The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 38


__ADS_3

Felix dan Pangeran Andres telah selesai bicara dan kembali mendekati Azzura. “Apa kau sudah selesai Tuan Putri?” Tanya Felix.


Azzura tersenyum dan menjauh dari kuda milik Andres. “Kuda mu sangat pintar Pangeran.” Puji Azzura yang masih tersenyum lebar.


“Apa kau menyukainya Tuan Putri?” Pangeran Andres bertanya karena melihat Azzura yang sangat Bahagia dekat dengan kudanya.


“Ya, dia pintar dan penurut.” Jawab Azzura.


“Apa kau menginginkannya?” Tawar Andres.


Azzura terkejut dan menatap Kuda itu, namun dia langsung menggeleng dengan lembut. “Tidak, dia sudah memiliki pemilik yang tepat.” Dengan tersenyum dia menatap Andres.


Andres terkesan dengan jawaban Azzura. “Jika kau mau aku akan meminjamkannya beberapa hari pada mu?” masih mencoba menawarkan.


Azzura mendekati kuda itu dan bertanya padanya. “Apa kau mau bermain dengan ku sebentar?” tanya Azzura dan kuda itu langsung mengangguk setuju seperti mengerti dengan ucapan Azzura.


Azzura langsung memeluknya dan mengelus kepalanya. “Kau sangat pintar, baiklah besok kita akan bermain lagi.” Ajaknya kepada Kuda tersebut.


Azzura mundur. “Apa kalian sudah selesai?” Tanya nya.


“Sudah, kita bisa pergi sekarang.” Jawab Felix.


“Terima kasih Pangeran telah mengajak ku berkuda.” Sopan Azzura.


“Ini adalah sebuah kehormatan Tuan Putri,” Andres membalas hormat Azzura.


Mereka berdua pergi meninggalkan lapangan berkuda. Ternyata sejak tadi Vargas memperhatikan interaksi kakaknya dengan Azzura. Dia sedikit cemburu, karena Azzura bisa bersikap baik pada kakaknya sedangkan pada dirinya selalu acuh.


Jelas dia sangat menyukai Azzura, tapi kenapa kakaknya seperti ingin mendekati Azzura juga.


“Aku tidak akan membiarkan mu mendapatnya kak. Azzura hanya milik ku.” Dengan mengepalkan tangan dan meninju pelan tembok yang menutupinya, Vargas marah dan kecewa pada kakaknya.


Azzura dan Felix berbincang selama perjalan kembali kedalam Kastil. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Azzura penasaran.


“Hal yang ingin sekali kau ketahui.” Ucap Felix.

__ADS_1


“Masalah sihir itu?”


“Pangeran Andres dan aku pernah berbincang mengenai sihir, tidak banyak hanya perbincangan singkat. Namun aku tahu jika pengetahuannya mengenai sihir lebih dalam dari pada diri ku.”


“Mengapa kau berfikir seperti itu Paman?” Azzura heran.


“Kerajaan Timur terkenal dengan banyaknya orang yang memiliki Sihir, dari sihir baik dan jahat. Semenjak Ratu mereka terkena sihir Voodoo yang membuatnya sakit selama bertahun-tahun, menjadi kan kerajaan Timur memberlakukan peraturan ketat pada orang-orang yang memiliki kekuatan sihir.” Jelas Felix.


“Dan itu juga yang membuat Kerajaan barat menentang siapa pun menggunakan Sihir dalam lingkungan kerajaan kita.” Tegas Felix lagi.


Azzura mendengarkan itu hanya mengangguk-angguk saja. Diingatan Azzura dulu, memang tidak ada yang melakukan sihir secara terang-terangan dikerajaan Barat. Namun entah mengapa banyak kejadian aneh disekitar nya yang tidak bisa dijelaskan secara logika.


Seperti saat terakhir dia dijebak dengan Pamannya ini. Azzura dikirimi surat yang entah dari mana mengatas namakan sang Paman memintanya untuk bertemu Namun saat membaca surat itu kepalanya terasa pusing dan Ketika tersadar dia sudah dalam pelukan Pamannya.


Saat mereka dipenjara, sang Paman mengatakan dia seperti bertemu dengan seseorang dan langsung lupa akan semuanya sampai mereka berdua di tangkap oleh para penjaga dan sang Raja sendiri.


Jika mengingat itu, kewaspadaan Azzura meningkat serratus persen. “Apakah Sihir bisa dipakai dimana saja dengan seenaknya dan sembarangan Paman?” Tanyanya tiba-tiba saat mereka hampeir sampai didepan kamar Azzura.


