raja Cariann nama ku Azzura.” Ucap Azzura dengan lembut.


“Putri mahkota, itu Putri Mahkota yang cantik.” Teriak senang salah satu dari mereka. Terdengar riuh ramai dari para pengungsi, karena Azzura ikut datang membantu mereka.


“Sudah tenang lah, aku hanya meminta kalian untuk bisa bekerja sama dengan lain.” Tegas Azzura.


“Aku minta dahulukan anak-anak dan orang tua, apalagi mereka yang luka, dengan dibantu para perawat, Wanita dewasa yang sehat. Untuk laki-laki bantu mengangkut barang-barang. “ Begitulah arahan Azzura pada semua orang dan mereka mengikutinya dengan tertib.


Dengan tersenyum Azzura kembali ketenda dan berganti pakaian yang lebih membuatnya mudah bergerak.


“Apakah anda ingin ikut membantu mereka pindah Tuan Putri?” Tanya Lola.


“Tentu, lantas untuk apa aku disini?” jawab Azzura singkat.


Setelah selesai berganti pakaian Azzura langsung membawa tas berisikan sedikit makanan dan obat-obatan sederhana.


Mereka semua sibuk memindahkan barang sementara Azzura mulai mengumpulkan orang tua dan anak-anak.


“Apakah masih ada yang tertinggal?” Tanya Azzura dengan melihat sekeliling.


“Aku rasa tidak Tuan Putri,” Jawab yang lain.

__ADS_1


“Perjalanan tidak terlalu jauh, aku mohon kalian tertib dan bersabar.” Teriak Azzura.


Semua orang mulai berjalan menembus pepohonan yang sudah dipangkas terlebih dahulu oleh para laki-laki.


Perpindahan mereka semua berjalan lancar, bahkan sebelum malam mereka hampir selesai membuat tenda darurat dan tenda-tenda besar.


“Kita kekurangan tenda Tuan Putri,” Ucap Teyo.


“Bukan hanya tenda, makanan dan obat-obatan juga.” Ucap Azzura yang sudah duduk dalam tendanya karena kelelahan.


Sejak siang mereka sudah sibuk tanpa jeda, bahkan untuk makan saja mereka sekedarnya karena memburu supaya semua orang cepat dipindahkan.


“Apa kau mencatat semua pengungsi?” Tanya Azzura.


“Sudah dicatat semua Tuan Putri dan sudah di cek tidak ada yang kurang.” Jawab Anita.


Azzura menghela nafas lega dan merasa ini pekerjaan yang sangat berat. “Aku harus bertemu dengan yang lain.” ucap Azzura seraya berdiri.


"Lebih baik anda beristirahat dulu Tuan Putri," Tawar Anita.


"Jika selesai lebih cepat maka akan lebih baik. " Singkat Azzura dan berlalu pergi.


Teyo dan Anita hanya saling pandang dan menghilang nafas.


Setelah makan malam masih banyak yang sibuk memperbaiki tenda dan hilir mudik orang-orang. “Bagaimana keadaannya?” tanya Azzura pada Vargas.


“Semua terkendali, bahkan keadaan mereka jauh lebih baik dari kemarin.” Jawab Vargas.


“Mungkin karena angin malam tidak terlalu kencang disini, dan tenda di buat senyaman mungkin.” Jawab Azzura.


“Kemungkinan seperti itu.” Vargas mengiyakan.


Semua sudah berkumpul di tengah lapangan yang ada api unggun besar. Mereka beristirahat sejenak seraya berbincang tentang keadaan pengungsi.


“Kita banyak memiliki kekurangan, aku ingin anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua dan lansia dipisahkan.” Ucap azzura.


“Mengapa?” Tanya Vargas bingung.

__ADS_1


“Aku ingin anak-anak yatim tidak memiliki trauma ketika mereka melihat keakraban anak-anak lain yang masih memiliki orang tua lengkap. Serta lansia membutuhkan perawatan ekstra dan tidak berkerumun dengan orang dewasa lainnya.” Azzura menjelaskan.


Semua mengangguk setuju. “Lantas kita harus bagaimana?”


__ADS_2