“Secara teknis tidak. Setahu ku, jika kau mau menyihir seseorang. Orang yang kau sihir harus terkena asap dupa khusus.”


“Ya, tapi itu juga dalam beberapa kasus, tapi orang yang berpendirian kuat tidak akan mudah terkena sihir. Ada beberapa cara yang lain juga.” Jelas Felix lagi.


“Sudahlah Azzura, jagan terlalu kau fikirkan. Jika Selir Luisa terbukti menggunakan sihir jahat pada Ayah mu. Aku yang akan menghukumnya.” Geram Felix.


Azzura hanya tersenyum melihat kekesalan sang Paman. Akhirnya mereka berpisah Azzura pun memilih masuk kekamarnya.


Dia sangat memikirkan ucapan Pamannya tadi. Jika dipikie-pikir lagi, dulu dia tidak bisa melawan ataupun membantah semua ucapan Selir Luisa. Bahkan semenjak Ibunya meninggal Selir Luisa semakin menjadi-jadi.


“Dupa?” Batin Azzura mencoba berfikir keras.


Seingatnya Lola pernah mengatakan ada pelayan yang memberikan wewangian yang diletakkan dikamarnya dari seorang pendeta setelah Sang Ibu meninggal, untuk membantu Azzura menjadi lebih tenang.


Memang saat Ibunya meninggal Azzura menjadi seperti orang gila, menangis meraung-raung bahkan berteriak menyalahkan semua orang termasuk Sang Ayah yang tidak pernah memperhatikan Ibunya sama sekali.


Azzura mencoba mengingat bentuk wewangian itu, seingatnya tidak berbentuk dupa, tidak lama. “Itu dia,” Azzura memukul meja dengan pelan karena mengingat bentuk wewangian tersebut.

__ADS_1


“Dasar Wanita picik, lihat saja nanti jika aku menemukan benda itu. Maka habislah kau.” Batin Azzura kesal.


Karena sudah Sore, pelayan datang kekamarnya untuk menyiapkan air hangat untuk Azzura membesihkan diri.


"Tuan Putri Air berendamnya sudah siap,” Ucap Anita.


Azzura berdiri dan langsung kekamar mandi, karena tadi dia berkuda dan banyak terkena debu. Tubuhnya terasa sangat lengket.


Hari-hari berlalu dengan tenang, karena Raja dan Ratu sangat sibuk jadi tidak banyak terlihat di Kerajaan. Para Pangeran pun sudah Kembali ke Kerajaan mereka masing-masing.


Azzura masih sering bertemu dengan Pamannya dan itu semakin membuat desas-desus yang tidak enak didengar. Selain karena Felix masih sangat muda dan belum menikah. Sedangkan Azzura yang seorang Putri Mahkota, maka kedekatan mereka menjadi hal tidak wajar.


Ana yang sudah mulai terbiasa dengan Azzura menjadi sering mengobrol dengannya, meski hanya pertanyaan-pertanyaan biasa. Namun itu membuat Ana nyaman melayani Azzura.


Berbeda dengan Anita yang tetap bersikap dingin pada Azzura, dia tidak mau mendekat dengannya. Dan juga dia merasa Azzura terlalu angkuh.


Azzura yang sudah masuk kekamarnya sehabis makan malam, membaca buku favoritnya sebelum tidur. Ana yang bertugas untuk menyiapkan baju tidurnya datang dengan wajah bingung.


Dia bersikap seperti ingin bertanya kepada Azzura namun ragu, dia selalu memperhatikannya dan membuat Azzura tidak nyaman.


“Ana hentikan, ada apa?” kesal Azzura yang terus diperhatikan, membuat Ana terkejut.


Dia langsung berlutut didepan Azzura. “Maaf Tuan Putri, aku tidak bermaksud membuat anda tidak nyaman.” Jelasnya sedikit ketakutan.


Azzura menutup bukunya dan menatap wajah bulat Ana itu. “Ada yang ingin kau sampaikan?” ucap Azzura langsung.


Ana ragu, dia memainkan jarinya dengan sedikit takut dan melihat kiri dan kanan. Itu malah membuat Azzura semakin kesal.


“Anaa…” ucapnya dengan penekanan.


Ana langsung diam dan melihat wajah Azzura. “Aku…Aku,” Ragunya namun Azzura terus menatapnya dengan kesal.


“Aku me…ndapatkan kabar yang kurang baik tentang… anda Putri,” ucapnya dengan terbata-bata.


Mendengar itu Azzura membenarkan duduknya dan kembali membuka buku bacaannya. “Apa itu, katakanlah.” Dengan santai dia menanggapinya.

__ADS_1


__ADS_2